
Rena telah dipindahkan kedalam ruang rawat inap di kelas VIP, awalnya terjadi perdebatan siapa yang akan membayar biaya rumah sakit untuk Rena.
Roby dan Boy sama-sama ingin membayar biaya persalinan wanita yang sama-sama mereka cintai, akhirnya dengan sedikit drama telenovela diputuskan dengan mengetuk palu matrial. Yang membayar tagihan rumah sakit adalah Boy.
Rena hanya bisa menarik nafas panjang, karena harus selalu menyaksikan mereka berdua terus beradu argumen tak kalah dengan rapat wakil rakyat, bahkan disana saja sempat diisi dengan tidur siang dan obrolan santai. Tapi itu tidak berlaku untuk kedua makhluk Tuhan yang untungnya memiliki nilai plus pada wajah, tubuh dan yang pasti dompetnya.
Mereka hanya berhenti saat Rena sudah mulai turun tangan mengehentikan perdebatan mereka.
"Apa kalian gak capek berdebat terus?, kenapa kalian gak jadi anggota wakil rakyat aja yang suka berdebat tanpa bertindak hm!" ujar Rena menyindir Rena dan Boy.
"Baiklah, kalau begitu kamu mau sesuatu?. Aku mau ke kantin cari kopi." tawar Boy pada Rena.
Rena menggeleng "Gak usah, makasih. Kamu jangan terlalu banyak minum kopi, ntar lambung kamu sakit." ucap Rena khawatir.
"Iya, kamu jangan khawatir. Aku kesana dulu ya."
Boy melangkah menuju pintu, tapi sebelum itu Leni memanggilnya.
"Kak Boy boleh ikut gak?" tanya Leni.
"Boleh."
Boy dan Leni pergi ke kantin meninggalkan Rena dan Roby di dalam.
"Apa masih sakit?" tanya Roby berpindah duduk di samping ranjang Rena.
"Udah enggak kok."
"Sekarang apa yang kamu rasain?"
"Cuma lemes aja. Rob, apa tadi kamu yang mengadzani si bayi?" Rena tersenyum pada Roby.
"Iya, kamu gak keberatan kan!"
"Gak kok, bagaimanapun juga dia anak kamu. Jadi kamu berhak atas itu."
"Makasih ya."
Keadaan hening sesaat, karena mereka berdua sama-sama terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Rob."
"Hm."
"Sampai kapan kamu disini?"
Roby mengerutkan keningnya merasa bingung dengan pertanyaan Rena.
"Maksudnya?"
"Em, maksud aku. Kamu disini terus udah lebih dari 2 bulan, apa kamu gak kerja atau apa gitu!"
"Kamu gak suka ada aku disini!" Roby mulai sedikit meninggikan suara.
"Bukan gitu. Maksud aku, aku cuma gak mau kalau sampai kerjaan kamu terbengkalai cuma gara-gara aku." jelas Rena perlahan, dia tidak mau sampai membuat Roby tersinggung dan membuat urusan semakin runyam.
"Aku sengaja kesini emang buat cari kamu, aku langsung dari Amerika buat jemput kamu sama anak kita. Aku kan udah pernah bilang sama kamu, aku minta kamu buat tunggu aku, karena aku pasti kembali buat kamu Ren." Roby menghela nafas panjang " Tapi ternyata kamu udah menikah dan bahkan sama orang yang aku kenal, dan kenapa harus Boy?" ucap Roby frustasi.
"Maaf, kalau udah bikin kamu kecewa. Tapi jujur, sebenarnya waktu itu aku emang tunggu kamu. Walaupun aku gak tau apa yang harus aku tunggu, tapi. Setelah kamu pergi, kamu gak pernah sekalipun hubungi aku. Bahkan sekedar mengirim pesan pun kamu enggak. Aku jadi bimbang, apa aku harus tetap menunggu kamu yang tanpa kepastian, sedangkan hidup aku sudah pasti harus terus berjalan." Rena menarik nafas dalam, seraya mencari kekuatan untuk bicara lebih lanjut.
"Waktu itu aku dilemma, aku harus menentukan pilihan. Tidak mungkin aku terus bekerja pada tuan Morens dengan perut yang semakin lama akan membesar, sedangkan mereka tau aku adalah wanita yang belum bersuami. Tapi setelah aku memilih berhenti bekerja, apa yang harus aku lakukan untuk melanjutkan hidupku. Jika aku pulang ke rumah ibu, aku gak sanggup liat reaksi ibu yang liat aku hamil tanpa bersuami. Jadi aku memutuskan untuk pergi mengasingkan diri dan mencoba melanjutkan hidupku dalam kesendirian. Setelah beberapa bulan aku disini, aku gak sengaja bertemu Boy. Semenjak itulah Boy yang selalu menemaniku disaat sepi, disaat sedih, dia juga yang setia menjagaku dan mengabulkan keinginan ngidamku. Dia juga gak pernah absen mengantarkanku untuk memeriksa kandunganku." jawab Rena panjang lebar dan tanpa terasa air matanya menetes, saat dia kembali mengingat masa-masa sulitnya.
Rasanya Roby tidak rela melepas Rena dan anak mereka yang baru saja dilahirkan, sejujurnya. Roby amat mengidamkan memiliki keluarga kecil yang bahagia dengan Rena dan anak mereka.
Tapi keinginan itu harus dia kubur dalam-dalam. Karena keegoisan dan kebodohannya dulu, kini dia harus menerima bahwa kini Rena sudah menjadi milik orang lain. Itu yang ada dipikiran Roby.
"Kalau begitu, besok aku akan pergi." pamit Roby.
"Apa kamu mau balik ke Amerika?" ada rasa sedih saat Rena mengucapkan pertanyaan itu, sejujurnya dia tidak rela bila Roby harus kembali ke Amerika dan bersama dengan wanita itu lagi.
Roby menggeleng "Aku akan bertemu dengan tuan Morens, dan kayanya aku akan kembali bekerja disana. Lagi pula, aku juga gak mau jauh-jauh dengan anakku."
"Trus!, gimana sama Asgar?"
"Asgar bakal balik ke Amerika, tapi kalau tuan Morens masih membutuhkan tenaganya. Maka Asgar akan tetap bekerja disana."
"Trus!, bagaimana sama ibu kamu!" tanya Rena pelan, takut menyinggung perasaan Roby.
Roby membelalakkan matanya "Dari mana kamu tau soal ibuku?"
__ADS_1
"Dari Asgar." jujur Rena.
"Apa yang dia bilang sama kamu?" Roby takut Asgar menceritakan masa lalunya dan tentang hubungannya dengan Gaby dulu. Walaupun Roby percaya bahwa Asgar tidak akan bercerita sembarangan. Tapi tetap saja, Roby takut Asgar keceplosan dan membuat Rena merasa jijik dengan dirinya bila mengetahui dirinya dulu.
"Dia bilang kamu ada urusan sama ibu kamu."
"Trus apalagi?"
"Dia juga bilang, kalau ayah dan adikmu meninggal karena kecelakaan."
"Terus."
"Udah itu aja, kamu kenapa sih terus terus mulu." protes Rena.
"Enggak, aku penasaran aja sama kedekatan kalian. Padahal kalian kan baru kenal beberapa bulan!" kilah Roby merasa lega.
"Thanks gar, kamu emang sahabat terbaikku." ucap Roby dalam hati.
"Trus, kamu mau kasih nama siapa sama anak ini?" Rena melihat box bayi yang ada disebelahnya, dan disana terdapat seorang bayi mungil dengan kulit yang sangat putih. Perpaduan antara Roby dan Rena, hidung yang mancung dan bibir kecil yang kemerahan.
"Kafka Bahir Addien." yang artinya anak pertama yang menjadi pelita agama.
"Ok Kafka." Rena mencium pipi mulus itu.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Terima kasih atas dukungannya yang udah selalu setia baca cerita recehan ini.
Buat yang lain yang udah trus kasih LIKE, komen, bunga, kopi bahkan VOTENYA. Aku banyak-banyak terima kasih sama kalian.
Lop yu akak semua 😘😘😘
Next
👏👏👏👏👏
__ADS_1