
"Mom, hari ini aku mau pergi bersama dengan temanku. Mom ikut ya!" ajak Rena pada Jennie yang tengah memasak bersama untuk sarapan mereka.
"Kamu mau kemana sayang?"
"Aku mau ke mall jalan-jalan sekaligus belanja kebutuhan dapur."
Jennie sejenak berpikir "Tapi hari ini Louise pulang ke Amerika, mom harus mengantarnya ke bandara."
"Mom pergi saja sama Rena, biar aku yang antar Louise ke bandara." timpal Roby yang tiba-tiba berada di dapur mendengar percakapan mereka.
Rena menoleh ke belakang dan melihat Roby yang sudah terlihat rapih.
"Oh, kamu udah rapih dad." sapa Rena menghampiri Roby dan membantu memasang dasi seperti biasanya.
"Pagi sayang." Roby mencium bibir Rena sekilas lalu beralih ke arah Jennie.
"Morning mom." sapa Roby mencium pipi Jennie.
"Kamu yakin mau antar Louise ke bandara?" tanya Jennie.
"Hm." jawab Roby sambil mengambil segelas kopi yang sudah disiapkan oleh Rena.
"Kamu gak sibuk dad?, kalau kamu sibuk biar aku sama mommy yang antar uncle Louise ke bandara." tawar Rena seraya menyusun sarapan di meja makan mereka.
"Gak papa, nanti aku jemput Louise di hotel lalu ke bandara. Habis itu baru aku ke kantor."
"Em, ya udah."
"Dimana jagoan?" tanya Roby yang mulai mencari keberadaan Kafka yang biasanya tidak pernah lepas mengekori Rena.
"Tuh lagi main di Playground."
"Kamu jam berapa mau ketemu Chintiya?" tanyanya lagi.
"Sekitar jam sebelas, sekaligus makan siang bareng."
"Ya udah, kalau butuh apa-apa kamu telpon aku aja ya. Mom ikut kan?"
"Iya." jawab Jennie yang ikut duduk di meja makan.
Rena mulai meyendokkan sarapan untuk Roby dan Jennie.
"Kalian sarapan duluan aja, aku mau kasih susu dulu buat Kafka."
Setelah selesai sarapan, Roby bergegas untuk pergi ke kantor. Tapi sebelum itu dia akan menjemput Louise dan mengantarnya ke bandara.
"Aku berangkat ya." pamit Roby mencium kening Rena saat mengantarnya ke depan pintu.
__ADS_1
"Hati-hati ya, inget jangan macem-macem. Kalau gak?..." ancam Rena sambil menunjukan gaya mengiris sebuah terong.
Roby meringis membayangkan hal itu "Gimana mau macem-macem, kan punya aku udah dikunci sama kamu." jawabnya asal.
Rena memutar matanya bola matanya malas "Udah sana pergi."
"Idih ngusir." cibir Roby sambil mencubit pipi istrinya itu.
"Sakit...." keluh Rena, menepis tangan Roby yang berada di pipinya.
"Ya udah ya, assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
...****************...
Waktu sudah menunjukkan jam 10.30 pagi, Rena, Kafka dan Jennie kini tengah bersiap untuk pergi menemui Chintiya di tempat yang sudah di janjikan.
15 menit kemudian taksi yang mereka pesan untuk pergi sudah datang dan menunggu di loby apartemen. Mereka pun segera turun kesana dan segera pergi ke tempat tujuan.
30 menit berlalu, akhirnya mereka tiba di salah satu mall terbesar di kota Jakarta.
"Ayo mom, kita udah sampai." ajak Rena pada Jenni yang terlihat masih mengamati keadaan sekitar.
"Kenapa mom?" tanyanya lagi, karena melihat Jennie yang tak kunjung bergerak.
"Iya mom, semua emang sudah berubah dan hidup terus bergerak. Kini mom sudah menjadi seorang nenek dan kini mom punya anak perempuan. Tapi satu yang gak berubah,,,, kami semua akan terus menyayangi dan selalu ada buat mom." ucap Rena sambil mengusap punggung tangan Jennie.
"Terima kasih sayang, Roby tidak salah karena sudah memperjuangkan kamu. Kamu memang wanita yang cantik dan baik hati." usap Jennie pipi Rena yang tersenyum manis.
"Biasa aja kok mom."
"Bla bla bla." timpal Kafka diantara suasana haru yang sedang terjadi diantara mereka.
Mendengar celotehan Kafka, Jennie dan Rena sontak tertawa. "Aduh cucu oma yang ganteng, pinter banget sih.” Jennie mengambil Kafka dari tangan Rena lalu menciuminya.
”Ya udah yuk turun.”
Mereka kemudian berjalan menuju ke area bermain anak, dimana disana Chintiya sudah menunggu bersama Mora dan Zemi yang tengah asik bermain.
" Hallo sis, gimana kabar lu?" tanya Chintiya begitu Rena sudah berada di depannya dan mencium pipi kanan dan kiri Rena.
"Sehat lahir batin jasmani rohani jiwa dan raga." seloroh Rena Yan kesal karena suara Chintiya yang begitu nyaring di telinganya.
"Seh, panjang banget itu jawabnya kaya teks proklamasi."
"Gaya lu sebut teks proklamasi, kaya sekolah aja lu." cibir Rena.
__ADS_1
"Eh semprul, biar gue sekolahnya cuma sampai kantin, tapi namanya tetap sekolah." protes Chintiya sambil berkacak pinggang.
"Up to you lah." Jawab Rena malas, karena bila dilanjutkan maka tidak akan ada habisnya.
Jennie yang melihat perdebatan mereka hanya bisa tersenyum.
"Oh ya, ini siapa?" tanya Chintiya melihat Jennie yang tengah tersenyum.
"Kenalin ini mertua gue."
"Ow, Mrs Alexis."
"Hm." Rena mengangguk.
"Hello Mrs Alexis, im Chintiya Hadinata. Rena's best friend." Chintiya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman Jennie.
"Hai, Chintiya. Panggil saja aku Jennie." jawab Jennie menerima uluran tangan Chintiya.
”Oh, ternyata anda bisa bahasa Indonesia! ”
"Tentu, aku kan orang Indonesia.”
" Realy?"
"Hm, oh ya. Nona Chintiya ini ada hubungan apa sama tuan Hadinata? ” Karena seingatnya, Roby pernah bercerita kalau bossny yang bernama Morens Hadinata adalah orang yang sudah banyak membantu Roby.
" Dia ini istri dari tuan Morens Hadinata pemilik RENS CORP dan boss dari Roby mom. Dengan kata lain dia ini Ibu Boss." jelas Rena.
"Apaan sih!, idih gak suka gelaaay." protes Chintiya, dia paling tidak suka bila dipanggil dengan ibu bposs. Karena menurutnya yang kaya adalah suaminya dan dia hanya kebetulan menjadi teman hidupnya.
Merekapun asik bercengkrama sambil menyenangkan anak-anak mereka, setelah itu. Tak lupa dilanjut dengan acara borong memborong, semenjak punya anak, Chintiya jadi gemar sekali belanja keperluan anak-anaknya.
Seperti baju, sepatu, perlengkapan sekolah dan yang lainnya. Apapun itu yang berkaitan dengan anak-anak.
Saat mereka tengah asik berbelanja, mereka teralihkan oleh suara yang memanggil Jennie.
"Hello nyonya Jennie, tidak disangka kita bisa bertemu disini ya."
"KAMU."
"Hah, Hama datang lagi."
...----------------...
...----------------...
Next
__ADS_1
👏👏👏