Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Siapakah yang berhak!!


__ADS_3

"Urusanku adalah ....... DIA!!" Ucap Roby lantang.


"Apa hubungannya dengan dia?" tanya Boy sambil melirik Rena sekilas.


Rena yang merasa suasana di dalam ruangan itu sudah mulai memanas, mencoba menghentikan mereka.


"Boy." ucap Rena lirih.


Boy yang mendengar panggilan dari Rena itu mengerti dengan apa yang dimaksud.


Boy hanya mengangkat tangannya sebelah kepada Rena, sebagai yang agar Rena tidak ikut campur dalam hal ini.


"Kau ingin tau apa hubungannya dengan ku?" jawab Roby kembali bertanya pada Boy dengan tatapan mengejek.


"Roby." kini Rena memanggil Roby.


Namun Roby hanya menoleh sesaat tanpa menjawab sepatah katapun.


"Iya jelas. Karena selama ini akulah yang bersama dia, dan sekarang tiba-tiba kamu datang sesuka hati diantara kami." jawab Boy menatap tajam Roby yang juga sama menatapnya tajam.


"Karena anak yang dikandung Rena adalah darah dagingku, biarpun kau adalah suaminya dan selama ini menjaganya. Tapi tetap saja aku adalah ayah biologis anak itu." jawab Roby lantang. Itulah yang dipikirkan Roby saat ini.


Boy terkejut dengan apa yang dikatakan Roby barusan, dia terkejut bukan karena Roby mengatakan kalau itu anaknya. Karena dia memang sudah yakin bahwa itu adalah anak Roby.


Yang membuat Boy tercengang adalah saat Roby mengatakan kalau dia adalah suami Rena. Boy lalu mengalihkan pandangannya pada Rena berusaha mencari jawaban atas itu semua, namun Rena hanya tertunduk tanpa bicara sepatah katapun.


"Ya kau memang berhak atas anak itu, karena kau adalah ayah biologisnya. Tapi kau tidak ada hak atas diri Rena, karena seperti yang kau bilang aku ini SUAMI Rena."


Entah kenapa Boy tersulut emosi saat Roby membahas tentang hak, dia sangat kesal pada Roby. Kemana saja dia selama beberapa bulan ini, lalu dengan seenaknya tiba-tiba datang dan membahas tentang hak dan siapa yang lebih berhak.


"Roby, bisakah kau keluar dulu. Aku ingin bicara dengan Boy." ucap Rena menengahi, sepertinya suasananya sudah semakin memanas. Bila tidak segera disudahi,.Rena yakin akan ada baku hantam nantinya.


"Tapi Ren." Roby tidak terima dengan keputusan Rena.


"Roby please."

__ADS_1


Roby berpikir, biar bagaimanapun mereka memang pantas bicara, karena mereka sekarang adalah suami istri. Sedangkan dia hanyalah berstatus orang di masa lalu, dengan berat hati Roby bersedia meninggalkan mereka berdua untuk bicara.


"Ok, tapi aku akan tetap disini sampai kamu melahirkan."


"Makasih." Rena mengangguk.


"Cih, sok perhatian." cibir Boy lirih, namun masih bisa didengar oleh semuanya.


Roby tidak menanggapi ucapan Boy, diapun keluar dari ruangan Rena sedikit menjauh. Namun Roby tidak menutup pintunya, dia sengaja melakukan itu agar dia dapat melihat apa saja yang mereka lakukan di dalam, meski dia tidak dapat mendengar percakapan mereka.


Roby merasa tidak suka dan cemburu melihat kedekatan antara Rena dan Boy, meski dia tau saat ini mereka suami istri. Namun yang sangat disesali oleh Roby adalah, kenapa harus dengan Boy.


Setelah Roby keluar, Boy menatap tajam Rena yang terlihat sedang menunduk. Dia.menunggu suatu penjelasan dari Rena, bagaimana Roby tiba-tiba ada disini. Namun setelah beberapa saat Rena masih saja terdiam, dan itu membuat Boy gemas dengan Rena.


"Ehemm, ayo duduk. Apa kamu gak capek?, dari tadi berdiri terus dengan perut buncit begitu!" Boy menarik lembut tangan Rena dan membawanya ke sofa.


Inilah yang disukai Rena dari Boy, Boy tetap bisa berkata lembut, meski Rena tau saat ini Boy sedang menahan emosi. Tapi sejauh Rena mengenal Boy, dia tidak pernah berkata kasar ataupun membentaknya.


"Jadi!, ada yang mau kamu omongin sekarang." Boy berkata lembut pada Rena, seraya merapihkan rambut Rena yang terlihat sedikit berantakan.


"Boy..... aku,,,,, minta maaf."


"Kenapa minta maaf?, kamu salah apa sama aku?"


"Aku bilang sama Roby, kalau kamu adalah suami aku. Sebenarnya, waktu itu aku cuma asal ngomong supaya Roby gak ganggu aku lagi begitu tau aku udah nikah. Eh,, tapi dia malah minta bukti, jadinya aku terpaksa telpon kamu waktu itu. Karena aku gak punya. teman cowok lagi selain kamu."Rena kembali tertunduk lesu.


"Oh, jadi waktu itu kamu telpon aku dengan panggilan sayang, karena Roby ada disini."


"Iya, maaf ya Boy. Aku udah lancang sebut kamu kaya gitu."Rena meremas kedua tangannya karena takut Boy akan marah padanya.


"Kenapa mesti minta maaf?, aku malah seneng kok kalau seandainya kamu benar-benar Panggil aku sayang."


Rena terkejut akan reaksi Boy, sontak dia mengangkat wajahnya dan melihat bahwa Boy sedang menatapnya intens sambil tersenyum.


"Boy."

__ADS_1


"Ren, aku udah pernah bilang kan sama kamu. Aku bersedia kok menikah sama kamu dan menggantikan posisi ayah dari anak yang kamu kandung, aku dengan senang hati menerima kalian dan menyayangi anak ini seperti anak kandungku sendiri." jelas Boy sambil sebelah tangannya mengusap lembut perut Rena.


"Boy, tapi aku gak pantes buat kamu. Kamu itu terlalu baik buat aku, kamu berhak dapat yang lebih dari aku. Aku yakin, banyak banget wanita diluar sana yang lebih cantik, lebih sexy, dan lebih pintar yang tergila-gila sama kamu."


Boy terkekeh "Ya iyalah pasti, secara kan aku ganteng, banyak duit iya, pinter jangan di tanya lagi. Tapi kalau hati aku mentoknya di kamu, aku bisa apa."


"Tapi kenapa harus aku Boy?"


"Aku juga gak tau, andai aja hati bisa memilih. Aku sih maunya jatuh hati sama Chatrine Wilson atau Selena Gomez gitu." gurau Boy.


"Ih, milihnya kok mereka sih. Ya jelaslah aku kalah jauh, ibaratnya mereka gajah aku cuma semut yang gak keliatan." timpal Rena.


"Jangan salah loh, biarpun semut itu kecil, tapi kalau dia sudah menggigit, seekor gajah pun akan merasakan panas dan sakit ditubuhnya. Kaya kamu, biarpun kamu itu bukan siapa-siapa, tapi bila hati aku memilih kamu, Tamara Bleszynski pun lewat."


"Makasih ya Boy."


"Gak perlu terima kasih, aku lakuin ini tulus kok. Walaupun aku tau, kamu masih cinta banget kan sama Roby. Aku terima kok, tapi aku akan terus perjuangin kamu. Sampai kamu luluh dan Benar-benar jatuh hati sama aku." Boy menarik Rena ke pelukannya.


"Tapi, aku minta kamu jangan terlalu berharap lebih sama aku. Aku takut kamu kecewa, karena aku gak bisa balas perasaan kamu. Karena saat ini, aku gak mau memikirkan tentang pasangan, aku mau fokus sama anak aku dulu." jawab Rena sambil bersandar di dada Boy. Dia merasa sangat nyaman dengan perlakuan Boy, namun dia juga bingung kenapa hatinya tidak bisa tersentuh dengan itu.


"Iya aku paham kok. Lagian aku udah biasa di kecewain."


Mereka pun saling berpelukan meluapkan perasaan mereka masing-masing seperti seorang saudara.


Namun semua yang mereka lakukan itu, dilihat jelas oleh Roby dari luar. Dia mengepalkan tangannya dan mengeratkan giginya, dia merasa tidak terima Boy dengan seenaknya memeluk Rena yang nota bene adalah miliknya.


......................


......................


......................


Jangan lupa suplemenya ya, buat othor yang masih kecambah ini biar bisa tumbuh jadi kacang.


Next

__ADS_1


👏👏👏👏👏


__ADS_2