
Di Amerika.
Sudah 2 minggu ini Roby bersama dengan Gaby berada di tengah hutan Pinus untuk mencari keberadaan ibunya yang disekap oleh Willard.
Menurut informasi yang dia dapat, Willard membawa ibunya ke sebuah gubuk di dalam hutan Pinus di sebuah distrik propinsi Genoa Amerika serikat.
Selama di dalam hutan, Roby tidak dapat mengakses jaringan internet dan telpon. Karena itu dia masih belum mengetahui kabar dari Asgar tentang Rena.
Setelah pencarian yang memakan waktu cukup lama, akhirnya Roby dapat menemukan dimana keberadaan ibunya. Setelah mengetahui keberadaan ibunya, dia mulai menyusun rencana.
Beberapa orang yang dibawa oleh Roby sudah bersiap untuk melakukan pembebasan Jennifer.
Dua orang telah ditugaskan untuk mengalihkan perhatian dengan masuk melalui pintu depan.
Mereka masuk setelah melumpuhkan 2 orang penjaga gudang itu, tapi sayangnya didalam gudang itu terdapat beberapa kamar yang ukurannya sangat kecil, jadi mereka harus bertindak cepat menemukan yang mana kamar yang berisikan Jennifer.
Mereka memasuki satu persatu kamar tersebut dengan sangat hati-hati, namun mereka tidak menemukan keberadaan Jennifer. Hingga mereka tiba di kamar terakhir.
Perlahan 2 orang tadi membuka pintu kamar, Roby yang sedari tadi mengawasi pergerakan mereka lewat kamera kecil yang terselip di kerah kemeja salah satunya melihat suatu benang tipis yang terhubung di pintu dengan sebuah bom yang berada di dalam.
"Tunggu." ucap Roby melalui sebuah earphone yang menghubungkan mereka.
Namun naas salah satu dari mereka terlebih dahulu menarik handle pintu, dan terjadilah ledakan dahsyat yang menghancurkan gedung itu dan otomatis menewaskan keduanya.
Roby langsung berlari ke lokasi kejadian, begitu dia tiba disana asap mengepul tinggi dan berwarna hitam pekat. Dia mencari-cari keberadaan kedua anak buahnya yang berada di dalam gudang itu.
Dia mengangkat dan memindahkan puing-puing bangunan yang berserakan dimana-mana. Sampai pada akhirnya dia menemukan sisa pakaian anak buahnya yang menjadi korban ledakan itu.
"Aaargghh, sial." geram Roby, dia sangat kesal karena sudah menyebabkan tewasnya anak buahnya.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara helikopter yang terbang di sekitar lokasi, Roby melihat siapa yang datang. Dia sangat terkejut begitu melihat sang ibu tergantung dengan tali yang terhubung di helikopter itu. Sedangkan Willard berada disana sedang menggenggam sebuah pisau di tangannya.
"Hello, Roby Alexis Putra dari Deinard Alexis. Lama tidak bertemu." ucap Willard dari atas sana menggunakan pengeras suara.
"Willard, lepaskan ibuku." bentak Roby.
"Jangan terburu-buru, kita bahkan belum sempat bermain."
"Brengsek kau Willard, turun kau jika berani, jangan jadi pengecut." geram Roby.
"Pergilah nak, jangan hiraukan mommy. Mommy sudah ikhlas bila harus bertemu dengan ayahmu dan adikmu." ucap Jennifer dengan lirih.
"Diamlah mom." bentak Roby.
__ADS_1
"Owww, pertemuan keluarga yang begitu mengharukan." ejek Willard
"Apa yang kau mau Willard?"
"Aku mau bersenang-senang, bagaimana kalau kita bermain sebentar."
"Sial, cepat katakan apa yang kau inginkan!" geram Roby.
Willard melemparkan sebuah kunci dari atas helikopter ke tengah semak-semak.
"Cari kunci itu, itu adalah kunci untuk membuka gembok yang ada di tubuh ibumu. Aku berikan kau waktu 5 menit, jika kau tidak bisa mendapatkan kunci itu dalam 5 menit..... Maka,,,, dengan terpaksa aku harus memotong tali ini. Karena aku tidak mau terlalu lama membuat ibumu menderita, aku baik bukan!" Willard tersenyum skeptis.
"Kurang ajar kau Willard, kalau sampai terjadi sesuatu dengan ibuku, kau akan tanggung akibatnya."
"Uww, aku takut sekali. Jika kau terlalu lama banyak berkomentar, maka waktumu semakin menipis." Willard melihat jam ditangannya "Waktumu tinggal 3 menit 50 detik." sambung Willard.
"Sial." Roby langsung berlari mencari kunci tersebut.
Semak-semak yang lebat dan tinggi, kunci yang berukuran sangat kecil, membuat Roby kesulitan dalam mencari kunci itu. Begitu pula waktu yang sangat sedikit, menambah kepanikan menghinggapi Roby.
Waktu terus berjalan dan Willard terus memperhatikan jam di tangannya.
"Waktumu tinggal 30 detik." Willard memperingatkan.
"Waktumu tinggal 20 detik."
"10 detik lagi."
"5, 4, 3, 2, sa..."
"Aku dapat." Roby mengangkat kunci itu.
"Tu." Willard melanjutkan perkataannya.
"JANGAAAAAAANNN." Roby berlari saat melihat Jennifer mulai terjatuh dari helikopter.
Tepat sebelum tubuh Jeniffer menyentuh tanah, Roby menangkap dan menahan tubuh Jeniffer. Itu mengakibatkan tulang rusuknya mengalami patah tulang.
"Roby. Kamu tidak apa-apa nak." tanya Jenni begitu tau Roby menahan tubuhnya.
"Aku baik mom, mommy tidak apa-apa kan!" tanya Roby dengan suara lirih.
"Kenapa kamu datang kesini nak?, kenapa kamu menyelamatkan mommy?. Mommy sudah bahagia melihat kamu bahagia disana, mommy sudah ikhlas dan pasrah untuk bertemu ayahmu dan adikmu." Jenni memeluk tubuh Roby yang sudah tidak bisa digerakkan.
__ADS_1
"Cuma mommy yang Roby punya saat ini." jawab Roby dengan suara tersendat.
"Bertahan sayang, mommy akan mencari bantuan." Jenni menangis melihat keadaan Roby yang sudah lemah.
"Terima kasih mom."
Willard turun dari helikopter saat helikopter itu mendarat disana.
"Aku sungguh terharu melihat reuni keluarga ini." Willard tersenyum mengejek.
"Sekarang apa maumu Willard?, apa kau belum puas melihat keluargaku hancur!. Kau bahkan sudah membuat Suami dan anakku tewas, sekarang apa lagi yang kau inginkan?" ucap Jenni dengan sedikit berteriak.
"Oh, aku tidak suka suamimu menggangu urusanku. Aku juga sangat marah karena anakmu itu telah menghancurkan bisnisku dan melenyapkan istri dan anakku." jawab Willard.
"Bukankah itu sepadan dengan yang kau perbuat!, jika kau melenyapkan kami, apa kau pikir semua ini akan berakhir!, tidak akan Willard." Jenni menyeringai.
"Sudah diambang kematian, tapi masih bisa berceramah."
"Aku bahkan bisa membuatmu tidak bisa merasakan tidur nyenyak."
Willard berjalan mendekati Jenni yang tengah memeluk Roby yang kondisinya semakin lemah.
"Ohhh, aku penasaran apa yang akan kau perbuat hingga tidak bisa membuatku tidur nyenyak. Ow, aku tau. Kau pasti akan membuatku bekerja keras semalaman membuatmu kelelahan di atas ranjang bukan!" Willard mengusap lengan Jenni dari atas ke bawah.
Jenni tersenyum sinis "Kalau kau memang mampu, ayo lakukan sekarang." tantang Jenni.
"Mom." Roby yang setengah sadar mendengar pembicaraan Jenni dan Willard merasa tidak terima dengan usul Jenni.
"Kau tenang saja, mommy akan baik-baik saja."
"Tapi mom."
"Mommy akan memberikan sedikit hadiah untuknya." Bisik Jenni di telinga Roby sambil memeluk erat Roby.
Jenni melepaskan pelukannya pada Roby, kemudian dia menghampiri Willard yang telah menunggunya dengan tatapan penuh nafsu melihat tubuh indah Jenni.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Next
__ADS_1
👏👏👏👏👏