
Keesokan harinya, Rena sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah semakin membaik. Boy dengan setia menemani Rena bersiap untuk pulang ditemani dengan Leni.
Roby tidak ikut menjemput Rena, karena semalam dia sudah berpamitan dan mengatakan pada Rena bahwa dia tidak akan mengganggu hidup Rena lagi. Tapi dia sempat mengatakan kalau dia akan secara rutin bertemu dengan Kafka dan bila suatu hari nanti Roby punya kesempatan kedua, dia tidak akan pernah lagi melepaskan Rena.
Ada rasa sedih saat mendengar Roby akan pergi dan tidak akan mengganggu dirinya lagi, itu artinya dia dan Roby akan semakin menjauh. Tapi sisi lainnya, Rena bisa bernafas dengan lega, karena itu berarti dia juga tidak harus terus-menerus berpura-pura menjadi suami istri dengan Boy.
Rena takut bila terlalu lama bersandiwara, maka akan ada salah satu diantara mereka yang akan terluka nantinya. Boy terlalu baik untuk disakiti, dan Rena tidak menginginkan itu.
"Apa semua sudah rapi?" tanya Boy yang membuyarkan lamunan Rena.
"Eh,,, U... Udah." jawab Rena tergagap.
"Kamu mikirin apa?, mikirin Roby!" tanya Boy yang melihat Rena melamun sejak dia datang.
"Gak, aku cuma mikirin bahwa setelah ini kita akan kembali seperti semula." kilah Rena.
"Ya, kita memang akan kembali seperti semula. Tapi kamu m jangan khawatir, aku bakal tetap jaga kamu Ren." Boy mengusap kepala Rena lembut.
"Makasih Boy, kamu udah terlalu banyak bantu aku. Aku mohon sama kamu, sebagai sahabat dan sebagai adik." Rena menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya "Kamu gak usah temui aku lagi, aku gak mau sampai diantara kita ada yang tersakiti dan merasa dimanfaatkan."
"Tapi aku gak berpikir gitu Ren." sergah Boy.
"Aku tau Boy, tapi aku gak mau terus bergantung sama kamu Boy."
"Tapi Ren."
"Please Boy."
"Ya udah, kita ngomong lagi di rumah. Sekarang kita pulang dulu."
Boy mengalihkan pembicaraan.
"Leni mana?" tanya Rena yang tidak melihat Leni disana.
"Dia lagi tebus obat kamu di apotik."
"Oh."
"Sekarang kamu duduk." Boy mendorong kursi roda yang akan digunakan Rena.
"Iya, tapi Kafka."
"Biar Leni yang gendong. Kita tunggu sebentar lagi."
Tak selang lama, Leni datang dengan membawa sekantung obat untuk Rena di rumah, kemudian dia beranjak ke arah box bayi. Dimana disana Kafka sedang tertidur lelap sehabis menyusu. Leni menggendong Kafka dan berjalan mengikuti Boy yang mendorong kursi roda yang ditempati Rena.
"Ayo mbak." Leni sudah berdiri dibelakang mereka.
Setelah tiba di rumah, Boy langsung membantu Rena turun dari mobil. Awalnya Boy meminta Rena menggunakan kursi roda, tapi Rena menolak. Karena dia berpikir, dia bukan lumpuh, hanya butuh lebih banyak istirahat pasca melahirkan. Akhirnya Rena masuk kedalam rumah dengan berjalan kaki secara perlahan dan tetap di dampingi oleh Boy.
"Len,.Kafka taruh di boxnya aja. Biar kamu bisa istirahat." tawar Rena pada Leni.
__ADS_1
"Iya mbak, aku kebelakang dulu ya mbak."
Leni keluar meninggalkan Rena dan Boy disana, Rena duduk di pinggir ranjang dengan meluruskan kakinya.
"Makasih, mending kamu istirahat dulu gih. Aku tau kamu capek banget."
"Enggak, aku gak papa kok. Aku mau temenin kamu disini, takutnya kamu butuh sesuatu." Boy menolak tegas.
"Boy."
"Ya, kamu mau diambilin apa?"
"Enggak."
"Terus!"
"Aku cuma mau bilang sama kamu, jangan terlalu berharap banyak sama aku. Aku takut bikin kamu sakit hati, jadi sekali lagi aku mohon sama kamu. Kita harus jaga jarak dan menjalani hidup masing-masing." Rena menatap sendu pada Boy.
"Jujur, aku emang berharap banyak sama kamu. Tapi aku sadar diri, dan aku gak minta kamu buat terima perasaan aku. Aku cuma mau, kamu terima ketulusan dan perjuangan aku."
"Tapi Boy, aku gak pantes buat kamu perjuangin. Jadi Boy, jangan bersikap baik sama aku lebih dari ini. Aku takut gak bisa membalas semua kebaikan kamu yang tulus ini."
Boy menghela nafas panjang, dia tau Rena memang sangat keras kepala. Jadi akan percuma berdebat dengan Rena, jadi untuk saat ini Boy pasrah mengikuti kemauan Rena untuk menjauh dari dirinya.
"Ok, kalau mau kamu kaya gitu."
"Thanks Boy."
Keesokan harinya
Boy sudah memutuskan kembali ke ibu kota dan harus rela menjauhi Rena. Maka dari itu, Boy tidak menemui Rena dirumahnya, karena dia sudah berpamitan lewat ponsel tadi pagi.
Boy tidak mau, jika dia menemui Rena dirumahnya. Dia akan kembali goyah dan enggan melepaskan Rena lagi.
Saat ini dia sudah berada di bandara menunggu waktu keberangkatan, dia menghembuskan nafas berulang-ulang seraya mencoba untuk tenang.
...****************...
3 bulan kemudian
Roby kini telah kembali bekerja di RENS CORP atas permintaan langsung dari Morens, saat mengetahui bahwa Roby sudah kembali dari Amerika, Morens berpesan pada Asgar untuk meminta Roby menemuinya.
Sedangkan Asgar, dia tetap bekerja disana sebagai Sekertaris menggantikan posisi Rena juga atas permintaan Morens langsung.
"Roby, cepat dateng kesini." ucap Morens melalui sambungan telepon.
Seperti biasa, Morens kembali bertindak sesukanya bila bersama dengan Roby. Tak lama Roby datang sesuai dengan permintaan bossnya itu.
"Ada apa boss?"
Morens tidak menjawab, dia hanya merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya seraya tersenyum smirk.
__ADS_1
"Kita mabar kuy. ML dulu biar gak oleng." ajak Morens enteng.
Roby menarik nafas dalam-dalam seraya menahan amarah, bisa-bisanya boss gilanya ini mengajaknya untuk mabar, sedangkan dia itu tau bahwa pekerjaannya sangat menumpuk.
Sebelum Roby kembali, Asgar sedikit kewalahan karena harus menghandle 2 pekerjaan sekaligus. Karena itu, banyak berkas yang masih terbengkalai dan belum sempat dia kerjakan.
Saat Roby datang, Asgar bisa bernafas dengan lega. Karena tugas sang asisten akan dia limpahkan kembali pada Roby tapi itu berbanding terbalik dengan Roby yang cemberut. Baru saja dia turun gunung dan menapaki kakinya kembali setelah sekian lama bersemedi, dia langsung disuguhkan dengan banyaknya tumpukan berkas yang ada di mejanya.
"Apa gak ada tugas yang lebih konyol lagi boss?" tanya Roby setengah menyindir.
Dengan entengnya dan tanpa merasa bersalah, Morens malah menjawab "Ada, gimana kalau kita ke rumahku dan memandikan kesayangan Mora." Roby yang tidak tau apa yang dimaksud Morens, hanya mengangguk pasrah.
Roby berpikir, untuk anak perempuan seusia Mora yang berumur ±6 tahun. Pasti dia memiliki binatang peliharaan yang tidak jauh beda dengan yang lain, yaitu seperti kucing, kelinci, kura-kura atau hamster.
"Memangnya Mora punya peliharaan kucing berapa?" tanya Roby yakin dengan pemikirannya.
"Kucing!!."Morens menautkan alisnya bingung dengan ucapan Roby yang tiba-tiba membahas masalah kucing.
Sedangkan bila Mora tau, pasti sendal terbang langsung mendarat pada wajah Roby. Karena Mora memiliki phobia dengan seekor kucing.
" Iya, peliharaan kesayangan Mora pasti kucing kan, atau paling kura-kura iya kan."
"Emangnya kapan aku bilang itu kucing?"
"Em itu... Aku cuma filling boss, biasanya anak perempuan kan senang dengan salah satu diantara mereka.
" Hahahaha, jadi kamu pikir Mora memelihara kucing atau binatang sejenisnya. Kamu belum tau aja Mora Sekarang. " Morens menatap tajam Roby.
"Trus apa dong?" tanya Roby yang mulai penasaran.
"Yakin mau tau!"
"Iya."
''Yang bener!!!!"
"Heh bawel." umpat Roby jengah menanti apa yang dimaksud oleh Morens.
"Kesayangan Mora adalah, anak harimau Sumatera yang berusia 10 bulan." jelas Morens.
"APA?"
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Next
👏👏👏👏👏
__ADS_1