
Hari-hari yang dilalui oleh Rena dan Roby dipenuhi dengan kebahagiaan, kini Rena dapat melihat sisi lain dari Roby yang ternyata sangat pengertian dan juga romantis.
Sering kali Roby tiba-tiba membawa Rena untuk makan malam romantis bertiga, terkadang juga Roby membawa keluarga kecilnya untuk pergi ke taman bermain, dan setiap hari libur Roby pasti membebaskan Rena dari pekerjaan rumah tangga.
Rena tersenyum mengingat kejadian pagi tadi sebelum Roby berangkat ke kantor, Rena tidak habis pikir bahwa Roby bisa seperti itu. Entah kenapa hari ini Roby terlihat sangat manja.
Biasanya Rena hanya menyiapkan pakaian yang akan Roby gunakan untuk bekerja, setelah itu dia akan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Tapi hari ini Roby minta Rena memakaikan semua atribut yang akan dia pakai untuk ke kantor.
Flashback on
Rena dengan telaten dan serius memakaikan kemeja dan memasangkan dasi pada Roby, begitu Rena tengah menyisir rambut Roby, terdengar suara Kafka menangis.
Rena langsung menghentikan kegiatannya dan hendak beranjak ke kamar Kafka, namun Roby menahan lengan Rena terlebih dahulu.
"Mau kemana?" tanya Roby menatap intens Rena.
"Aku mau liat Kafka dulu, kamu gak denger dia nangis."
"Tapi aku belum selesai."
"Iya kamu lanjutin dulu sendiri bisa kan!" rayu Rena.
"Aku maunya sama kamu babe." Roby mencium leher Rena.
"Dad, jangan macem-macem ih. Kasian tuh anaknya."
"Kamu gak kasian sama aku?"
"Jangan mulai."
"Mommy jahat nih."
"Pake sendiri dulu ya dad, besok mommy pakein plus servisnya." rayu Rena sambil mencium pipi Roby.
"Bener ya!" Roby tersenyum sumringah.
"Hm."
Rena langsung bergegas melihat Kafka, setelah Rena pergi, Roby tak berhenti tersenyum bahkan dia bersenandung sambil merapikan kemeja dan dasinya. Setelah itu dia langsung keluar kamar, dan menuju meja makan.
Saat tiba disana, dia tidak melihat istrinya. Roby yakin Rena masih berada di dalam kamar Kafka. Roby memilih menunggu dan duduk di kursi sambil meminum kopi dan memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh Rena.
Tak lama kemudian Rena datang sambil menggendong Kafka, dia melihat Roby sudah selesai sarapan dan tengah membersihkan mulutnya dengan tisue.
"Kamu udah sarapan dad?" tanya Rena sambil menimang Kafka.
Memang disana ada ART, tapi dia hanya datang saat Roby sudah pergi bekerja dan akan pulang di sore hari. Jadi setiap pagi Rena yang menyiapkan segala keperluan Roby.
"Udah sayang, sini Kafka sama aku. Kamu sarapan dulu."
"Da da da da." celoteh Kafka seperti ingin digendong oleh Roby.
"Enggak ya sayang, daddy mau ke kantor." Rena membujuk Kafka agar tidak menangis.
__ADS_1
"Gak papa mom, sini biar aku gendong." tawar Roby yang sudah ingin berdiri.
"Gak usah dad, kamu udah rapih. Nanti baju kamu kusut dan kotor lagi." tolak Rena.
"Ya udah kalau gitu daddy berangkat dulu ya." Roby bangun dan menghampiri Rena. Dia membersihkan ciuman di pipi Rena dan Kafka.
Setelah itu Roby mengambil kunci mobil dan juga ponselnya seraya melenggang ke arah pintu.
"Dad." panggil Rena.
Roby kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rena.
"Iya mom."
"Kamu kelupaan sesuatu gak?"tanya Rena memicingkan matanya.
Roby sejenak berpikir "Gak tuh."
"Yakin!!"
"Iya yakin, kenapa?. Kamu masih mau deket-deket sama aku." goda Roby menghampiri Rena lagi.
"Kamu gak inget gitu!"
"Apaan?" Roby berpikir dan kemudian langsung tersenyum "Aku tau, Morning kiss kan." Roby langsung mencium bibir Rena dengan lama.
"Ih bukan itu, kamu mah main nyosor aja." kesal Rena karena Roby mencium Rena dengan rakus.
"Kamu mau kerja apa mau mandi?" ucap Rena.
"Hah!!"
"Liat tuh." tunjuk Rena ke arah bagian bawah Roby dengan menggunakan dagu.
Roby melihat ke arah yang ditunjuk sang istri, dan dia langsung terperanjat kaget begitu melihat bahwa dia masih mengenakan handuk yang tadi dia gunakan sehabis mandi dan bagian atasnya sudah rapih dengan kemeja dan dasinya, tak lupa juga rambut klimisnya.
"Oh my god." Roby menepuk keningnya sendiri, sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
Flashback off.
Karena bibi sudah datang, jadi Rena sudah tidak melakukan apa-apa. Kini dia tengah bersantai duduk di balkon sambil membaca novel yang dia punya sewaktu masih bersekolah, dan saat kemarin dia menikah Rena membawanya ke Jakarta untuk menghilangkan kebosanan saat berada di apartemen.
Saat tengah asik membaca, terdengar suara dering ponsel milik Rena yang tergeletak di sebelahnya. Rena menghentikan bacanya dan mengambil ponselnya seraya melihat siapa yang menghubungi dirinya.
Seketika jantungnya berdetak kencang dan nafasnya terasa sesak, berkali-kali Rena menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo." ucap Rena lirih.
"Hallo Ren, gimana kabar kamu?"
"A...Aku baik Boy."jawab Rena gugup.
"Kamu lagi dimana sekarang?"
__ADS_1
"Aku... Aku di kedai."
"Yang bener!, dari kemarin aku ke kedai tapi kamu gak ada."
"Oh,, udah beberapa hari aku gak ke kedai. Aku gak enak badan." bohong Rena.
"Tapi 2 hari kemarin aku juga ke rumah kamu, dan kamu gak ada."
"Eh... itu."
"Sekarang kamu dimana Ren?, jujur sama aku."
"Aku lagi di luar kota Boy." kilah Rena.
"Di luar kota!, kamu di Jakarta kan?"
"Aku.."
"Kamu di Jakarta sama Roby kan!" tuding Boy karena Rena tidak kunjung bicara jujur.
"Boy, Aku." Rena bingung harus bicara apa.
Apakah dia harus jujur pada Boy kalau dia sekarang sudah menikah dengan Roby, tapi Rena tidak ingin menyakiti hati Boy yang sudah sangat baik padanya. Tapi harus sampai kapan dia menyembunyikan kenyataan yang menyakitkan ini untuk Boy.
Sungguh Rena tidak bisa melihat Boy bersedih, walaupun Rena tidak mempunyai perasaan pada Boy, tapi dia sangat menyayangi Boy seperti kakaknya sendiri.
Inilah yang ditakutkan Rena saat Boy keras kepala untuk membantunya waktu itu, Rena sudah tau bahwa hal ini suatu saat pasti terjadi.
"Bisa kita ketemu?" tanya Boy saat tak mendapati jawaban dari Rena.
"Ketemu!!"
"Iya, hari ini aku tunggu di resto xx jam makan siang."
"Kenapa harus di resto xx?" Rena merasa gelisah, dia takut Roby salah paham karena dia masih menemui Boy.
Apalagi resto itu jaraknya sangat dekat dengan apartemen yang dia tempati saat ini.
"Kenapa?, kamu takut Roby marah karena bertemu denganku."
"Bu... Bukan begitu Boy."
"Kamu jangan khawatir, aku cuma mendengar penjelasan darimu secara langsung. Aku sadar diri bahwa aku bukan siapa-siapa buat kamu, pokoknya aku tunggu jam makan siang nanti."
"Boy."
...----------------...
...----------------...
Next
👏👏👏
__ADS_1