
Hai-hai im back, setelah sekian turunan akhirnya aku bisa lanjut tulis cerita ini. Alhamdulillah cerita yang lain sudah tamat, jadi bisa fokus tulis yang ini. Insya Allah.
Lanjut yuk
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Louise dan Jennie tiba di bandara Soekarno-Hatta, mereka memesan sebuah taxi untuk menuju ke alamat apartemen Roby.
Roby memang sengaja menjemputnya, karena dia yakin pasti akan ada yang mengikuti pergerakannya.
Setelah menempuh perjalanan selama 50 menit dari bandara, akhirnya mereka tiba di apartemen Roby. Jennie begitu antusias, karena dia sudah sangat tidak sabar ingin bertemu menantu dan juga cucunya.
Jennie pernah melihat wajah Rena dan Kafka dari foto yang dikirimkan oleh Roby beberapa waktu lalu.
Louise menekan bel saat mereka sudah tiba di depan unit apartemen Roby. Rena yang tengah memasak untuk makan siang segera mematikan kompornya dan melihat siapa yang datang.
Rena melihat dari layar yang tengah berdiri di depan pintu, nampak seorang pria dan wanita yang tidak dia kenal. Rena khawatir kalau mereka adalah orang jahat, karena Roby sudah berpesan padanya untuk tidak sembarangan membuka pintu pada tamu tak di kenal. Jadi Rena memutuskan untuk menghubungi Roby.
"Hallo."
"Rob." sapa Rena panik.
"Sayang kenapa?" tanya Roby yang mendengar suara kekhawatiran dari sang istri.
"Di depan ada 2 orang yang datang, dari tadi mereka terus saja menekan bel. Aku tidak kenal dan tidak pernah melihat mereka, aku takut Rob." ucap Rena.
"Sayang tenang, jangan buka pintunya sampai aku datang. Aku akan segera pulang untuk liat siapa yang datang, tetap sembunyi di tempat yang aman Ok." jelas Roby menenangkan Rena.
Roby segera meminta izin pada Morens dan segera melesat dengan cepat menuju ke rumah, dia begitu cemas takut sesuatu terjadi pada istri dan anaknya.
Roby melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera tiba di rumahnya. Beruntung jalan sedang lancar, jadi Roby hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai kesana.
Roby langsung berlari ke arah lift begitu dia tiba di area parkir, saat tiba di lantai unitnya, Roby melihat sepasang pria dan wanita paruh baya tengah berdiri di depan pintu apartemen miliknya.
Saat ingin melangkah, tiba-tiba ponselnya berdering dan bertuliskan nama Mom. Roby menjawab panggilan itu seraya matanya tak beralih mengamati kedua orang tadi.
"Hallo mom."
"Hallo Roby, kau dimana?"tanya Jennie.
" Aku sedang di luar, ada apa?"
"Dimana istrimu?, apa dia tidak di rumah!. Dari tadi mommy memencet bel, tapi tak ada satu orang pun yang membuka pintu." omel Jennie.
__ADS_1
"Dimana mommy sekarang?" tanya Roby yang mulai curiga pada orang yang berada di depan pintunya.
"Mom masih di depan apartemen milikmu bersama Louise."
"Astaga." Roby langsung memutuskan panggilan itu dan berjalan cepat menghampiri kedua orang yang tadi sempat dia curigai.
"Moms." sapa Roby begitu sudah berada di belakang mereka.
"Roby, kau dari mana?. Mana istrimu?" cecar Jennie yang sudah merasa pegal karena berdiri didepan pintu sedari tadi.
Roby hanya cengengesan menjawab pertanyaan Jennie. "Dia di dalam." sambil menekan kode apartemen.
"Tapi, dari tadi memencet bel tak ada yang membuka pintu. Apa terjadi sesuatu sama istrimu?" paniknya dan mulai berpikir yang aneh-aneh.
Jennie sedikit trauma setelah dia melihat secara langsung bagaimana Silvia pengasuhnya dibunuh dengan keji.
"Dia gak papa."
"Tapi Rob."
"Udah ayo masuk, ntar Roby ceritain." ajak Roby pada Jennie dan Louise.
Walaupun masih dilanda kebingungan, tapi Jennie tetap menuruti ucapan Roby dan mencoba untuk tenang.
Begitu masuk kedalam kamar Kafka, Roby melihat bayangan Rena yang bersembunyi di belakang ranjang milik Kafka. Seketika sebuah ide jahil melintas di otaknya, sudah lama dia tidak menjahili dan membuat marah istrinya. Sepertinya ini akan seru dan menjadi hiburan sesaat untuknya.
Roby mengambil sapu tangan yang berada di dalam laci, kemudian dia membelikan sapu tangan tersebut di area mulutnya untuk menyamarkan suaranya.
"Hello istri Roby. Dimana kau!"
Mendengar suara orang yang berada di dalam kamar itu, membuat Rena semakin ketakutan. Dia mendekap erat Kafka yang untungnya masih tertidur pulas.
"Roby kamu dimana?, tolong kami. Cepat pulanglah." batin Rena takut.
"Cantik keluarlah, kita bermain bersama." bermain diatas ranjang tentunya batin Roby.
Ingin sekali rasanya Roby tertawa terbahak-bahak melihat reaksi ketakutan dari Rena yang terlihat dari pantulan dinding.
"Ayolah sayang, aku sudah tidak tahan." ucap Roby semakin mendekat ke tempat dimana Rena bersembunyi.
Dan tiba-tiba
"BAA."
__ADS_1
"Aaaahhhhh." teriak Rena histeris dan pingsan seketika.
Roby dengan sigap menangkap tubuh Rena yang tiba-tiba pingsan dengan sebelah tangannya, dan tangan sebelahnya menangkap Kafka yang hampir terjatuh dari genggaman Rena.
Roby mendadak panik, dia tidak menyangka bahwa respon Rena akan seperti ini. Mendengar suara teriakan seseorang dari dalam kamar, Jennie dan Louise berlari ke arah teriakan tersebut.
Disana mereka melihat seseorang yang memakai penutup wajah tengah memeluk Rena dan Kafka secara bersamaan. Louise dengan sigap langsung mengarahkan pistolnya ke arah orang tersebut.
"Siapa kau?, cepat lepaskan mereka. Atau aku tidak akan segan-segan menembak kepalamu." ucap Louise mengancam orang itu.
"Hei, calm down. Ini aku." jawab Roby yang mulai cemas, dia khawatir Louise benar-benar akan menembaknya.
"Aku siapa?, kami gak kenal kamu. Cepat katakan mau apa kamu?, jangan coba-coba menyakiti menantu dan cucuku." cecar Jennie yakin bahwa perempuan dan bayi itu adalah cucunya.
"Bagaimana mungkin aku mau menyakiti istri dan anakku sendiri, aku Roby mom."
"Jangan bercanda." jawab Jennie ragu.
Sebenarnya dia juga merasa bahwa pakaian yang dipakai pria itu seperti pakaian yang dipakai Roby tadi. Tapi dimana Roby sekarang?, tadi dia masuk namun sekarang tak keliatan Batang kakinya. Kalau benar ini Roby, kenapa dia menutup wajahnya segala.
"Coba mom buka penutup wajahku."
Jennie hendak melangkah namun ditahan oleh Louise.
"Tunggu!!, kita gak boleh gegabah. Siapa tau ini jebakan, biar aku saja yang kesana."
"Tapi Louise."
"Tenanglah, kamu tunggu disini."
Louise perlahan-lahan mendekati pria itu, dia harus tetap waspada pada apa yang akan terjadi nanti.
"Uncle cepatlah, tanganku sudah lelah menahan mereka." pinta Roby karena dia merasa tangannya sudah mulai terasa pegal menahan Rena dan Kafka dengan posisi yang tidak tepat.
Begitu tiba dihadapan pria itu, Louise perlahan menyentuh sapu tangan yang menutupi wajahnya. Begitu dibuka.
"ROBY!!" ucap Jennie dan Louise bersamaan.
...----------------...
...----------------...
Next
__ADS_1
👏👏👏