
Seminggu berlalu
Rena dan Kafka kini sudah kembali dari rumah sakit dalam kondisi baik-baik saja, sedangkan Morens. Meski sempat koma beberapa hari, tapi kini kondisinya sudah lebih baik.
Morens sudah sadar dari komanya dan sedang dalam proses pemulihan..
Kini Roby sedang berada di tempat dimana Gaby dan Imel berada, Roby ditemani oleh Asgar dan juga Jennie kesana. Setelah melewati begitu banyak masalah dan kejadian, Kini saatnya menuntaskan akar dari semua permasalahan yang mereka hadapi.
Pintu dibuka dan menampilkan 2 orang makhluk yang berjenis kelamin perempuan tengah duduk terikat. Roby menghampiri kedua wanita itu dan berjongkok dihadapan mereka.
"Roby. Lepaskan aku." pinta Gaby melihat Roby datang.
"Melepaskan kamu!!"
"Ya, bukankah kamu janji kalau aku kasih tau markas Antony, kamu bakal lepasin aku."
"Tenang aja, aku pasti tepatin janji." ucap Roby menyeringai.
"Cepatlah, aku udah ingin pergi dari sini."
"Kamu pasti pergi dari sini." Roby menatap Asgar "Lepaskan dia dulu." tunjuk Roby pada Imel.
Imel memang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, dia hanya dibayar oleh Gaby untuk menggoda dan menjajaki tubuh Roby yang belum terlaksana. Jadi Roby melepaskannya, hanya saja Imel diberi ancaman agar dia tidak berani berulah lagi.
"Sekarang aku." Gaby tersenyum berbinar, dia sudah sangat tidak sabar untuk bebas dan kembali ke Amerika.
"Asgar, buka ikatannya." ucap Gaby pada Asgar menunjuk Gaby menggunakan dagunya.
"Ok." Asgar melepaskan ikatan Gaby, namun tak melepaskan cekalan tangannya pada wanita itu.
"Kenapa kau memegangi tanganku?, cepat lepaskan aku. Aku mau pulang ke Amerika."
Roby terkekeh "Mau pulang ke Amerika!!, jangan harap."
"Apa maksudmu?, bukannya tadi kau bilang akan melepaskan aku dan membiarkan aku pergi dari sini!!" Gaby menautkan alisnya.
__ADS_1
"Apa aku bilang akan membiarkan kamu pulang ke Amerika!!, kamu memang akan pergi dari tempat ini. Tapi kamu akan pergi ke penjara."
"Apa maksudmu?, aku gak melakukan kejahatan apapun. Aku cuma mau bersenang-senang dengan kamu, karena aku cinta sama kamu Rob." kilah Gaby.
Roby tertawa sarkas " Cinta!!, kamu pikir dengan menyerahkan tubuhmu yang penuh dosa itu, akan bisa mendapatkan cintaku. Cih!, persetan. Lagipula aku bukan memperkarakan itu, anggap saja itu bonus."
"Lalu!, apa yang membuat kamu melaporkan aku ke polisi?"
"Apa kau lupa!, kau pernah bekerja sama dengan Antony untuk melenyapkan nyawa seorang wanita dan merebut kekayaannya."
"Wanita!!,,, siapa maksudmu?" Gaby berucap dengan sedikit gemetar.
"Nyonya Yeslin Jonassen."
"Yeslin!!, Yeslin siapa maksudmu?" Gaby berpura-pura bingung.
"Yeslin Jonassen, istri dari Willard Jonassen yang tak lain adalah sahabatmu dulu."
"Sahabat!!, haha jangan bercanda Roby. Aku saja baru tau tentang mereka waktu aku membantumu."
"Jangan menuduh tanpa bukti, aku melakukan itu karena memang tulus membantumu dan aku juga cinta sama kamu Roby." Gaby bergerak-gerak di cekalan Asgar yang sangat kencang.
"Sudah Roby!!, jangan banyak basa-basi lagi. Cepat bawa wanita sialan ini ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya." sela Jennie yang geram karena Gaby terus berkilah.
"Heh nenek tua!, jangan asal ngomong ya." bentak Gaby.
"Wanita sialan!, beraninya kau membentak ibuku." Roby melemparkan sebuah tas yang isinya berupa semua bukti kejahatan Gaby dan Antony. "Lihatlah."
Gaby berjongkok dan melihat isi dalam tas yang berserakan itu, disitu terdapat poto kedekatan antara Gaby dan Yeslin dulu. Disitu juga ada sebuah flashdisc yang berisi rekaman pembicaraan antara Gaby dan Antony melalui ponsel Gaby yang disadap oleh Asgar beberapa waktu lalu.
Disitu juga terdapat sebuah botol yang berisi sisa cairan Tetrotodoxin yang digunakan untuk membunuh Yeslin saat itu.
Gaby membelalakkan matanya dan terkejut melihat itu semua. Dari mana mereka mendapatkan semua barang bukti ini, seingatnya dia sudah melenyapkan semua itu.
"Kau pasti kaget bukan, dari mana aku menda semua barang bukti itu?. Apa kau ingat, waktu kau menyelamatkan Asgar dan menyembunyikannya di Apartemen milikmu... Sebenarnya dari awal aku gak pernah sepenuhnya percaya padamu, jadi begitu ada kesempatan, aku meminta Asgar menggeledah isi apartemenmu."
__ADS_1
"Apa?" Gaby menganga, dia lupa kalau dia memang menyimpan semua itu disana. Tapi Gaby tidak menyangka bahwa Roby ternyata tidak mudah diperdaya.
"Lalu!, apa kau juga lupa. Waktu kita bercumbu di dalam lift, saat kau terlena dengan sentuhan yang kuberikan, aku mencuri ponselmu di dalam tas dan menyembunyikan di saku celana belakangku." Roby menghela nafas kasar "Aku bahkan sampai menyakiti perasaan Rena melihatku berbuat hal menjijikkan denganmu, hanya untuk melancarkan aksiku menyadap ponselmu guna mendapatkan sebuah informasi. Ternyata hasil penantianku tidak sia-sia, kau bicara dengan Antony untuk mencelakai keluargaku. Sayangnya, aku gak menyangka kalau kalian akan bertindak secepat itu."
"Kurang ajar!!, kamu sangat licik Roby." umpat Gaby yang kesal begitu tau ternyata selama ini dia yang sudah tertipu.
"Untuk melawan seekor ular sepertimu, aku harus menjadi seekor buaya darat terlebih dahulu."
"Sialan!!!!, awas kau Roby!!" teriak Gaby.
Tak lama kemudian beberapa orang polisi datang ke tempat yang sudah di beri tau oleh Asgar, mereka segera mengamankan Gaby untuk ditindak lebih lanjut.
Karena Gaby bukan warga negara asli, begitu penyelidikan selesai, dia akan dikembalikan ke negara asalnya dan diproses secara hukum di negaranya.
Sedangkan untuk Antony, karena menurut informasi terakhir yang di dapat. Dia dan anggotanya ternyata adalah termasuk jajaran DPO (Daftar Pencarian Orang) keamanan dunia, dia disebutkan sebagai penjahat Internasional. Karena tindak kasus kejahatan antara lain : Pemasok narkoba kelas tinggi, pelaku HUMAN TRAFIKING, penjualan organ manusia dan perdagangan ilegal.
Sehingga jenazahnya masih ditahan oleh Interpol di markas PBB setelah beberapa hari yang lalu selesai diindentifikasi.
Kini semuanya telah selesai, Roby berharap kini keluarganya dapat hidup dengan tentram tanpa takut ancaman apapun. Dan semoga saja, masalah seperti ini tidak terjadi lagi.
Roby pulang dengan hati yang lega dan tenang, sekarang tugasnya adalah memberikan adik bayi pada Kafka dan membuat istrinya kelelahan selama berbulan madu.
Karena setelah menikah sampai kini, Roby belum mengajak Rena berbulan madu. Itu karena saat itu keadaan belum memungkinkan, ancaman masih berada dimana-mana.
Tapi kini, semuanya telah selesai dan terlewati tanpa ada yang menjadi korban. Hanya saja, Roby masih merasa bersalah pada keluarga Hadinata, karena membantunya hingga membuat boss gilanya itu mengalami kejadian tak mengenakkan.
Roby berniat akan pergi berbulan madu, setelah memastikan kondisi Morens sudah benar-benar stabil.
...----------------...
...----------------...
Next
👏👏👏
__ADS_1