
3 Minggu kemudian
Hari resepsi pernikahanpun akhirnya tiba, mereka semua tengah bersiap untuk acara di hari ini.
Boy dan Resti dengan masih adanya jarak, namun Resti sudah mulai bisa menerima kenyataan dan masalalu yang memang tidak mungkin untuk dihilangkan. Namun itu bisa menjadi sebuah pembelajaran dalam upaya pendewasaan dirinya.
Sedangkan untuk Roby dan Rena, pasangan yang masih tetap meributkan apakah akan tetap melanjutkan Double Bride. Dan jawabannya adalah iya, maka mau tidak mau Roby harus tetap mengikuti kemauan sang istri atau akan ada efek di esok hari. Yaitu berkurangnya senyum dan juga jatah malam untuk dirinya.
Para make up artist sedari tadi tengah sibuk merias para wanita terlebih dahulu, dan setelah itu. Kini giliran para mempelai pria yang harus dirias.
"Mas Boy, waktunya dirias." ucap sang perias berjenis kelamin laki-laki, namun gaya dan pakaiannya tak kalah heboh dengan para wanita.
Boy bergidik melihat gaya si perias, apalagi jari kelingkingnya yang selalu terangkat ke atas. "Ok, tapi awas ya. Jangan pegang-pegang."
"Lah, mas Boy gimana sih!!. Kalau gak di pegang gimana saya make up-nya coba. Mas Boy lucu ih." jawabnya seraya mengusap lengan kekar Boy.
"Heh!!, saya bilang apa barusan, jangan pegang." hardik Boy kesal.
"Iya, galak banget sih." ucapnya manja.
"Ya udah cepet."
Sedangkan di kamar sebelah, tak kalah heboh. Masih dengan perdebatan antara si mempelai dengan si perias, yang kali ini ditangani oleh seorang wanita tulen.
"Pak, silahkan berganti pakaian." ucap si perias.
"Pak... Pak,, kapan saya nikah sama ibu kamu!!" hardik Roby.
"Maaf tuan."
"Tuan!!, saya bukan majikan kamu."
"Emm, iya. Sekarang waktunya kakak berganti pakaian." jawabnya mencoba sabar.
"Memangnya saya kakak kamu?"
"Baiklah, Abang, Mas, Om, Uda, Akang dan lain sebagainya. Untuk mempersingkat waktu dan pekerjaan saya, sebaiknya anda berganti pakaian. Karena sebentar lagi acara akan dimulai."
"Ya gak usah disebut semua juga kali, mana sini bajunya?" Roby menjawab dengan sebal.
Sang perias hanya bisa menarik nafas, agar bisa menjaga kewarasannya tetap stabil menghadapi manusia yang satu ini, yang sensitifitasnya melebihi wanita hamil atau wanita yang sedang dalam masa periode.
"Ini tuan bajunya." si perias memberikan 1 set kemeja lengkap dengan dasi kupu-kupu dan sepatunya.
"What!!, apa-apaan ini?. Saya gak mau pakai ini, ganti yang lain."
"Tapi ini seragam yang sudah dipilih oleh ibu Rena."
__ADS_1
"Oh my god."
Sejam kemudian, kedua pasang mempelai datang dengan secara bergantian. Disana sudah menunggu para tamu undangan dari berbagai kalangan pengusaha sukses yang merupakan relasi dari Boy dan juga Morens yang memang sudah mengenal Roby sebagai asisten kepercayaan dari Morens.
Belum lagi para saudara dan kerabat yang ingin menyaksikan 2 pasang pengantin dalam satu pesta pernikahan, dimana kejadian seperti ini jarang sekali terjadi di kalangan kalangan menengah ke atas.
Boy dan Resti hadir lebih dulu, dimana mereka sebagai pemilik acara sesungguhnya. Mereka berdua menggunakan pakaian pengantin dengan warna yang tidak biasa, yaitu Orange.
Saat mereka keluar, para tamu undangan bersorak riuh disertai tepuk tangan dan juga senyuman. Mempelai wanita yang terlihat cantik, makin nampak cantik dengan senyum yang merekah. Lain hal dengan mempelai pria yang memasang wajah datar dan cemberut.
Hal itu menjadi sebuah tontonan menarik bagi para tamu undangan, dimana mempelai pria terlihat seperti anak taman kanak-kanak dengan seragam yang berwarna cerah.
Tak lama kemudian, pasangan mempelai kedua keluar. Yaitu Roby dan Rena, dengan pakaian yang tidak kalah heboh, datang memasuki ruangan pesta.
Warna kuning yang sangat dominan, membuat semua mata kian tertuju pada mereka. Setelah sempat hening beberapa saat, kini riuh tepuk tangan kembali terdengar diiringi gelak tawa menyambut kedatangan mereka.
Rena dengan teganya terus tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Roby sepanjang jalan, Roby terus saja menggerutu dengan mengucapkan kata-kata yang tidak begitu jelas terdengar di telinga Rena, dengan tidak ketinggalan bibir yang dimajukan hingga menyerupai si kwek-kwek dari tepi danau.
Morens dan Sandi yang datang ke acara tersebut, tak henti-hentinya menertawakan bahkan terkadang mengeluarkan kalimat menggoda yang membuat kedua orang mempelai pria itu semakin bertambah kesal.
"Udah puas belum ketawanya?" tanya Chintya saat Morens sudah mulai tenang mengontrol tawanya.
"Udah kok, tapi aku sakit perut ini kebanyakan ketawa. Emang kenapa?"
"Ikut aku ke belakang."
"Udah ayo ikut aja." Chintya menarik tangan Morens agar ikut dengannya.
"Mau ngapain sih?, mom. Jangan macem-macem ya."
"Enggak macem-macem, cuma satu macam doang."
"Sweety."
Di lain sudut, saat ini Serena yang tengah hamil muda sering kali membuat Sandi sedikit kewalahan memenuhi keinginan ngidam sang istri.
Mengetahui bahwa Chintya diminta oleh Rena untuk menjadi Bridemaids, membuat Serena juga menginginkan hal yang sama.
Saat melihat Chintya berjalan menuju ke arah belakang dengan membawa Morens, Serena juga mengajak Sandi untuk kesana. Sandi yang tidak tau dengan keinginan sang istri, hanya bisa menurutinya saja.
30 menit kemudian
Kedua pasang Bridesmaids datang dengan membawa 2 buah paket bunga untuk kedua mempelai wanita, guna diberikan untuk acara pelemparan bunga.
Namun yang menarik disini adalah, kedua pasang Bridesmaids itu datang dengan berpakaian berwarna ungu dan merah muda yang nampak begitu elegan. Belum lagi wajah si pria pembawa bunga menunjukkan aura bunga bangkai.
Karena sejak menampakan diri, baik Morens dan Sandi sama-sama memancarkan aura kesedihan dan keputusasaan. Mereka sama-sama tidak bisa menolak keinginan pasangan mereka.
__ADS_1
Dimana Chintya mengancam, bila Morens tidak menurutinya. Maka ritual aye-aye akan ditunda hingga 2 Minggu kedepan.
Sedangkan untuk Sandi, dia tidak bisa menolak permintaan sang istri, mengingat itu adalah keinginan dari ibu hamil.
Saat melihat Morens dengan tampang maconya menggunakan pakaian berwarna merah muda dan Sandi dengan wajah yang ditumbuhi bulu-bulu menggunakan pakaian berwarna ungu. Membuat suasana pesta kembali riuh.
Apalagi kedua mempelai pria yang sedari tadi murung, kini dapat tertawa lepas melihat kedua orang yang tadi terus menertawakan mereka kini juga merasakan apa yang mereka rasakan.
"Nasib-nasib jadi bucin." ucap Roby, Boy, Morens dan Sandi saat mereka semua sudah berkumpul.
"Mang enak jadi bucin." jawab Rena, Resti, Chintya dan Serena bersamaan.
Dan semuanya tertawa bersama.
Melihat sang istri tertawa lepas, membuat Boy bisa tersenyum senang.
"Makasih sayang." ucap Boy berbisik.
"Makasih buat apa?"
"Karena kamu udah mau terima cinta aku."
"Sama-sama, aku juga terima kasih karena kamu udah sabar menghadapi sikap aku."
"Sama-sama sayang."Boy mencium kening Resti lembut.
Di kursi sebelah
"Maaf ya dad, udah bikin kamu malu." ucap Rena karena merasa bersalah sudah membuat Roby malu.
"Enggak mom, aku yang harusnya minta maaf. Aku pernah bikin kamu lebih malu, terima kasih udah mau maafin kesalahan aku dan udah mau terima cinta aku yang bukan siapa-siapa ini. Aku cuma seorang asisten biasa yang gak punya harta melimpah." Roby mencium punggung tangan Rena.
"Iya dad, karena aku kan PENAKLUK SANG ASISTEN."
...----------------...
...----------------...
Akhirnya cerita ini tamat juga.
Atur nuhun buat kalian semua yang udah Sudi membaca serta memberikan like dan vote buat cerita ini.
Untuk Bonus Chapter, aku belum terpikirkan. Tapi, sewaktu-waktu aku bisa up buat boncap cerita ini. Jadi jangan unfavorite dulu ya.
Sampai jumpa di cerita aku selanjutnya.
Dadah Babay
__ADS_1
😘😘😘😘😘