
Pagi ini Resti berniat untuk mengunjungi tempat wisata di daerah itu dengan ditemani oleh Leni.
"Kak Leni, udah sia belum?" tanya Resti berdiri di depan pintu kamar Leni yang tertutup.
"Iya Res, sebentar lagi. Kamu tunggu di mobil aja langsung, udah dateng kok mobilnya." teriak Leni dari dalam kamar.
"Ya udah, aku tunggu di mobil ya."
"Iya."
Resti berlalu dari depan kamar Leni menuju ke mobil yang sudah menunggu mereka untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan, Resti membuka pintu mobil bagian belakang dan langsung duduk menunggu Leni datang.
Namun, baru saja dia duduk mobil langsung melaju meninggalkan area rumah.
"Hei!!, tunggu. Temanku belum masuk." ucap Resti pada sang supir, namun tidak diindahkan oleh supir itu.
"Hei!!, stop. Kamu gak denger, aku bilang temanku belum naik." bentak Resti lagi, namun lagi-lagi tidak dihiraukan oleh si supir.
"Kamu jangan macam-macam ya, kamu mau culik saya!!. Saya udah share location sama temanku, dan dia bakal lapor ke polisi." ancam Resti.
"Lapor aja sayang." jawab si supir.
Mendengar suara yang dia kenal, Resti segera melepaskan topi yang dipakai oleh si supir. "Kamu."
"Iya aku."
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Resti kesal pada sang supir yang ternyata adalah Boy.
__ADS_1
"Aku adalah supir pribadi kamu hari ini, aku akan antar kemanapun kamu mau." jawab Boy seraya melirik Resti dari spion.
"Berhenti." pinta Resti.
"Kenapa berhenti?"
"Aku bilang berhenti." tegas Resti.
Boy segera menepikan mobilnya di tepi jalan. "Kenapa berhenti disini?"
Resti menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara "Sebenarnya kak Boy tuh mau apa sih?"
"Aku!!,,, aku gak mau apa-apa."
"Kalau begitu, kenapa kakak ikutin aku terus?"
"Aku cuma mau jadi supir kamu aja dan memastikan kamu gak kenapa-kenapa?"
Boy tidak menjawab pertanyaan Resti, dia keluar dari kemudi dan berpindah ke kursi belakang di samping Resti. "Kakak kamu mau ngapain?" Resti menggeser duduknya semakin terpojok.
Boy memegang kedua bahu Resti dan menghadapkan wajahnya dengan wajah Resti.
"Kamu dengar ya, aku gak akan biarin kejadian kemarin terjadi sama kamu untuk yang ke 3 kali."
"Makasih, udah peduli sama aku."
"Jelas aku peduli, karena aku sayang sama kamu. Aku gak akan biarin hal buruk terjadi lagi sama kamu." Boy menyatukan kening mereka berdua.
__ADS_1
Resti menjauhkan wajahnya dan menepis tangan Boy pelan. "Makasih, aku janji akan jaga diri kedepannya. Jadi kak Boy gak perlu khawatir sama aku lagi." Resti membuang wajah ke arah lain untuk menghindari tatapan mata Boy yang intens menatap dirinya.
Boy menghela nafas "Kamu masih ragu sama aku?, apa yang harus aku lakukan biar kamu percaya kalau aku itu serius sama kamu."
"Kakak gak perlu lakuin apapun, karena...."
"Karena apa?, karena Rena!!. Kamu takut aku masih berharap sama Rena. Aku udah gak ada perasaan apapun sama dia, kalau perlu aku akan bicara langsung dengan Rena dan Roby." Boy mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
"Eh tunggu, kakak mau apa?" Resti mencegah Boy yang sudah. ingin menekan nomor di ponselnya.
"Aku mau bilang soal perasaan aku ke kamu, soal hubungan kita dan niat aku buat menjadikan kamu milikku seutuhnya." ucap Boy yakin.
"Jangan."
"Kenapa?, kamu nolak aku!!."
"Itu.."
"Kamu tenang aja, kita akan bicara sama keluarga kamu. Aku akan perjuangkan kamu sayang."Boy memeluk erat tubuh Resti.
"Udah ih meluknya, gak jadi jalan-jalan deh." sungut Resti mengalihkan pembicaraan karena dia tidak mau kalau Boy sampai tau jika saat ini dia tengah malu.
"Eh iya lupa."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Next
👏👏👏