Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Penyerangan


__ADS_3

"Hallo boss." ucap seseorang di seberang telepon.


"Ada apa?"


"Kami diserang." lapornya dengan disertai nafas yang memburu.


"Siapa mereka?"


"Kami gak tau boss, tapi mereka mau menyelamatkan 2 perempuan itu. Jumlah mereka banyak, kami gak akan bertahan lebih lama."


"Tetap bertahan, aku akan mengirim bantuan."


Telepon terputus, Asgar langsung berlari kedalam ruangan Roby dan ternyata Roby sedang berada di ruangan Morens. Asgar segera memberi tahu kepada mereka berdua.


"SIALL!!" umpat Roby, dia kesal karena ternyata musuh bertindak dengan cepat. Baru saja dia dan Morens sedang menyusun strategi penyerangan tapi mereka sudah lebih dulu menyerang.


"Pergilah sama Asgar, kirim dimana lokasinya. Aku segera menyusul dengan beberapa bantuan." perintah Morens pada Roby.


Roby dan Asgar segera meluncur ke lokasi, setelah tiba disana mereka membagi ke dalam 2 arah penyergapan depan dan belakang.


Roby masuk melalui pintu depan dan sengaja memancing agar mereka lengah. Begitu dia masuk, dia melihat 4 orang yang dia tugaskan menjaga tawanan mereka terlihat sudah terkapar tak berdaya.


"Siapa kau?" teriak Roby yang melihat 2 orang pria asing di dalam, dan salah satunya sedang melepaskan tali ikatan Gaby dan Imel.


Pria itu menoleh kearah Roby dan tersenyum smirk "Oh tuan Roby, anda ternyata cepat juga ya."


"Tak usah berbasa-basi, cepat katakan apa maumu, dan kenapa kau mau menyelamatkan 2 wanita ja*ang itu?"


"Ha-ha-ha, sungguh tidak sabaran. Serahkan kotak itu."ucap si pria sambil terduduk di kursi kayu dengan menempatkan salah satu kakinya di paha.


"Kotak apa maksudmu?"


"Jangan pura-pura, aku tau kau mengerti apa yang aku maksud!"ucapnya menyeringai.


"Aku punya banyak macam kotak, kau mau yang bagaimana?" Roby menyentuh dagunya seraya berpikir.


"Hahahaha, anda punya selera humor yang tinggi ternyata." pria itu menjeda ucapannya "Aku hanya mau sebuah kotak yang dititipkan Dein pada ibumu."


"Mohon maaf tuan Antony, saya tidak bisa mengabulkan keinginan anda."


"Kau mengenalku?"


"Siapa yang tidak kenal dengan Anda?, seorang pemimpin geng mafia besar seperti yang anda pimpin. Tapi biar begitu, aku tidak bisa memberikan kotak itu."


Antony menyeringai "Kalau begitu, bagaimana bila melakukan sedikit negosiasi!"


"Negosiasi!, dengan apa?"Roby mengernyitkan dahinya.


Sedangkan dari arah belakang, Asgar sudah siap menyerang. Namun sesaat dia menghentikan langkahnya saat Antony menghubungi seseorang.

__ADS_1


" Dengan ini."


Roby mendengarkan dengan seksama siapa yang Antony hubungi melalui pengeras suara.


"Lepaskan kami!, jangan sentuh anakku!. Argghh,,, MOM!" suara jeritan seseorang didalam telpon.


"Rena!!"


"Bagaimana?, apa kau setuju?"


"Kurang ajar!!, jangan berani kau menyentuh keluargaku." Roby mengeraskan rahangnya.


"Tentu saja!, asalkan kau berikan kotak itu."


"Siall." Roby berdecak kesal "Kotak itu ada dirumah."


"Kalau begitu, kita akan bertemu disuat tempat. Nanti akan kami beritahukan lokasinya." Antony berjalan dengan diikuti beberapa pria di belakangnya dan kedua wanita itu.


"Tunggu!!" Roby menghentikan langkah Antony.


"Ada apa?"


"Tinggalkan kedua wanita itu, kesepakatan kita tidak ada hubungannya dengan mereka." pinta Roby.


Antony berhenti sejenak dan menatap kedua wanita itu.


"Jangan tinggalkan kami, bukanlah kau sudah berjanji akan bekerja sama denganku." Gaby mencoba meyakinkan Antony untuk membawanya pergi.


Gaby membelalakkan matanya mendengar jawaban Antony, dia tidak menyangka bahwa Antony akan mengkhianatinya.


"Apa kau gila!, kita sudah merencanakan ini bersama. Kenapa sekarang kau berkata seperti itu, bukankah kita ini adalah kekasih." Gaby tidak terima dengan ucapan Antony.


Antony tergelak "Ha-ha-ha, kekasih!. Kupikir selama ini kau pintar Gaby, tapi ternyata... Kau jangan pernah berharap apapun padaku, karena aku tidak akan pernah mempunyai kekasih seorang wanita murahan seperti mu." cibir Antony menatap tajam Gaby.


"Brengsek kau Antony." Gaby menggeram marah, dia maju hendak menyerang Antony. Namun 2 orang anak buahnya lebih dulu menghadang.


"Anda bisa membawa kedua wanita itu, bersenang-senanglah tuan Roby." Antony berjalan meninggalkan Gaby dan Imel yang masih tertegun di tempat.


Dia hendak berlari, namun tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh Asgar yang berada dibelakang.


"Mau kemana kau ja*ang?"


"Lepas!" Gaby menepis cekalan tangan Asgar.


Roby mendekati Gaby dengan seringai diwajahnya "Kau akan ku lepaskan, dengan satu syarat."


"Apa itu?" Gaby menatap tajam Roby.


"Dimana mereka membawa keluargaku?"

__ADS_1


"Aku tidak tau."


"Kau pikir aku percaya!, kau bersama dia beberapa tahun, tidak mungkin kau tidak tau markas mereka. Sekarang cepat bicara, dimana mereka menyembunyikan anak dan istriku." Roby mencengkeram dagu Gaby.


"Aku tidak akan memberi taumu, kau pikir aku bodoh. Kau dan Antony sama saja, setelah kau tau dimana mereka kau tetap tidak akan melepaskanku." cibir Gaby.


"Apa selama kau bekerja sama denganku dulu, aku pernah ingkar janji!. Lagi pula terserah padamu, kalau kau tidak ingin bebas dariku. Aku tetap akan menemukan istriku."


Roby menatap Asgar sebagai kode.


Asgar mengambil kembali tali yang tadi dilepaskan dari tubuh Gaby dan Imel dan kembali mengikatkannya.


"Bawa dia." ucap Roby.


Tak lama kemudian, Morens datang dengan beberapa orang pria bertubuh kekar dan terlihat sangat terlatih.


"Bagaimana kondisinya, Roby?" tanya Morens saat baru masuk dan melihat beberapa orang terkapar di lantai.


"Mereka pergi."


"Kenapa kamu biarin mereka pergi?" geram Morens.


"Keluargaku ada sama mereka?" ucap Roby kesal.


Morens berdecak "Menyebalkan."


"Bagaimana dengan kedua wanita ini?" tanya Asgar Morens dan Roby.


Morens menatap Gaby dan Imel bergantian "Aku benci berurusan dengan wanita seperti ini." Morens memanggil salah satu orang yang dia bawa. "Bawa dia ke markas kita, dan beri mereka sedikit hadiah yang kita punya." Morens menyeringai menatap Gaby. Dia tau, wanita inilah sumber masalah yang dihadapi Roby dari dulu.


Gaby yang melihat raut wajah Morens yang di lengkapi seringai jahat, bergidik ngeri. Dia tau arti tatapan seperti itu adalah pertanda bahwa akan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Apalagi saat dia melihat orang-orang yang datang bersama Morens, dia tau kalau mereka adalah bukan orang sembarangan.


"Tunggu!!" Gaby berteriak saat tubuhnya di tarik oleh pria bertubuh kekar, sedangkan Imel. Dia sudah pasrah, dia tidak menyangka bahwa yang dia hadapi adalah sekelompok orang berbahaya.


"Kenapa?" Roby menatap tajam Gaby.


"Aku akan memberi tau dimana markas dan tempat persembunyian mereka, aku yakin mereka membawa keluargamu ke salah satu tempat itu."


"Kau yakin, jangan coba-coba menipu. Atau kau rasakan akibatnya." Morens menimpali.


"Tidak akan, tapi kau janji akan melepaskan kami."


"Ya."


...----------------...


...----------------...


Next

__ADS_1


👏👏👏


__ADS_2