Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Virus jenis baru


__ADS_3

Roby melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya dan menjelaskan semuanya.


Roby tau, Rena pasti sedang tidak baik-baik saja. Walaupun itu semua bukan salahnya, tapi tetap saja Roby sangat menyesal kenapa Rena harus melihatnya dalam keadaan yang sangat memalukan seperti kemarin.


Roby menekan tombol kode pintu apartemen dengan gerakan cepat, begitu masuk dia melihat Rena tengah berada di dapur. Tapi entah mengapa, tiba-tiba Roby menjadi sangat gugup. Keinginan yang tadi sangat menggebu-gebu kini menguap begitu saja.


Roby menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, dia melakukan itu beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugupnya saat ini.


Roby mendekati Rena dan berhenti tepat dibelakang Rena berdiri, sesaat dia memperhatikan punggung wanita kesayangannya itu yang sedang fokus dengan alat-alat masaknya.


Sebenarnya Rena sudah tau kalau Roby sudah datang, dia dapat mencium aroma tubuh Roby yang sudah sangat dia hafal. Tapi, Rena mencoba mengabaikan Roby karena saat ini dia mencium aroma parfum wanita yang sangat menyengat dari pakaian yang Roby kenakan. Pakaian yang sama dengan yang digunakan Roby kemarin.


Roby berdehem untuk menghilangkan kecanggungan dan mengumpulkan keberanian.


"Ehem, kamu masak apa sayang?" tanya Roby lembut.


"Kamu baru pulang?" Rena menjawab pertanyaan Roby dengan pertanyaan.


"Iya. Aku kesiangan. Kamu pergi tapi gak bangunin aku." jawab Roby dengan nada sedikit manja.


"Kamu langsung kesini tadi!" Rena mengacuhkan ucapan Roby.


"Hm." jawab Roby ragu-ragu.


"Setau aku, jarak dari hotel itu kesini paling cuma 45-60 menit. Tapi kok kamu baru sampai ya, padahal tadi aku telpon ke hotel katanya kamu udah cek out dari 3 jam yang lalu." Rena bicara dengan masih fokus pada masakannya, dia tidak menatap Roby sama sekali sejak tadi dia datang.


"Eh,,, tadi aku mampir dulu ke tempat lain." Roby menjawab dengan sangat hati-hati.


"Kemana?" tanya Rena masih tanpa menatap Roby.


"Ke,,,,"


"Temu cewek-cewek yang kemarin." Rena menyambung ucapan Roby yang menggantung.


"Iya." suara Roby lirih bahkan nyaris tak terdengar.


Rena mematikan kompor saat masakannya sudah matang, lalu dia berbalik badan dan menatap tajam Roby yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu masih belum puas sama mereka?, masih mau dilanjut yang kemarin tertunda!" Rena bersedekap dada dan mencoba mengintimidasi suaminya itu.


"Bu,,, bukan gitu kok. Aku kesana buat..."


"Buat apa?"


Roby terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Dia tidak mau mengatakan kepada Rena bahwa dia kesana untuk memberikan pelajaran pada kedua wanita ****** itu. Dia tidak mau Rena mengetahui sisi kejamnya yang selama ini dia pendam, tapi bila tidak mengatakan yang sebenarnya, Rena pasti akan tambah salah paham lagi pada dirinya.


"Buat apa?" tanya Rena lagi, Rena penasaran dan cuma ingin Roby jujur apa yang dia lakukan. Itu saja.


Roby membuang nafas kasar.


"Aku,,,, kesana,,, buat cari tau apa alasannya Gaby berbuat itu."


"Cuma itu!" tatap Rena menyelidik.


Roby mengangguk lemah.


"Yakin!!"


"Iya sayang, please percaya sama aku. Mereka menjebak aku."


Namun Roby terus mengikuti kemanapun Rena pergi, dia masih belum tenang sampai dia bisa melihat senyum manis istrinya seperti biasanya.


"Berarti kamu Udah maafin aku kan!"


"Gak tau." Rena masih terus berjalan mondar-mandir tanpa tujuan dan Roby yang terus mengekor bak kereta api.


"Loh kok gak tau, aku kan udah jelasin sama kamu. Aku itu dijebak, aku gak sadar karena udah dikasih obat bius dan obat sialan itu. Aku gak salah Rena."


Rena menghentikan langkahnya dan menatap mata Roby dalam-dalam.


"Sekarang aku tanya sama kamu, bagaimana kalau posisinya dibalik. Aku yang dijebak, dan begitu kamu masuk kedalam hotel terus liat aku dengan posisi dan kondisi yang kaya kemarin. Apa yang kamu rasain?"


"Aku..."


"Aku tau itu bukan mau kamu, aku juga percaya kalau kamu di jebak. Tapi jujur, aku masih gak kuat kalau ingat kalian semua kemarin dalam keadaan polos dan posisi yang intim. Mungkin kalau aku gak datang tepat waktu, mungkin aja kalian..." Rena menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Aku udah coba buat lupain itu, tapi buat sekarang aku belum bisa. Aku gak tau apa yang udah kamu dan Gaby sering lakukan dulu, sampai-sampai dia gak bisa lepasin kamu begitu aja. Tapi aku udah gak permasalahkan itu, dan aku juga gak marah sama kamu.


Aku cuma lagi menenangkan hatiku. Tapi aku minta sama kamu, mulai sekarang, apapun itu. Tolong,,,, tolong kamu cerita sama aku." ucap Rena dengan tatapan sendu.


Dia berpikir, sampai kapan masalah Gaby akan terus berlanjut. Apa yang sebenarnya terjadi, sungguh dia sangat ingin tau.


"Iya sayang, maafin aku yang belum bisa jujur semua tentang aku." Roby menundukkan kepalanya, dia tidak sampai hati menatap mata Rena.


"Iya."


"Makasih sayang." Roby maju ingin memeluk Rena, namun Rena lebih dulu mundur menghindari pelukan itu.


Roby menatap heran Rena, katanya sudah dimaafkan tapi kok masih tidak mau dipeluk. "Kenapa?"


"Kamu mandi dulu, trus ganti baju kamu."


"Tapi aku udah mandi kok, mang aku bau ya?" tanya Roby sambil menciumi tubuhnya sendiri.


"Ya... Kamu bau. Bau wanita penggoda."


"Oh, Ok komandan. Aku mandi lagi pakai sabun tujuh kali, trus aku bakal buang baju yang udah terkontaminasi virus itu."


"Tapi cuci dulu bajunitu sama kamu sebelum kamu buang."


"Loh kenapa musti di cuci dulu, kan mau dibuang!" Roby heran dengan pemikiran istrinya.


"Aku gak mau sampai virus penggoda itu tersebar kemana-mana. Kalau perlu habis ini kamu semprot dan sterilkan rumah ini." ucap Rena sambil berlalu pergi menuju kamar Kafka yang sedang tertidur dengan Jennie.


"SIAP KOMANDAN." jawabnya dengan mengangkat tangan memberi hormat.


"Istriku savage kalau lagi marah." batin Roby sambil bergidik ngeri.


...----------------...


...----------------...


Next

__ADS_1


👏👏👏


__ADS_2