Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Menyusul


__ADS_3

Hari keberangkatan Resti ke daerah L pun tiba, setelah berpamitan pada Bu Lastri Resti segera menuju ke stasiun kereta menggunakan taksi online yang sudah dia pesan tadi.


Resti benar-benar bersemangat menyambut perjalanan kali ini, selain karena berlibur Resti juga sudah mengetahui semua hal yang selama ini mengganjal tentang Boy.


Sementara di tempat lain


Sebuah mobil tengah melaju kencang dari arah Jakarta menuju ke daerah S, mobil yang ditumpangi oleh seorang pria yang sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan gadis yang belakangan ini membuat dia tersenyum sendiri.


Pria itu tak lain adalah Boy, kedatangannya kali ini ke daerah S adalah untuk mengutarakan perasaan dan niatnya untuk gadis nakal yang sudah mengacaukan hatinya belakangan ini.


Flashback on


Setelah kepulangan Resti dari rumahnya waktu itu, Boy mendapat telepon dari orang kepercayaan yang berada di Amerika, bahwa perusahaan miliknya yang berada disana mengalami sedikit masalah dan harus disesuaikan dengan segera.


Karena itu, Boy mengambil penerbangan pagi-pagi sekali kesana. Selama 2 Minggu berada di Amerika untuk menyelesaikan masalah, Boy tak hentinya memikirkan Resti yang tingkahnya selalu membuat Boy gemas.


Boy memang sengaja tidak memberi kabar ataupun menghubungi Resti, dia hanya ingin segera menyelesaikan urusannya disana.


Namun di hari terakhir dia berada disana, Boy mendapat kabar bahwa ayahnya yang berada di Turki dalam keadaan yang tidak sehat dan menginginkan kedatangan Boy.


Mau tidak mau, kepulangan ke Indonesia harus dia tunda. Dia harus segera terbang ke Turki untuk melihat kondisi ayahnya, sekalian dia berniat untuk mengutarakan niatnya melamar Resti saat dia lulus nanti kepada orang tuanya.


Boy yakin kesehatan ayahnya akan segera membaik mendengar apa yang akan dia utarakan, dia tau, sakitnya sang ayah adalah juga karena memikirkan dirinya.


Di usianya yang sudah memasuki 37 tahun, Boy masih juga belum berkeluarga. Padahal orang tuanya sudah sangat menginginkan seorang cucu dari anak semata wayangnya itu.


Lihat saja, teman yang seusianya sudah bahagia dengan keluarga masing-masing. Seperti Morens yang sudah akan memiliki 2 anak, Roby yang sudah memiliki seorang jagoan berusia 2 tahun.


Setelah memakan waktu 1 bulan dan memastikan keadaan ayahnya sudah stabil. Boy tak lupa mengutarakan niatnya pada orang tuanya yang disambut dengan antusias, maka dari itu Boy segera pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan gadis polosnya itu.


Flashback off


Begitu tiba di depan rumah ibu Lastri, hari sudah mulai sore dan menunjukkan pukul 5. Dengan senyum merekah dan semangat 45, Boy turun dari mobil kemudian mengetuk pintu rumah calon mertuanya itu.


Setelah menutup beberapa saat akhirnya pintu terbuka, Boy sedikit kecewa karena ternyata bukan Resti yang menyambutnya melainkan Bu Lastri.


"Assalamualaikum Bu." Boy mencium punggung tangan Bu Lastri.


Hal itu membuat Lastri sedikit kaget, dia heran dengan sikap Boy yang tiba-tiba seakan bertemu dengan ibunya sendiri.


"Walaikumsalam." jawab Lastri terbata.

__ADS_1


"Gimana kabar ibu?"


"Baik." jawab Lastri dengan raut wajah bingung, pasalnya Boy terus tersenyum sedari awal datang. "Eh,,ayo masuk dulu."


"Makasih Bu."


Boy masuk kemudian duduk di sofa ruang tamu, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan gadisnya di dalam rumah ini.


"Kok sepi banget Bu?" tanya Boy yang sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Resti.


"Iya. Ibu sendirian." ibu duduk berseberangan dengan Boy "Oh ya, nak Boy kok baru kelihatan lagi. Ibu pikir udah lupa sama ibu?"


"Saya baru kembali dari Turki melihat kondisi ayah saya, tadi pagi saya baru tiba di Indonesia."


"Trus kamu langsung kesini?"


"Iya."


"Lalu bagaimana kondisi ayah kamu?"


"Beliau sudah sehat kok sekarang."


"Oh ya Bu, Resti mana?" tanya Boy sambil tengok kanan kiri.


"Resti!!"


"Iya Resti."


"Mang kamu gak tau Resti kemana?" tanya Lastri heran, pasalnya dia memang tidak tau menau tentang Boy dan Resti.


Setaunya mereka berdua berteman dan sering bertukar kabar, karena setiap ditanya bagaimana tentang Boy. Resti selalu mengatakan bahwa Boy baik-baik saja dan saat ini sedang sibuk jadi tidak bisa berkunjung.


Boy menggeleng "Mang Resti kemana?"


"Dia pergi ke daerah L."


"Daerah L!!, ngapain Bu?"


"Liburan, sekalian nenangin pikiran katanya. Dia gak ada kasih tau kamu?" selidik Lastri.


"Enggak ada tuh."

__ADS_1


"Kalian lagi ada masalah?"


Boy menautkan alisnya "Gak ada tuh." Karena setau Boy, mereka memang baik-baik saja.


"Oh,, mungkin dia lupa."


"Daerah L dimana Bu?"


"Alamat pastinya ibu gak tau, cuma yang ibu tau dia ke tempat usaha milik kakaknya."


Boy teringat, Rena memang memiliki usaha disana. Apa Resti sekarang ada disana?


"Biar ibu tanya kakaknya Resti dulu ya." Bu Lastri hendak mengambil ponselnya.


"Gak usah Bu." tahan Boy.


"Kenapa?, kamu gak jadi mau ketemu Resti!!"


"Jadi kok."


"Lah terus, emang kamu udah tau tempatnya?"


"E,,, itu ntar saya langsung telpon Resti aja. Kalau begitu saya pamit ya Bu." Boy bangkit berdiri.


"Loh kok buru-buru, ibu sampai lupa gak bikinin kamu minum."


"Gak papa Bu." Boy mengambil tangan kanan Lastri dan mencium punggung tangannya. "Saya pergi dulu Bu, assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Boy langsung melajukan mobilnya kesana, dia tidak menghiraukan rasa lelahnya yang baru saja tiba dari Turki. Bahkan dia belum beristirahat dan makan sama sekali, saat ini pikirannya hanya tertuju pada gadis polos nan cerewet perebut hatinya.


"Baby, tunggu aku."


......................


...----------------...


Next


👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2