
"Siapapun!!, Tolooooong." teriak Resti di tengah derasnya air hujan yang turun.
Pria itu terus mencoba menjamah Resti yang mencoba memberontak dengan sisa tenaganya. Disaat dia sudah merasa kehabisan tenaga, pria itu tiba-tiba ambruk di atas tubuhnya akibat sebuah balok kayu yang menghantam tengkuknya.
Resti melihat seorang pria berdiri dengan memegang balok kayu yang digunakan untuk memukul pria yang hendak melecehkannya.
Resti menyingkirkan tubuh pria itu dari tubuhnya, kemudian pria yang menolongnya tadi membuka jaketnya dan diberikan kepada Resti.
"Kamu gak papa kan?, ada luka gak?" tanya pria tadi.
Resti menggeleng lemah, dia masih merasa syok atas kejadian yang hampir merenggut mahkotanya tadi.
"Udah ya kamu tenang, sekarang udah aman kok." pria itu membantu Resti berdiri, karena kaki yang bergetar membuat Resti sedikit kesusahan untuk berdiri.
"Ayo, aku antar pulang ya." tawar si pria.
Resti yang masih syok, sontak saja menjauhkan diri dari pria itu. Dia masih merasa takut kalau pria itu akan membawanya pergi.
"Jangan takut, aku cuma mau antar kamu pulang. Kenalin, namaku Jagat. Kalau kamu gak percaya ini KTP ku, aku cuma mau antar kamu pulang, ini sudah malam dan hujan deras, jadi pasti susah buat cari angkutan sekarang."
"A...Aku udah pesen taksi ta...tadi." ucap Resti tergagap.
"Pasti udah pergi karena gak ketemu sama kamu."
"Iya sih, ponsel aku juga gak tau kemana." jawab Resti lirih.
"Ya udah aku antar aja."
Resti mengangguk pasrah, dia juga bingung karena ponsel dan tasnya entah hilang kemana saat dirinya ditarik oleh pria yang akan melecehkan dirinya.
Di dalam mobil selama perjalanan, Resti hanya terdiam. Dia masih merasa syok atas kejadian tadi, Jagat mulai mencoba mencairkan suasana dengan membuka percakapan di antara mereka.
"Emmm, ngomong-ngomong nama kamu siapa?" tanya Jagat seraya tetap fokus pada setir mobilnya.
"Aku Resti."
"Kamu kenal sama cowok tadi?"
Resti menggelengkan kepalanya "Tadi dia coba nawarin aku pulang bareng tapi aku nolak, ya terus dia marah dan coba melecehkan aku." jelas Resti sambil tertunduk.
"Ya udah, sekarang kamu harus tenang. Kamu gak mau kan kalau sampai orang rumah kamu khawatir liat kondisi kamu kaya gini."
"Ya, kamu bener."
"Nah!!, sekarang bersihin muka kamu biar gak keliatan terlalu sembab." Jagat menyerahkan selembar tisue pada Resti.
"Makasih ya." Resti menerima tisue yang diberikan oleh Jagat.
__ADS_1
"Gak masalah, kamu udah mendingan kan."
"Iya, sekali lagi terima kasih ya. Kalau gak ada kamu, aku gak tau bagaimana jadinya."
"Udah, gak usah dipikirin."
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah milik Bu Lastri. Mendengar suara deru mobil di depan, semua penghuni rumah keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang.
Mengetahui bahwa yang datang adalah Resti dan diantar oleh seorang pria, membuat emosi Bu Lastri memuncak.
"Baru pulang kamu, jam berapa ini?. Anak gadis baru pulang jam segini, mau jadi apa kamu!!" hardik Bu Lastri pada Resti yang terlihat terus menundukan wajahnya.
"Bu, sabar. Resti pasti ada alasannya kenapa baru pulang jam segini." Rena mencoba menenangkan sang ibu yang sangat marah pada Resti.
"Iya besan, kita harus denger penjelasan Resti dulu. Sabar ya besan, kalau marah-marah ntar muka kita jadi gak glowing lagi loh." timpal Jennie.
"Oh!!, jadi ini rahasianya kenapa muka besan tetap bowling sampai sekarang?" jawab Bu Lastri masih dalam keadaan sedikit marah.
"Yoi." Jennie mengibaskan rambut pendeknya.
Roby dan Rena menahan senyum melihat kelakuan para orang tua ini.
"Ok, sekarang saya coba."
"Good besan." Jennie mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Sekarang, coba kamu bilang. Kenapa kamu baru pulang jam sepuluh malam sama cowok lagi." tanya Lastri pada Resti yang masih setia menunduk, namun kali ini nada bicaranya sedikit menurun.
"Saya gak tanya kamu, saya tanya anak saya " sela Lastri sebelum Jagat sempat menjelaskan.
"Bu, sabar. Jangan kaya gini." Rena menengahi perdebatan mereka.
"Resti, ibu tanya sekali lagi. Apa yang kamu lakukan sampai pulang jam segini." hardik Lastri kesal karena melihat Resti diam saja dengan menunduk.
Tiba-tiba saja, Resti menangis dan kemudian tak sadarkan diri. Melihat Resti pingsan, mereka semua nampak panik.
"Res, bangun Res." Rena menepuk-nepuk pipi Resti.
"Resti, bangun sayang. Maafin ibu." Lastri memeluk erat tubuh Resti yang lemah.
"Bu, sebaiknya kita bawa Resti ke dalam dulu." ucap Roby.
"Ya son, angkat dia ke kamarnya." Jennie memerintahkan Roby untuk membawa Resti ke kamarnya, dan diikuti oleh Rena.
Sementara Lastri menatap tajam Jagat yang masih setia berada disana. "Kamu apakan anak saya?" hardik Lastri.
"Sabar besan, kita bisa bicarakan ini baik-baik." Jennie menenangkan amarah Lastri.
__ADS_1
"Tapi saya gak bisa tenang liat Resti pingsan kaya gitu, ini pasti ada apa-apa kan!!"
"Ya, tapi kita harus tenang." jawab Jennie, kemudian dia beralih menatap Jagat. "Kamu duduk dulu."
"Terima kasih Tante."
"Sekarang bisa kamu ceritain, ada apa sama Resti?" Jennie berbicara dengan santai namun penuh dengan penekanan.
Jagat menghela nafas panjang sebelum bercerita "Jadi begini Tante."
Jagat menceritakan semua kronologi kejadian yang menimpa Resti sesuai dengan apa yang dia tau, mendengar penjelasan Jagat membuat Lastri menangis. Dia merasa sedih atas apa yang menimpa Resti, dia juga merasa sangat bersalah karena sudah memarahi bahkan sudah sempat menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak dengan Jagat.
"Ya Allah Resti!!!" Lastri menutup wajahnya seraya menangis.
"Terus!!, gimana sama pria brengsek tadi?" Jennie menanyakan kembali kejelasan masalah tadi.
"Saya sudah memberi dia pelajaran, untung saja dia belum sempat menodai Resti sebelum saya datang."
"Terima kasih ya, maaf. Tadi saya sempat membentak kamu, kalau gak ada kamu saya gak bisa bayangkan apa yang terjadi sama Resti ."
"Gak usah sungkan Tante." ucap Jagat tersenyum manis.
" Oh ya, nama kamu siapa?"
"Saya Jagat Arinda, panggil saja saya Jagat."
"Sekali lagi terima kasih ya Jagat."
"Sama-sama Tante, kalau begitu saya pamit dulu. Ini kartu nama saya, kalau ada yang bisa saya bantu telpon saya ke nomor ini." Jagat berdiri seraya menyerahkan selembar kartu nama pada Lastri.
Di situ tertulis nama Jagat Arinda pemilik beberapa buah hotel kelas menengah di daerah S.
"Kamu anak yang baik, masih muda dan sukses lagi. Saya salut sama kamu." ucap Jennie setelah melihat identitas di kartu nama tersebut.
"Terima kasih, saya pamit dulu. " Jagat menyalami Lastri dan Jennie sebelum pergi.
...----------------...
...----------------...
Eng Ing Eng, setelah sekian lama bertapa, akhirnya othor turun gunung juga setelah mendapat Ilham. Sedangkan Ilham sebenarnya tidak mau saya ajak, karena dia bilang dia tidak tau apa-apa tapi kenapa namanya di sangkut pautkan.
Sekarang saatnya saya menurunkan jurus kehaluan yang saya dapat di gunung Hua Kuwo tempat hukuman para dewa, bertindak sesuka hati loncat kesana kesini.
Jadi, sebelum Wiro sableng berubah menjadi waras, saya harus meneruskan cerita ini. Karena si buta dari gua hantu sekarang sudah mendapatkan donor mata baru, yaitu mata pencaharian.
So, jangan lupa besok vote ya.
__ADS_1
Next
👏👏👏