Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Om Tampan


__ADS_3

"Munafik." Jagat mencium paksa bibir Resti seraya mencengkram kedua lengannya.


Resti menggelengkan kepalanya ke sana kemari menghindari ciuman Jagat, walaupun sebenarnya Resti menaruh sedikit rasa kepada Jagat. Tapi dia tidak mau diperlakukan dengan cara seperti ini, apalagi dengan status yang tidak jelas dan cara yang kasar.


Resti ingin Jagat mengungkapkan perasaan padanya dan berlaku sebagai pasangan kekasih pada umumnya. Jagat menarik kasar tangan Resti menuju ke arah sofa panjang, lalu dia melemparkan tubuh Resti.


Saat itu, Resti mengambil kesempatan dengan menendang senjata pamungkas milik Jagat hingga membuat Jagat tersungkur seraya memegangi senjatanya yang terasa berdenyut hebat.


Resti bangun dan menyambar tasnya yang berada di atas meja, dia membuka pintu dan berlari meninggalkan Jagat yang masih tersiksa di dalam. Saat di lift, dia mencari ponselnya hendak memesan sebuah taksi atau menelpon Roby yang masih berada disana selepas berbulan madu.


"Kemana sih ponselku?, perasaan disini deh." gerutu Resti yang kesal karena tidak menemukan ponselnya.


Pintu lift terbuka, Resti berjalan cepat keluar dari lift masih dengan mencari-cari ponselnya yang mungkin saja terselip di antara barang-barang yang lain. Hingga dia tidak fokus dan menabrak punggung seorang pria yang berada di depannya.


"Aduh." Resti berhenti seraya memegangi keningnya yang menabrak punggung kekar nan keras bak besi pembatas jalan.


"Bisa gak sih, jangan menghalangi jalan orang." omel Resti kemudian.


Orang yang dia tabrak lalu membalikkan tubuhnya menghadap kepadanya.


"Maaf, tadi anda bilang apa?" tanyanya sopan.


Resti berdecih "Saya bilang, anda jangan menghalangi jalan dan mengganggu saya yang akan lewat." Resti berkacak pinggang dan mendongak menatap lawan bicaranya yang memiliki postur lebih tinggi darinya.


"Apa saya gak salah dengar, harusnya saya yang bilang ke anda kalau jalan itu pakai mata. Saya sebesar ini masih ditabrak juga." ucap pria itu membenahi letak dasinya.


"Aduh please deh, dimana-mana jalan itu pakai kaki bukan pakai mata. Situ sekolahnya cuma sampai pagar ya, masa sih kaya gitu aja gak tau."


"Tunggu deh, kayanya saya pernah dengar dialog ini." ucap pria itu seraya berpikir "Ah, iya. Kamu juga kan yang pernah nabrak saya di mall waktu itu." pria itu berubah bicara dengan gaya tidak formal.


"Ih!!, kapan saya pernah ke.... Eh iya, kamu Om yang waktu ya, yang jasnya kena minuman saya kan."


"Iya. Kenapa saya harus ketemu lagi sih!!"


"Siapa juga yang mau ketemu sama Om lagi, eh... Tapi bentar deh, kok sekarang si Om Agam beda ya."Resti memegang dagunya.


" Kenapa?, lebih tampan ya!!"

__ADS_1


"Ya emang sih hari ini Om keliatan lebih muda dikit, tapi tuanya banyakan." Resti tertawa mendengar ucapannya sendiri.


"Kamu ya..."


"RESTI!!!" terdengar suara bentakan dan disusul dengan cengkraman tangan di pergelangan tangan Resti.


Resti menoleh dan terkejut, dia lupa kalau tadi dia sedang kabur dari Jagat. Karena bertemu dengan pria yang tak lain adalah Boy, Resti lupa pada tujuan awalnya.


"Lepas Jagat." Resti mencoba melepaskan tangannya yang dicekal Jagat.


"Ikut gua."


"Gak mau, gue gak mau ikut sama lu. Dasar brengsek."


"Heh!!, cewek gatel. Udah puas lu kuras harta gua, sekarang lu cari mangsa baru ya." dustanya seraya melirik kearah Boy yang masih berada disana menyaksikan mereka berdua.


"Jangan fitnah ya, gue gak pernah minta apapun dari lu. Lu yang selalu kasih gue dengan alasan rasa sayang."


"Alah!!!!, alasan. Sekarang ikut gua, kita pulang." Jagat menyeret paksa Resti yang masih dengan sekuat tenaga menahan.


"Gak mau, gue gak mau pulang sama cowok brengsek kaya lu. Lepasin gak, atau kalau gak gue teriak."


"Teriak aja, apa lu lupa kalau hotel ini punya gua. Gua bakal bilang ke security kalau lu itu maling yang ketangkep basah sama gua, lu tau kan, mereka pasti lebih percaya sama gua sebagai pemilik hotel ini." jawab Jagat lirih setengah berbisik.


"Sialan!!, apa sih mau lu sebenarnya?" tanya Resti akhirnya saat mereka sudah berada di area parkir.


"Gak susah kok, puasin gua malam ini Ok." Jagat menyeringai.


"Gue yakin, cowok kaya lu itu pasti banyak cewek yang deketin kan. Kenapa gak lu suruh salah satu dari mereka buat puasin lu, atau kalau gak!. Lu bisa bayar satu atau lebih cewek buat puasin lu malam ini, gue yakin lu gak susah kan, dengan duit lu yang berlimpah itu." ucap Resti sedikit menurunkan intonasi suara, namun dengan ucapan yang menusuk.


Jagat terkekeh dan menghentikan langkahnya yang sedikit lagi tiba di mobilnya "Lu pintar juga ya, semua yang lu omongin itu benar. Tapi buat sekarang, gua mau lu yang puasin gua."


"Kenapa mesti gue?, gue ini amatir dan gak berpengalaman. Gue yakin lu itu udah handal urusan begituan kan!!, gue takut gak bisa menuhin kemauan lu nanti." dalih Resti.


"Justru itu, gua mau coba yang masih polos dan segelan. Kalau soal itu, gua bakal bimbing lu sampai lu jago." Jagat tersenyum smirk.


"Tapi.."

__ADS_1


"Udah ayo cepetan." Jagat kembali menarik paksa Resti.


"Gak mau."


Baru saja Jagat ingin membuka pintu mobilnya, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Jagat menoleh dan mendapati Boy berdiri menatap tajam padanya.


"Kenapa?"


"Bisa lepasin dia gak?, lu gak dengar dia gak mau pergi sama lu."


"Kenapa?, lu gak terima!!. Sorry ya bro, hari ini gua pinjem dia dulu. Besok pasti gua pulangin ke lu, dan kalian bisa bersenang-senang setelah itu."


Boy menyeringai "Tapi gue mau bersenang-senang sekarang."


"Jangan serakah dong bro, hari ini sama gua dulu ya. Besok baru lu puasin sama dia sampai gak bisa bangun malah." Jagat berbisik di telinga Boy.


"Dasar kalian semua brengsek, gue bukan barang yang di bisa oper sana sini ya." geram Resti mendengar ucapan Boy dan Jagat.


Boy tersenyum smirk menatap Resti sekilas "Hari ini gue bukan mau bermain sama lu, tapi gue mau main sama dia." tunjuk Boy pada Jagat.


"Maksud lu?, gua masih normal ya. Gua gak doyan batangan ya, gua masih doyan sama donat ya, apalagi yang masih anget kaya gini." tolak Jagat seraya bergidik ngeri dan jijik.


"Tapi gue mau main pakai ini." Boy memukul wajah Jagat tiba-tiba.


Jagat yang tidak siap menerima pukulan dari Boy, melepaskan tangannya dari Resti dan tersungkur. Boy kembali menghujani Jagat dengan beberapa pukulan ke arah wajah dan perutnya.


Beruntung saat itu sedikit gerimis, hingga area parkir menjadi sepi dan tidak ada orang yang melihat apa yang terjadi diantara mereka.


"Gue ingetin sama lu, jangan pernah ganggu dia lagi atau siapapun. Kalau sampai gue liat lu kaya gini, gue bakal publikasikan siapa lu dan gue pastikan hotel-hotel yang punya akan segera tutup. Jangan main-main sama gue." Boy mencengkram dagu Jagat yang terkulai lemas.


Setelah itu dia membawa Resti yang masih mematung memperhatikan apa yang terjadi antara Boy dan Jagat.


"Omegot. Om, cucok meong."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


Next


👏👏👏


__ADS_2