Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Perhatian


__ADS_3

"Ren."


"Ya Boy, ada apa?" tanya Rena sambil membaca laporan keuangan bulan lalu.


"Aku akan kembali ke ibu kota 2 hari lagi."


"Terus."


"Apa kamu gak masalah aku tinggal?"


Rena menutup laporan yang sedang dia baca, lalu tatapannya beralih pada Boy dengan tatapan bingung.


"Jujur aku khawatir ninggalin kamu disini sendirian, setelah tau sekarang kamu lagi hamil. Aku takut kamu butuh sesuatu dan gak ada yang akan bantu kamu."


Memang selama Boy disini satu bulan ini, Boy selalu ada untuk Rena. Bahkan di malam hari, walaupun Boy tidak mengunjunginya tapi Boy akan menghubungi Rena dan bertanya apa yang dibutuhkan Rena.


Jujur saja, Rena juga merasakan adanya kenyamanan dan keamanan saat adanya Boy. Bahkan Rena sudah melupakan apa yang sudah terjadi pada dirinya kemarin, karena Boy selalu memperhatikan kondisi Rena dan janinnya dengan baik.


"Aku gak papa Boy, bukannya sebelumnya juga aku sendiri. Lagi pula disini kan ada pegawai yang bisa bantu aku."


"Tapi kan mereka tidak sepenuhnya menjaga kamu Rena."


"Kamu tenang aja ya Boy, aku tau kamu juga banyak yang harus diurus disana. Aku juga terima kasih karena kamu udah selalu bantu aku."


Boy mendesah pasrah.


"Ok, tapi aku mau besok kita cek kandungan kamu ya."


"Tapi Boy, aku kan baru 2 minggu yang lalu cek kandungan." protes Rena.


"Aku gak peduli, sebelum aku kembali ke Jakarta, aku harus pastiin bahwa kondisi kamu dan janinmu sehat. Biar aku tenang ninggalin kamu disini, kamu tenang aja, pokoknya saat kamu melahirkan aku pasti ada disini."


"Gak usah dipaksain Boy, kalau kamu banyak kerjaan kamu gak perlu datang kesini."


"Tapi aku bakal tetep dateng kok, kamu tenang aja." Boy mengedipkan matanya.


Rena memutar bola matanya malas


"Up to you lah Boy."

__ADS_1


"Kamu udah selesai belum?"


"Sebenarnya sih belum, tapi aku mau pulang aja lah. Lagi gak mood." Ucap Rena sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Gimana kalau kita jalan-jalan sore!, dari yang aku dengar nih, jalan-jalan sore itu bagus buat ibu hamil. Kamu mau kan!" Boy membujuk Rena agar mau pergi bersamanya. Rena menyetujui ajakan Boy dan kini mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kita mau kemana?" tanya Rena.


"Gimana kalau kita ke taman." usul Boy.


"Ya udah, boleh juga. Tapi aku mau beli cimol goreng dulu ya, kayanya enak deh." Rena membayangkan enaknya makan cimol goreng sambil mengusap perutnya.


"Cimol goreng!" tanya Boy bingung, pasalnya dia baru mendengar nama makanan seperti itu.


"Cimol goreng itu, makanan yang terbuat dari sagu yang direbus hingga meleleh, lalu dibentuk seperti bola-bola kecil dan biasanya dimakan pakai bumbu kacang atau bubuk cabai." jelas Rena.


"Bubuk cabai!!!, itu kan pedes bukan."


"Iya."


"Kamu jangan makan itu ah, kasian anak kamu." Boy memperingatkan Rena.


Rena tersenyum melihat sikap protektif Boy. "Ya enggaklah, aku makannya pakai bumbu kacang sama kecap kok."


Rena yang terkejut dengan perlakuan Boy itupun langsung memundurkan tubuhnya.


Boy seketika tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Maaf, aku gak sengaja." ucap Boy tulus.


"Gak papa."


Keadaan menjadi hening seketika, Rena terdiam karena merasa canggung atas peristiwa tadi, sedangkan Boy terdiam karena merasa tidak enak pada Rena.


Mereka tiba di sebuah taman di pinggiran kota yang terletak di pinggir sebuah danau buatan.


Rena nampak sumringah melihat penjual cimol goreng ada di sekitar taman itu, dengan begitu antusias Rena berjalan menghampiri si penjual cimol. Rena tidak peduli pada tanggapan orang lain yang menilai dirinya sangat tidak tau malu. Bahkan dia melupakan Boy yang masih berada di dalam mobil.


Rena sudah sangat tidak sabar ingin mengunyah cimol itu di mulutnya, ini adalah ngidam makanan pertamanya semenjak hamil. Padahal sebelumnya dia tidak pernah begitu menginginkan sesuatu.

__ADS_1


Karena terlalu bersemangat, Rena sampai tidak menyadari bahwa dirinya berjalan sangat cepat. Dia lupa kalau saat ini dirinya tengah membawa sesosok nyawa yang ada di dalam tubuhnya.


Sampai dimana dia menginjak sebuah batu kecil, dan mengakibatkan langkahnya gontai karena merasakan nyeri yang cukup mendera.


Tubuh Rena mendadak oleng dan dia limbung ke arah samping kanan, dimana ada sebuah kolam ikan yang berukuran cukup dalam menantinya disana.


"Aarrggghhh." teriak Rena.


...----------------...


Sementara di tempat lain


Roby telah sampai di apartemen miliknya yang sekarang di tempati oleh Asgar.


Besok rencananya dia akan memulai pencarian pada Rena, setelah kemarin dia selesai bertanya pada Asgar dan mencari tau dari orang-orang disekitar tempat tinggal Rena dulu.


Walaupun hanya sedikit informasi yang di dapat, tapi Roby tetap akan melanjutkan pencarian itu. Dia bertekad harus menemukan Rena apapun keadaannya.


Hari ini Roby mempersiapkan segala sesuatunya, besok dia akan mengunjungi rumah orang tua Rena yang dia dapat dari ketua RT tempat tinggal Rena dulu.


Roby mencoba sekali lagi menghubungi Rena, namun nomor yang dituju tetap saja tidak aktif.


Roby mendesah pasrah, dia kembali teringat akan kejadian dimana dia sedang bersama Gaby di dalam lift. Disitu Roby bisa melihat tatapan Rena yang terlihat sangat jijik akan dirinya.


Disaat itulah Roby merasa bahwa dia sudah sangat menyakiti Rena dan ditambah lagi perlakuannya yang memaksa Rena untuk menjadi miliknya seutuhnya.


Roby terduduk lemas di lantai kamar yang dia tempati, dia merasa sudah menjadi laki-laki brengsek dan egois.


"Rena, maafkan aku. Rena, maaf. Aku sangat bersalah Rena, aku tau kamu pasti kecewa banget sama aku. Maaf." Roby berucap pada dirinya sendiri.


......................


......................


......................


Jangan lupa vitaminnya, udah hari Senin nih. Sekedar mengingatkan untuk yang VOTENYA tidak terpakai, boleh didonasikan kepada author kacangan ini.


Maacih.

__ADS_1


Next


👏👏👏


__ADS_2