Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Pulang meminta restu


__ADS_3

Hari ini Roby meminta izin pada Morens untuk pulang cepat, karena sore ini Roby bertekad untuk mengajak Rena pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan ibu dan adiknya Rena.


Sepanjang perjalanan, Rena terlihat gelisah. Berkali-kali Rena menarik nafas dan membuang secara kasar, Roby yang melihat hal itu menepikan mobilnya sementara.


"Kenapa?" tanya Roby dengan mengusap bahu Rena.


"Aku takut Rob." Rena menatap mata Roby sekilas dan kembali menundukkan pandangan.


"Takut kenapa?" Roby menggenggam tangan Rena yang sedikit berkeringat.


"Aku takut ibu bakal syok pas tau kalau aku udah punya anak sebelum menikah. Aku juga takut ibu gak akan menerima keberadaan Kafka." Rena meremas jemari tangannya yang digenggam oleh Roby.


"Kamu tenang ya, aku yakin ibu gak seperti itu. Mungkin memang awalnya ibu agak kecewa, tapi aku yakin ibu akan menerima Kafka dengan senang hati. Aku juga akan bicara yang sebenarnya terjadi sama ibu." Roby berusaha menenangkan pikiran Rena.


"Tapi Rob..."


"Percaya sama aku ya, aku jamin semua akan baik-baik saja." Roby membawa Rena kedalam pelukannya.


Rena hanya mengangguk dan tidak memberi jawaban atas ucapan Roby.


Setelah Rena sedikit tenang, Roby kembali melajukan mobilnya untuk sampai ke daerah S dimana ibu dan adik Rena tinggal.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir 5 jam, akhirnya Roby dan Rena tiba di tempat yang sudah beberapa tahun tidak pernah Rena datangi.


Rena merasa sedikit gemetar saat melangkahkan kakinya menuju ke rumah dimana keluarganya berada. Rena takut melihat reaksi dan penolakan dari ibunya.


Roby terus menggenggam tangan Rena seraya memberi kekuatan dan ketenangan.


Roby mulai mengetuk pintu saat sudah berada tepat di depan rumah keluarga Halim.


"Assalamualaikum." ucap Roby disertai dengan ketukan pintu.


"Walaikumsalam." terdengar jawaban dari dalam rumah.


Rena semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Roby, rasanya dia belum siap untuk bertemu dengan ibunya.


Pintu pun terbuka dan munculah sosok yang sangat amat dirindukan oleh Rena, Rena menyembunyikan dirinya dibelakang tubuh Roby.


"Loh ini kan nak..." ibu terlihat mengingat-ingat wajah Roby.


"Saya Roby bu." ucap Roby sambil mencium punggung tangan ibu Lasmi.


"Oh iya nak Roby, ibu baru ingat. Gimana kabarmu?"


"Alhamdulillah baik Bu."


"Lah terus ini siapa?, kok dari tadi ngumpet aja. Ayo neng jangan malu sama ibu." rayu Lasmi mencoba membujuk Rena yang terus saja bersembunyi di belakang Roby.


"Ayo sayang, jangan takut." ucap Roby lirih namun masih bisa di dengar juga oleh Lasmi.

__ADS_1


"Iya neng, jangan takut sama ibu."


Perlahan-lahan Rena mulai menampakan dirinya dan keluar dari balik punggung Roby.


Bu Lasmi melihat sosok gadis yang berada di hadapannya, sosok.yang sudah lumayan lama tidak menampakan dirinya, kini berada dihadapannya. Sosok yang sangat dia rindukan, Bu Lasmi seketika berhambur memeluk tubuh Rena erat sambil menangis.


"Teh, ini si teteh." ucap Bu Lasmi setengah tidak percaya.


"Iya Bu, ini teteh."


"Kamu kenapa gak pernah pulang?"


"Maafin Rena bu."


Bu Lasmi melepaskan pelukannya dan baru tersadar bahwa sedari tadi Rena menggendong sesosok bayi mungil nan tampan.


"Ini siapa teh?" tanya bu Lasmi pada Rena.


Rena terdiam dan terlihat sedikit bergetar, Roby yang melihat itu mengusap bahu Rena.


"Maaf Bu, bisa kita bicara di dalam!" ucap Roby menyela pembicaraan ibu dan anak itu.


"Ah iya ibu lupa, ayo masuk."


Bu Lasmi berjalan terlebih dahulu masuk kedalam rumah, lalu disusul Roby dan Rena.


"Ayo duduk." bu Lasmi meminta mereka untuk duduk di sebuah sofa yang terlihat sudah lama namun nampak masih terawat.


"Oh ya si ganteng ini, ibu taruh di kamar dulu ya. Kasian lagi pulas tidurnya." bu Lasmi mengambil Kafka dari gendongan Rena.


Saat Bu Lasmi tengah berada di kamar untuk menidurkan Kafka, Roby menggenggam tangan Rena dan memberikan kekuatan padanya.


"Kamu tenang aja, yakin sama aku, ibu pasti akan mengerti dengan keadaan ini." ucap Roby sambil menggenggam tangan Rena erat.


Tak lama kemudian, bu Lasmi kembali ke hadapan mereka.


"Jadi, apa anak itu anak kalian?" tanya Lasmi sambil menatap Roby dan Rena bergantian.


"Begini bu, sebelumnya kami minta maaf bu."


"Ada apa nak?" tanya bu Lasmi dengan raut wajah bingung.


"Anak itu namanya Kafka, dan dia memang anak kami."


"Oh jadi kalian udah nikah!, kok gak bilang ibu sih. Tapi ya udahlah gak papa, ibu seneng kok.ternyata ibu udah punya cucu." ibu tersenyum senang mengetahui bahwa dirinya sudah mempunyai cucu.


"Emm, Kafka emang anak kami bu. Tapi kami belum menikah."


Senyum di wajah bu Lasmi seketika menyurut dan berganti dengan raut wajah yang penuh amarah.

__ADS_1


"Maksudnya apa?"


"Maafkan kami Bu, kami melakukan kesalahan yang mengakibatkan Rena hamil sebelum menikah."jawab Roby dengan menunduk, sedangkan Rena sedari tadi terus saja meremas jari jemarinya untuk menghilangkan kegugupannya.


" APA!!, jadi maksud kalian Rena hamil di luar nikah." Bu Lasmi bangkit berdiri seraya menahan amarah.


"Maafin Rena Bu, Rena salah. Rena udah bikin ibu malu, tolong maafin Rena Bu."


PLAK


Bu Lasmi menampar wajah Rena seraya melampiaskan kemarahan yang memuncak.


"Ibu kecewa teh, bisa-bisanya kamu kaya gitu teh. Biarpun kita orang susah tapi jangan sampai membuat malu keluarga teh."


Rena memeluk kaki ibunya meminta pengampunan.


"Iya bu, Rena udah bikin ibu malu. Rena siap dihukum apapun, asal ibu mau maafin Rena Bu."


"Bu, ini bukan salah Rena. Ini salah saya Bu, waktu itu saya khilaf dan memaksa Rena melakukan itu." ucap Roby tegas mengakui kesalahan yang telah dia lakukan.


Bu Lasmi berganti menatap nyalang Roby dan kemudian dia juga menampar wajah Roby.


"Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan."


"Iya Bu, saya pasti bertanggung jawab. Maka dari itu saya datang kemari untuk meminta restu ibu dan menikahi Rena."


"Itu harus, tapi kenapa baru sekarang kalian akan menikah?. Apa kamu terpaksa menikahi Rena?, kalau memang terpaksa lebih baik jangan. Karena saya gak mau Rena dan anaknya nanti kamu sia-siakan."


"Saya tulus mau menikahi Rena Bu, saya cinta sama dia. Soal kenapa baru sekarang!, sebelumnya saya harus menyelesaikan masalah saya terlebih dahulu Bu. Maafkan saya, tapi tolong Bu jangan salahkan Rena."


Bu Lasmi menarik nafas dalam-dalam berkali-kali untuk menetralkan amarahnya.


"Ya udah, biar bagaimanapun semua sudah terjadi. Walaupun saya kecewa sama kalian, tapi apa mau dikata. Sekarang yang harus dipikirkan adalah masa depan anak kalian, siapa namanya?"


"Kafka Bahir Addien." jawab Rena masih sedikit terisak.


"Sekarang yang terpenting adalah Kafka, jadi segera urus pernikahan kalian. Ibu mau tidur sama cucu ibu dulu."


"Makasih Bu."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Maaf ya, untuk besok aku gak update. Karena aku mau mempersiapkan untuk acara 15 hari ibu mertuaku.


See you again in sunday.

__ADS_1


Next


👏👏👏👏👏


__ADS_2