
Setelah kejadian waktu itu, Resti menjadi lebih pendiam. Walaupun ibu sudah berkali-kali meminta maaf dan mencoba membuat Resti kembali semula, namun tetap saja tidak sama seperti dulu.
Hanya kehadiran Jagat yang mampu menghadirkan sedikit senyum di wajah ayu Resti terpancar, Bu Lastri sangat bersyukur dengan hadirnya Jagat yang menyelematkan Resti dan mampu menghibur Resti. Dia juga bersyukur, disaat seperti ini kehadiran Jennie dan Kafka mampu menggantikan kesepian dirinya dari masalah ini.
2 minggu berlalu sejak kejadian itu, Jagat rutin menyempatkan waktu berkunjung ke Rumah Bu Lastri. Dia ingin mengetahui keadaan Resti dan juga karena jalur menuju ke kantornya melewati jalan ke Rumah Resti.
Jagat semakin dekat dan akrab dengan keluarga itu, Bu Lastri tidak melarang Jagat selalu menemui anak bungsunya itu. Dia percaya bahwa Jagat adalah anak yang baik dan mampu menjaga Resti.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Jagat seraya mengemudikan mobilnya dengan fokus.
"Sebenarnya sih aku mau mampir ke toko buku, aku mau cari buku buat tugas kuliah aku. Tapi,,, kalau kamu capek, gak usah deh. Lain kali aja." ujar Resti merasa tak enak hati.
Sebab hari ini, Jagat menjemput Resti dari kampusnya setelah dia pulang menemui rekan bisnisnya di luar dan memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Maka dari itu, dia memilih menjemput Resti.
"Gak papa, aku gak capek. Ya udah kita meluncur ke toko buku langganan aku ya." Jagat tersenyum manis, yang mampu membuat wajah Resti memerah dan dadanya berdegup cepat.
"Mang kamu suka baca buku juga?"
"Gak terlalu sih, dulu kalau aku butuh buku, aku selalu ketempat itu. Selain di sana lengkap dan harganya juga sepadan di kantong anak kuliahan, di sana juga tempatnya asyik buat kumpul bareng teman ataupun pertemuan dengan relasi." ucap Jagat sambil menoleh sekilas.
"Ok deh, aku mau liat kaya apa tempatnya!!. Jadi penasaran gitu."
"Kamu pasti seneng sama tempat itu."
Jagat mengemudikan mobilnya menuju ke arah yang dia maksud, 20 menit kemudian mereka tiba di sebuah toko buku yang bernuansa ala Eropa.
Dengan dekorasi minimalis berarsitektur gaya Tempo dulu, juga dilengkapi dengan fasilitas meeting rooms dan living room. Tempat ini benar-benar cocok bila di jadikan tempat menenangkan pikiran dan raga dari segala aktivitas sambil membaca buku kegemaran kita.
Resti sangat antusias melihat banyaknya buku yang tersusun rapi diantara banyaknya rak-rak berjajar tinggi, dari segala jenis buku, usia buku, genre dan juga yang lainnya.
Tak terasa satu jam Resti berkeliling mencari buku yang dia inginkan, dia terlalu bingung karena begitu banyak buku yang dia inginkan. Namun apalah daya, tidak mungkin dia membawa semuanya.
"Udah yuk kita pulang, udah jam..." Resti melihat jam yang melingkar. di tangan kirinya "Astaga!!, udah satu jam kita disini. Jagat maaf ya, aku keasikan milih. Maaf banget udah buang waktu kamu."
"Gak papa kok, ya udah yuk pulang. Tapi sebelum itu mampir ke hotelku sebentar ya, aku mau ambil dokumen disana."
__ADS_1
"Ok, tapi aku telpon ibu dulu ya. Aku takut ibu kepikiran nanti." Resti merogoh tasnya hendak mengambil ponselnya.
"Gak usah, aku cuma sebentar kok." tolak Jagat seraya menahan tangan Resti untuk mengambil ponselnya.
"Kenapa?, aku takut ibu kepikiran nanti."
"Gak akan!!, ini kan baru jam 5 sore. Aku janji gak akan lama, kalau kamu kasih kabar ke ibu pulang telat, yang ada dia malah kepikiran nanti." rayu Jagat.
Resti berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk "Ok deh."
Resti dan Jagat menuju ke bagian kasir untuk melakukan pembayaran, setelah itu mereka kembali ke mobil dan mulai melaju ke tempat yang dimaksud oleh Jagat.
20 menit kemudian mereka tiba di salah satu hotel milik Jagat, Resti awalnya menolak untuk ikut masuk dengan alasan tidak nyaman. Namun Jagat terus membujuk Resti dengan mengatakan bahwa dia tidak mau dianggap menelantarkan seorang wanita yang ditinggalkan di tempat parkir.
Akhirnya dengan terpaksa Resti ikut masuk kedalam ruangan kantor khusus pengelola hotel.
"Tunggu sebentar ya, aku mau ketemu bagian staf pengelola. Kalau haus kamu ambil aja di mini kulkas di pojok ruangan." ucap Jagat sambil mengarahkan Resti untuk duduk di sofa.
"Ok."
Saat dia masuk, dia mendapati Resti yang tengah serius menatap langit sore dari balkon yang ada di ruangan itu, hingga tidak menyadari hadirnya. Jagat meletakkan berkas di tangannya di meja, dan dia melihat ponsel milik Resti tergeletak begitu saja disana.
Jagat mengambil ponsel milik Resti dan menyembunyikannya di dalam kolong sofa dalam keadaan off. Setelah itu Jagat menghampiri Resti yang berdiri membelakangi dirinya.
Jagat memeluk pinggang Resti dari belakang, dan membuat Resti tersentak kaget.
"Eh!!, Jagat. Kamu udah balik?, apa kita udah bisa pulang?"
"Tunggu sebentar." Jagat menciumi rambut dan bagian leher Resti yang tidak tertutup rambut.
"Em,,, Jagat. Bisa gak lepasin, jangan kaya gini ah." tolak Resti mencoba mengurai pelukan Jagat yang semakin kencang.
"Kenapa?, kamu gak nyaman!!. Mulai sekarang kamu harus terbiasa." Jagat semakin gencar mengeksplor leher dan pundak Resti.
Resti terus bergeliat risih "Tapi, kita bukan siapa-siapa. Lagian aku gak mau ngelakuin hal di luar batas."
__ADS_1
"Jadi selama ini kamu anggap aku apa?"
"Aku anggap kamu kakak aku, aku ngerasa terlindungi kalau sama kamu. Sama seperti kak Roby."
"Jadi semua yang udah aku kasih ke kamu itu cuma sebagai ungkapan rasa sayang kakak ke adiknya gitu!!" Jagat membalik tubuh Resti dan berbalik menatap matanya.
"Apa kamu gak ikhlas ngelakuin semua itu?"
"Aku ikhlas kok, tapi semua harus ada timbal baliknya kan!!" Jagat menyeringai.
"Maksud kamu?" Resti mengerutkan keningnya.
"Ya,,, paling gak aku dapat sesuatu dari tubuh kamu gitu." ucap Jagat berbisik di telinga Resti.
"Jadi, aku harus membayar semua itu dengan tubuh aku!!. Gitu maksud kamu?" hardik Resti sembari menatap tajam Jagat.
"Bukan membayar, lebih tepatnya membalas Budi."
"Kurang ajar!!, jadi selama ini kamu nolongin dan bantu aku, itu semua ada imbalannya."
"Ya iyalah, hari gini kok gratisan. Anggap aja kamu ngelayanin pacar kamu, toh aku juga udah banyak bantu kamu. Dari pada kamu harus ngelayanin cowok yang gak jelas waktu itu."
"Brengsek!!!" Resti menampar wajah Jagat.
"Sialan, udah berani lu ya sama gua hah!!. Gak inget siapa yang udah nolongin lu hah." bentak Jagat sambil mencengkram lengan Resti hingga membuat Resti meringis.
"Ternyata lu sama saja kaya cowok itu, sama-sama bejat."
"Munafik."
...----------------...
......................
Next
__ADS_1
👏👏👏