Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Hari yang aneh!!


__ADS_3

"Neng, hari ini kamu ada kelas gak?" tanya Rena pada Resti setelah usai sarapan pagi bersama.


"Gak teh. Emang kenapa?" jawabnya sambil merapikan meja makan.


"Teteh mau ke pasar beli oleh-oleh buat dibawa ke Jakarta."


"Sama ibu!!"


"Sama ibu, sama mommy juga."


"Dianter kak Roby?"


"Iya, kamu mau ikut gak?"


"Gak ah, mending aku bobo manis untuk menambah aura kecantikan wajah aku yang paripurna ini. Mumpung sendirian, jadi aku bisa bobo cantik dengan tenang."


"Aura apaan?, yang ada kamu mah aur auran alias berantakan." cibir Rena.


"Ih, boleh sih. Teteh iri kan sama aku." jawabnya seraya mengibaskan rambutnya ke kanan ke kiri.


"Eh,, eh,, eh,, eh.. Jangan kibas-kibas rambut disini, kecoanya pada keluar. Lagian ngapain ya teteh iri sama kamu, sorry. Teteh udah laku kali, bule lagi. Mirip siapa kamu bilang?, Orlando Bloom kan!!" Rena mundur seraya menghindari kibasan rambut Resti.


"Sombong!!, paling juga kak Roby mau sama teteh karena lagi khilaf aja. Atau gak, waktu liat teteh. Kak Roby lagi sakit mata." cibir Resti.


"Ih, boleh sih. Iri ya!!!"


"Ih teteh, awas ya. Aku juga bisa kok dapetin bule kaya kak Roby."


"Iya bule, bulepotan."


"Teteh!!!" rengek Resti manja.


"Apa sih, ribut banget pagi-pagi." timpal bu Lastri dari arah ruang tamu. Mendengar suara kakak beradik itu, membuat Lastri penasaran apa yang diributkan antara mereka berdua.


"Ini Bu, si teteh." adu manja Resti.


"Kenapa teteh?"


"Mentang-mentang punya laki kakk Roby yang bule, aku di hina- hina kaya anak tiri." ujarnya sambil bergelayut manja di lengan sang ibu.


"Eh ngaco!!, mana ada ngehina." protes Rena yang tidak terima dengan ucapan Resti.


"Lah itu tadi bilang bulepotan."


"Kan yang bule alias bulepotan cowok kamu, bukan kamu."


"Emang kamu punya cowok bule?, kaya Roby gitu!!" tanya Bu Lastri serius.


"Belum sih." jawabnya menunduk.


"Lah kalo belum, kenapa mesti marah?. Teteh kamu bener, paling kamu dapetnya bulepotan." timpal bu Lastri enteng.

__ADS_1


Resti menghentak-hentakan kakinya sebal "Ahhh, ibu. Ibu sama teteh sama aja. Dasar emak sama anak." gerutu Resti seraya berlalu menuju ke kamarnya.


"Lah!!!, emang iya." ucap Rena dan Bu Lastri bersama diiringi gelak tawa. Sedangkan Roby dan Jenny yang menyaksikan perdebatan mereka, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Sejam kemudian, mereka semua kecuali Resti pergi menuju ke sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh khas daerah S. Karena rencananya lusa Roby dan keluarga akan kembali ke Jakarta.


Akhirnya Resti bisa terbebas dari gangguan keusilan ibu dan kakaknya, juga terbebas dari suara berisik celotehan Kafka yang tengah aktif-aktifnya.


Resti merebahkan diri di ranjang empuk miliknya seraya asyik bersosmed ria bersama teman kampusnya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu depan. Dengan malas Resti berjalan untuk melihat siapakah gerangan yang datang ke rumahnya.


Resti membuka pintu, dan alangkah terkejutnya saat tau siapa yang sedang berdiri di depan pintu tersebut. Resti spontan ingin menutup kembali pintu itu, namun dia kalah cepat oleh si tamu tak di kandung.


"Tunggu." ucap tamu tersebut sambil menahan pintu yang akan ditutup oleh Resti


"Mau apa kamu?" hardik Resti seraya beringsut mundur.


"Aku mau ngomong sama kamu."


"Ngomong apa lagi?, kita udah gak ada urusan."


"Aku mau minta maaf."


"Gak perlu minta maaf, sekarang kamu pergi dari sini." usir Resti.


"Aku tau aku salah, aku khilaf Res. Please maafin aku."


"Dengar ya Jagat, aku udah gak percaya lagi sama kamu. Aku udah kecewa sama sifat asli kamu. Sekarang aku mohon, kamu pergi dari sini dan gak usah ganggu aku lagi."


"Enggak Res, aku benar-benar sayang dan peduli sama kamu. Gak tau kenapa?, kemarin aku bisa berbuat begitu sama kamu, aku benar-benar khilaf. Please, maafin aku."


"Tapi Res.."


"Pergi gak!!, kalau gak mau pergi aku bakal teriak. Biar kamu di keroyok sama warga." ancam Resti yang kesal dengan sikap keras kepala Jagat.


"Ok, ok. Aku pergi, tapi besok aku bakal kesini lagi."


"Terserah." Resti bersiap untuk menutup pintu.


"Tunggu."


"Apa lagi?"


"Ini ponsel kamu." Jagat memberikan ponsel Resti yang kemarin dia sembunyikan.


"Kok bisa ada sama kamu?"


"I...itu aku."


"Udah, gak usah di jelasin. Sekarang cepat pergi." Resti merampas ponselnya yang ada di tangan Jagat, lalu menutup pintu dengan kasar.


Setelah itu, dia kembali menuju ke kamarnya. Baru saja dia akan merebahkan tubuhnya, suara ketukan pintu kembali terdengar.

__ADS_1


Dengan kesal dan jengkel, Resti kembali menuju ke pintu depan. Kali ini dia bertekad akan memarahi Jagat habis-habisan, dia sudah sangat kehabisan kesabaran menghadapi Jagat yang sangat keras kepala.


Resti menarik nafas panjang mempersiapkan diri untuk memberikan ceramah agama dan siraman rohani buat makhluk jadi-jadian yang satu ini, begitu dia membuka pintu.


"Mau apa lagi sih?, aku kan udah suruh kamu per..." ucapan Resti terhenti, setelah tau siapa yang datang kali ini.


"Kamu..."


"Apa begini caranya menyambut tamu?"


"Terus!!, saya harus bagaimana?. Harus jingkrak-jingkrak sambil tepuk tangan gitu."


"Boleh juga, coba sekarang saya mau liat."


"Gak janji deh."cibir Resti.


"Kamu kenapa sih?, aku baru dateng udah ngomel aja."


"Bukan urusan om, ngapain om kesini?" ketua Resti seraya memutar bola matanya.


"Galak banget sih."


"Udah deh om, sebenarnya om itu mau ngapain kesini?" Resti sudah mulai merasa kesal.


"Suruh masuk dulu kek, kasih minum apa gitu. Ada tamu sih disuruh berdiri aja di depan pintu."


Resti menghembuskan nafas panjang "Silahkan duduk om,.tapi di teras aja. Terus om mau minum apa?, racun serangga, sianida atau air keran!!"


"Gak usah deh kalau gitu mah."


"Nah makanya cepat, om itu ada perlu apa?" Resti sedikit melembut.


"Nah!!, gitu dong."ucap Boy dengan tersenyum smirk. Dia suka melihat wajah Resti yang sedang kesal, terlihat nampak lebih imut baginya.


"Ya udah, sekarang om bisa bilang kan ada apa?" Resti bicara dengan pelan namun dengan penekanan disertai dengan gigi yang bergemelatuk.


"Saya kesini cuma mau mastiin kalau kamu baik-baik saja."


"Saya... Saya baik-baik saja, kenapa om tanya begitu?"


"Tadi pas saya lewat jalan ini, saya gak sengaja liat cowok kamu yang brengsek itu dari rumah kamu. Saya takut dia bakal ngelakuin hal aneh lagi sama kamu, makanya saya putuskan buat mampir kesini."


"Oh,,, dia gak ngapa-ngapain saya. Lagian juga dia itu bukan cowok saya." jawab Resti malas.


"Kalau gitu cowok kamu siapa?"


"Hah!!!"


......................


......................

__ADS_1


Next


👏👏👏


__ADS_2