
"Sayang....." panggil Roby mesra pada sang istri.
Saat ini mereka sedang berada di dalam kamar, setelah siang tadi membicarakan tentang Boy dan Resti.
"Hm."jawab Rena malas.
"Yang."
"Apa sih!!"
"Kamu yakin?"
Rena menghentikan aktivitas memoles skin care pada wajahnya, saat mendengar pertanyaan dari suaminya. "Yakin apa?"
"Tentang Boy."
"Memang kenapa Boy?"
"Aku kok masih belum yakin kalau Boy itu serius sama Resti!!"
"Trus, menurut kamu!!.. Apa yang harus Boy lakuin buat membuktikan keseriusan dia." tantang Rena, karena dia tau bahwa sebenarnya Roby hanya belum siap menerima jika mantan rivalnya harus menjadi adik iparnya kelak.
"Ya..... aku cuma nggak yakin aja. Aku khawatir Boy ada niat gak baik sama adik kamu." Roby duduk berjongkok di hadapan Rena yang kembali sibuk dengan skincarenya.
"Apa yang bikin kamu ragu soal Boy?, dengerin aku ya dad. Aku bicara gini bukan karena aku membela Boy." Rena mengalihkan pandangannya dari cermin dan beralih kepada Roby "Menurut yang aku tau dan aku alami, Boy itu bukan tipe orang pendendam. Dia juga salah satu pria yang gentleman, Boy selalu jujur dan terbuka atas apa yang dia pikir atau rasakan."
Rena menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan mungilnya "Lagi pula dad, kalau dia emang mau balas kita, kenapa gak dari sebelumnya. Dia punya banyak kesempatan waktu itu, apa lagi waktu kamu tinggalin aku sendiri."
"Maaf sayang, aku udah menelantarkan kamu sama Kafka. Aku..."
"Sstt.... Aku udah maafin kamu kok, aku tau situasi kamu saat itu." Rena menempelkan jari telunjuk di bibir Roby.
"Makasih sayang."
"Sekarang yang penting, kamu harus belajar menerima kenyataan bahwa sebentar lagi Boy bakal jadi ipar kamu."
"Tapi..."
"No tapi-tapi."
"Ya udah deh."
"Nah gitu dong, anak pintar."
"Tapi yang, ngomongin soal pernikahan. Aku baru ingat kalau kita belum mengadakan resepsi pernikahan kan!!!"
"Resepsi!!, aku rasa gak perlu deh."
"Perlu dong!!"
__ADS_1
"Buat apa?"
"Ya itu kan sebagai salah satu bentuk bukti hubungan kita di khalayak umum."
"Kalau soal bukti, kita punya bukti yang lebih konkrit."
"Apa?"
"Itu." tunjuk Rena pada sebuah foto yang tergantung di salah satu sisi dinding kamar.
"Itukan cuma foto!" dilihatnya Roby foto dimana dia sedang menggendong Kafka dan Rena yang berdiri di sampingnya dengan senyum yang merekah.
"Bukan fotonya yang dilihat, tapi apa yang nampak didalam foto itu. Di foto itu, kita adalah sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Dimana disana ada senyum disertai dengan adanya sebuah keluarga bahagia antara sepasang suami istri dan seorang anak. Aku gak butuh bukti apapun lagi."
"Aku tau sayang, aku juga bahagia dan sudah puas dengan apa yang aku punya sekarang ini. Hanya saja aku cuma mau memberikan sebuah kenangan terindah untuk kamu dan kita."
Sejenak Rena berpikir dan menimbang, apakah dia akan menyetujui keinginan Roby untuk mengadakan resepsi pernikahan yang sudah terlambat itu. Tak lama kemudian, Rena tersenyum dan menatap Roby dengan tatapan yang entah apa maksudnya. "Ok, aku setuju."
"Beneran!!, makasih sayang. Kalau begitu kamu mau konsep yang seperti apa?"
tanya Roby antusias.
"Besok aja ya kita bahas itu, sekarang sudah malam. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus kita lakukan." jawab Rena asal.
"Kamu benar sayang." Roby bangun dari duduknya dengan semangat, dan tiba-tiba menggendong sang istri ala bridal.
"Loh-loh apa ini?" kaget Rena saat Roby tiba-tiba mencumbunya.
"Maksud aku tidur."
"Tapi ini jauh lebih penting dari itu, kita buatkan teman buat Kafka biar dia gak kesepian."
"Ah, dasar kamu." Dan merekapun bekerja keras bersama untuk memupuk lahan agar berbuah menjadi seorang anak yang lucu untuk Kafka.
Keesokan harinya
Setelah jam makan malam, Boy kembali datang ke kediaman Bu Lastri untuk membahas soal kelanjutan rencana pernikahannya dengan Resti.
Sedangkan orang tuanya sudah menyerahkan semuanya pada keluarga Bu Lastri dan juga Boy, mereka akan datang menjelang hari pernikahan sang anak.
Suasana kembali hening sejenak sebelum ada yang memulai percakapan, sampai dimana Boy dengan penuh percaya diri membuka percakapan diantara mereka.
"Em, maaf Bu. Bagaimana soal rencana pernikahan kami?, apa ibu ada suatu keinginan!. Ibu bilang aja, kalau saya bisa pasti saya kabulkan Bu." ucap Boy dengan yakin dan sopan.
"Em, ibu sih gak ada permintaan apapun. Ibu cuma minta jaga baik-baik Resti jangan buat nangis dia, kalau kamu sudah gak mau lagi sama anak ibu tolong kembalikan dia baik-baik." pinta Bu Lastri dengan setengah menahan haru.
Boy mendekat dan kemudian bersimpuh di kaki Bu Lastri seraya menggenggam tangan sang calon ibu mertua "Ibu gak perlu khawatir soal itu, tanpa ibu mintapun saya akan jaga anak ibu yang bawel itu dengan baik-baik. Ya walaupun saya harus mendengarkan rengekan manjanya, saya pasrah dan ikhlas kok Bu." ucap Boy untuk mencairkan suasana.
"Ih kakak." rengek Resti manja.
__ADS_1
"Tapi Boy, Resti kan masih belum lulus. Kamu gak masalah soal itu?" tanya Rena.
"Gak masalah kok, kalau Resti mau dia bisa terusin kuliah ambil tingkat lanjut setelah menikah kakak ipar." Jawab Boy sambil tersenyum manis.
"Heh!!, baru calon ya. Belum resmi jadi kakak ipar." saut Roby kesal melihat Boy kepada sang istri.
"Kak Roby kenapa sih?" tanya Resti.
"Udah gak usah dengerin dia, omong2 soal pernikahan. Apa kalian udah ada konsep pernikahan yang mau dipakai?" sela Rena.
"Aku sih terserah kak Boy aja."
"Belum ada, apa kakak ipar ada ide?" tanya Boy.
Rena tersenyum smirk Sebelum menjawab pertanyaan Boy. "Aku ada ide, dan ini pasti seru."
"Apaan?" jawab mereka serempak.
Rena menyeringai "Double Bride."
"Double Bride!!" tanya mereka kembali kompak.
"Iya Double Bride, jadi pengantin ada 2 pasang."
"Maksudnya?" tanya Resti.
Rena menatap sang suami yang sudah mengerti arti ucapan sang istri.
"Sayang." Roby menatap penuh permohonan pada Rena.
"Jadi pengantinnya bukan cuma kalian, tapi aku dan Roby."
"WHAT!!" jawab Boy dan Roby.
Sedangkan Rena dan Resti tersenyum melihat reaksi dari kedua pria tersebut.
"Gimana menurut kamu dek?" tanya Rena pada Resti.
"Aku sih yes." jawabnya mantap.
"TIDAAAAAK." teriak kedua pria itu, dan sang ibu tersenyum melihat kelucuan antara menantu dan calon menantu mereka.
Bu Lastri tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan 2 menantu yang sama-sama keturunan warga asing dan dari keluarga yang berada. Dia memandang foto almarhum sang suami dan berkata dalam hati "Pak, kamu bahagiakan. Anak-anak kita mendapatkan suami yang menyayangi mereka."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Next
👍👍👏👏