Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Dasar plan plin


__ADS_3

Assalamualaikum akak reader semua, maaf ya aku lama gak up. 3 hari kemarin si bungsu lagi kurang sehat, jadi agak rewel.


Niat hati ingin menulis, tapi boro-boro nulis. Mandi aja ala bebek, tau lah ya emak-emak kalau lagi kebagian yang kaya gini tuh. Ilang sebentar aja di cariin.


Eh malah curhat, kalau gitu aku tulis seadanya dulu ya. Soalnya idenya kemarin hilang gak keburu nulis.


Cekidot wadidaw wadaw.


👇👇👇


Sudah satu bulan ini, Boy tidak kelihatan batang kakinya. Jangankan datang, menghubungi saja tidak.


Semenjak Resti memberi tau kebenaran soal siapa dia sebenarnya dan hubungan apa antara dia dengan Roby dan Rena, Boy mendadak menghilang bak ditelan ikan paus seperti Pinokio.


Resti semakin yakin, ucapan Boy yang mengatakan bahwa Boy serius dengannya itu hanyalah hasrat sesaat, ataupun sebuah pelarian atas rasa sukanya pada Rena.


Hari ini, adalah hari terakhir dia menjalani ujian, dan esok dia dapat menikmati waktu liburan. Rencananya dia akan pergi ke luar kota untuk menenangkan pikiran dan menghilangkan semua tentang Boy.


"Assalamualaikum teh."


"Walaikumsalam neng, kumaha damang?" (walaikumsalam, gimana kabarnya?) jawab Rena di sebrang telpon.


"Sae." (Baik)


"Kunaon telpon ku teteh?" (Ada apa telpon teteh)


"Enggak ada apa-apa, aku cuma kangen aja sama teteh."


"Oh,,, kirain ada masalah apa. Sama teteh juga kangen, gimana ibu disana?"


"Alhamdulillah sehat."


"Kamu kalau kangen, main atuh kesini. Kamu kapan selesai ujian?"


"Ini udah selesai, besok aku udah mulai liburan kok."


"Nah bagus itu, kamu liburan disini sama ibu." tawar Rena semangat.


"Ibu gak mau kemana-mana katanya, soalnya lagi banyak orderan kue."


"Lah terus kamu gak jadi liburan?"


"Aku sih maunya gitu, mau bantu ibu aja yang lagi banyak orderan. Tapi, ibu suruh aku liburan aja. Dia bilang disini udah ada yang bantu kok."


"Ya udah atuh, kamu kesini aja."

__ADS_1


"Aku bosen teh ke Jakarta, aku lagi mau ke daerah lain. Kira-kira teteh ada saran gak?, kemana gitu yang asik!" tanya Resti mencari referensi daerah wisata.


Rena sejenak berpikir, dia juga tidak terlalu banyak tau daerah wisata. Karena dulu Rena sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dia dan keluarganya, apalagi disaat dia dan Roby sedang bermasalah. Rena harus pintar mencari uang dan mandiri hingga dia harus merantau ke daerah L dan membangun sebuah rumah makan yang masih berjalan hingga kini.


Mengingat hal itu, Rena jadi tau kemana Resti akan pergi berlibur.


"Gimana kalau ke daerah L aja!!" tawar Rena.


"Daerah L!!, tapi aku gak tau sama sekali daerah situ teh."


"Kamu tenang aja, di sana kamu liburan sekalian berkunjung ke rumah makan milik teteh."


"Oh ya, kak Roby kan pernah bilang kalau teteh punya usaha disana. Boleh tuh,,, tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi aku gak tau lokasinya dimana?"


"Oh,,, kirain kenapa?. Kamu tenang aja, nanti teteh pesenin tiket online buat kesana, nanti sampai di stasiun ada pegawai teteh yang akan jemput kamu.


Disana kamu gak bakal bosen deh, karena rumah makan teteh lokasinya dekat sama tempat wisata air terjun yang terkenal. Jadi kamu liburan bisa sambil belajar bisnis dari yang kecil dulu."


"Wahh, boleh-boleh. Aku mau teh, ternyata teteh tuh udah cantik, pinter, dan wawasannya luas. Pantes aja kak Roby bucin abis sama teteh." ucap Resti sumringah. "Termasuk Boy." batin Resti.


Resti terkekeh "Kok tau sih."


"Ya tau lah, masa kelakuan adik sendiri gak tau. Kalau soal ongkos, nanti teteh transfer ke kamu ya."


"Asiik, makasih teh." ucap Resti kegirangan.


"Iya."


"Emm, teh. Aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Resti ragu-ragu.


"Tanya apa?, kayanya serius banget nih."


"Teteh kenal sama cowok yang namanya Boy?"


"Boy!!"


"Iya Boy."


Rena terdiam, dia tak kunjung menjawab pertanyaan dari Resti. Mendengar nama Boy, mendadak perasaan bersalah yang sudah lama hilang kini muncul kembali.


"Teh!!, kok diam?" tanya Resti membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Eh,,, iya. Itu,,, teteh lagi coba mengingat siapa Boy." jawab Rena terbata.


Resti tau, bahwa sebenarnya Rena sedang berbohong. Ada sesuatu yang dia sembunyikan tentang Boy, dan itu semakin membuat Resti yakin kalau kakaknya itu adalah wanita yang sangat spesial untuk Boy.


Resti sudah memutuskan untuk menjauh dari Boy, dan ini adalah kesempatan bagus untuknya. Apalagi Boy juga sepertinya juga sudah mulai menjaga jarak darinya.


"Nah,, sekarang udah ingat belum?"


"Oh iya boy, itu temen teteh. Emang kamu kenal Boy dimana?"


"Oh,,.itu aku lagi ada pengajuan KKN yang ternyata punya kak Boy. Setelah dia baca biodata aku, dia tanya tentang hubungan aku sama teteh." kilah Resti.


"Ohhh." Rena hanya ber oh ria.


"Dia itu gimana sih teh orangnya?, soalnya aku dengar gosip kalau dia itu playboy dan cowok brengsek. Aku takut teh KKN disitu, kalau dia beneran kaya gitu." pancing Resti.


"Eh, mana ada kaya gitu. Boy itu orangnya baik banget, dia itu paling sopan sama cewek. Dia itu gak macem-macem, dan setia banget. Kalau dia udah suka sama satu cewek, dia akan berusaha sekeras mungkin dan bersedia berbuat apapun untuk cewek itu." jelas Rena yang tidak suka mendengar rumor omong kosong soal Boy.


"Iya, Boy itu memang baik. Dia juga udah berkali-kali nolong aku. Tapi apa yang teteh bilang tentang setia juga benar, tapi sayangnya itu bukan aku melainkan teteh. Asal teteh tau, sampai sekarang dia masih belum move on dari teteh." batin Resti pilu.


"Masa sih!!, eh tapi kok kayaknya teteh tau banget sih tentang dia. Emang dulu teteh sedekat apa sih sama dia?"


"Eh,,, i.. itu gak gitu. Setau yang teteh liat dia eman gitu, selama ini teteh juga gak pernah dengar hal jelek dari dia. Teteh gak sedekat yang kamu pikir kok." jawab Rena gugup.


"Oh,, gitu!!. Ya udah, aku pikirin lagi soal KKN disana."


"Ya udah, kamu jaga diri disana. Jangan lupa jaga kesehatan dan salam buat ibu ya."


"Iya, aku tutup dulu ya. Assalamualaikum." pamit Resti mengakhiri pembicaraan.


"Walaikumsalam." sambungan telepon terputus.


Resti memejamkan matanya, dia kini harus menentukan sika kedepan. Jangan lagi berharap pada cowok plan plin macam buaya muara model Boy.


Setelah memberi angin segar, langsung menghilang tanpa jejak seperti pendekar tanpa bayangan.


"Dasar cowok plin plan." umpat Resti kesal.


...----------------...


......................


Next


👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2