
Siang harinya, mereka berempat pergi untuk mengunjungi ibu Lastri sekaligus menitipkan Jennie dan Kafka disana. Setelah menempuh perjalanan selama hampir 5 jam, merekapun tiba di daerah asal Rena.
Sepanjang memasuki daerah tempat tinggal Rena, Jennie tak henti berkomentar betapa senangnya dia melihat pemandangan alam yang masih sangat asri, belum lagi udara yang sejuk menambah dinginnya suasana sore hari di daerah tersebut.
Sejujurnya, Jennie sangat merindukan kampung halamannya. Tapi dia sudah tidak punya siapa-siapa disana. Itu sebabnya, semenjak dia mendapatkan tugas di Amerika dan menikah dengan Deinard, Jennie sudah tidak pernah pulang ke Indonesia.
Namun biar bagaimanapun, Jennie tidak melupakan bahasa dan etika ketimuran yang berlaku di negara ini. Begitu sampai di depan sebuah rumah sederhana namun begitu nyaman, Jennie tak ragu lagi untuk menggendong Kafka turun terlebih dulu tanpa menunggu Roby dan Rena.
Saat mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumahnya, Bu Lastri segera membuka pintu dengan semangat. Karena sebelum berangkat, Rena sudah mengabari sang ibu bahwa mereka akan kesana. Bu Lastri sangat senang, bahkan dia sampai belanja habis-habisan untuk membeli banyak sekali bahan makanan.
Dari yang Lastri dengar, Jennie sudah sangat lama tinggal di Amerika. Itu sebabnya, Lastri begitu kepayahan memilih apa yang akan dia hidangkan untuk besan dan menantu bulenya itu. Lastri takut Jennie tidak menyukai apa yang dia hidangkan dan membuat Jennie tidak betah berada disana.
"Assalamualaikum." ucap mereka serempak.
"Walaikumsalam, Masya Allah mata saya kok gak keliatan ya." ucap Lastri begitu membuka pintu.
"Gak keliatan gimana Bu?" tanya Rena panik.
"Abis ini yang dateng bening-bening banget, ibu sampai silau. Untung aja ini malam, kalau siang ibu harus pakai kacamata hitam ini." jawab Lastri jujur.
"Ya Allah ibu, kirain kenapa. Bikin dag dig dug." Rena menghela nafas lega.
"Der Daia." timpal Lastri.
Jennie sontak tertawa terbahak-bahak, sedangkan Roby tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar celotehan ibu mertuanya.
"Rob, mertua kamu lucu juga ya. Demen deh mommy." ucap Jennie.
"Aih, ini si ibu bule bisa bahasa Indonesia ya!" Lastri terkejut mendengar Jennie bicara bahasa Indonesia dengan lancar.
Jennie semakin kencang tertawa melihat respon ibu Lastri, hingga membuat Kafka menangis karena terkejut dengan suara menggelegar milik Jennie.
"Mommy itu orang Indonesia bu, cuma lama tinggal disana." timpal Roby seraya mencium punggung tangan Lastri.
"Oh... Ya udah atuh, ayu masuk." ajak Lastri mendahului mereka dan disusul yang lainnya.
"Duduk atuh besan bule."
"Ah, jangan dibawa apa bulenya. Saya ini bukan orang bule, cuma kebetulan ayahnya Roby yang bule " tolak Jennie yang tidak mau dipanggil bule.
"Tapi besan ini mah, bening banget. Ibarat kaca mah, sampai mengkilap begitu. Kalau Resti bilang mah,,, apa sih itu?,,,, em boling ya mukanya."
__ADS_1
"Glowing Bu." ralat Rena. Roby dan Jennie hanya terkikik geli.
"Resti mana Bu?" tanya Rena yang tidak melihat keberadaan adiknya yang cerewet itu.
"Resti tadi pamit ada tugas kuliah sama temannya, sekalian mau cari buku katanya.”
" Jangan terlalu dibebaskan ya Bu, bahaya. Resti tu perempuan, Rena gak mau sampai terjadi kaya..." Rena menggntungkan ucapannya.
Roby yang merasa bersalah langsung meraih tubuh istrinya yang terlihat menundukkan wajahnya "Maaf ya, atas sikapku dulu."
Jennie yang tidak mau merusak suasana, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Udah ah, jangan pake momen tangisan gini. Mom udah laper nih, jadi gak kuat nangis."
"Duh sampai lupa, besan bule kelaparan. Ya udah atuh makan malam dulu, kalian pasti lapar kan. Tapi maaf ya kalau menunya cuma masakan kampung."
"Jangan salah loh bu, kedai punya Rena yang di kota L, itu laris manis karena masakan daerah loh." ucap Roby menjelaskan.
"Masa sih kok ibu gak tau kalau kamu punya kedai disana!" tatap Lastri tajam pada Rena.
"Ceritanya panjang Bu, Rena lupa kasih tau ibu."
"Ya udah, sekarang kalian makan dulu. Biar Kafka sama ibu." Lastri mengambil alih Kafka dari tangan Jennie.
"Besan gak ikut makan?" tanya Jennie.
Di tempat Lain
Di sebuah toko buku, nampak beberapa orang anak muda tengah bersenda gurau sambil memilih- buku.
"Guys, aku pulang dulu ya. Takut ibuku nunggu." ucap Resti sambil melihat jam yang melingkar di tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam.
"Baru juga jam 8 Res, aku belum ketemu nih bukunya." jawab salah satu teman Resti.
"Tapi ini udah jam 8, pasti ibu khawatir nunggu aku. Lagian tadi siang, kakak aku telpon mau datang dari Jakarta."
"Ya udah deh, kamu pulang duluan aja."
"Ok, aku duluan ya. Tolong bilangin yang lain ya."
"Iya, hati-hati ya."
Resti berjalan ke arah luar toko buku tersebut, dia hendak memesan taksi online. Namun sayangnya sudah beberapa menit, dia masih belum bisa mendapatkan taksi yang akan dia pesan.
__ADS_1
sepuluh menit kemudian, Resti baru bisa mendapatkan taksi yang dipesan. Di saat sedang menunggu taksi, hujan turun dengan tiba-tiba. Resti terpaksa menepi ke pojok toko untuk menghindari air hujan.
Cuaca dingin, sepi dan gelap membuat Resti sedikit takut. Tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri.
"Hai, lagi nunggu apa?". Jemputan ya."
Resti tidak menanggapi ucapan pria tadi, dia terus memperhatikan jalan berharap taksi yang dia pesan segera tiba.
"Di tanya Kom diem aja sih!"
Resti masih bungkam, dia sedikit bergeser untuk menghindari pria tadi. Sayangnya hujan semakin bertambah besar, sedangkan dia sudah semakin terpojok.
"Cantik-cantik kok bisu, tapi gak papa sih. Kamu mau saya temenin gak?" pria itu mendekat dan memegang dagu Resti.
"Heh!, jangan kurang ajar ya." bentak Resti seraya menepis tangan si pria.
"Gak usah malu, disini sepi kok. Kalau perlu kita cari tempat yang lain." pria tadi menarik tangan Resti.
Resti masih bergeming, sekuat tenaga dia menahan agar bisa menahan tarikan pria itu.
"Alah!, gak usah sok jual mahal. Kamu lagi nunggu pelanggan kamu kan."
"Jangan sembarangan, saya bukan cewek murahan." hardik Rena.
"Halah!!, j*lang sok suci." decih pria tadi.
Resti menampar pria tadi, dia sangat marah karena disebut sebagai wanita j*lang.
Pria itu marah karena Tak Resti berani menampar wajahnya, dia menarik tangan Resti dengan paksa hingga membuat Resti jalan hingga terseok-seok.
Resti mencoba berteriak, namun derasnya hujan menenggelamkan suaranya yang tidak seberapa itu.
Pria itu terus menarik Resti hingga ke tempat yang lebih sepi, saat tiba disana. Resti dihempaskan ke dinding dengan kasar.
Resti menampar sekali lagi wajah pria itu dan membuat si pria tadi bertambah murka, dia merobek paksa baju kemeja yang dipakai Resti.
"Siapapun, Tolooooong!!!"
......................
......................
__ADS_1
Next
👏👏👏