Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Pembalasan


__ADS_3

Roby mengangkat tubuh Rena dan meletakkannya di ranjang, Roby mencium bibir Rena dengan sangat beringas.


Efek obat yang sudah sampai di ubun-ubun, membuat Roby sudah tidak bisa bermain lembut lagi.


"Sayang, maaf ya. Aku akan sedikit kasar." ucap Roby dengan nafas tersendat-sendat.


Roby menciumi seluruh wajah Rena tanpa ada yang terlewat, sedangkan tangannya dengan lincah membuka pakaian yang dipakai oleh Rena.


Rena merasakan sensasi yang berbeda dari permainan Roby kali ini, dia merasa sedikit tertantang untuk memberikan perlawanan yang setimpal untuk permainan Roby. Namun saat dia mengingat apa yang diucapkan oleh Gaby, mendadak keinginan itu kembali memudar.


Sebenarnya Rena percaya dengan Roby bahwa dia tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja, tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi mengingat kondisi Roby tadi yang sedang dalam pengaruh obat, bukan tidak mungkin hal itu bisa terjadi.


Entah apa yang akan terjadi!, kalau saja tadi dia tidak datang tepat waktu. Mungkin mereka sudah,,, Rena tidak sanggup memikirkan hali itu.


Rena hanya diam menerima semua perlakuan Roby padanya, dia juga tidak menolak keinginan suaminya itu. Karena saat ini Rena hanya ingin membantu Roby terlepas dari pengaruh obat laknat itu.


Rena tersentak kaget kala dirinya yang tengah melamun, merasakan intinya yang tiba-tiba sesak karena sebuah benda panjang tegak nan berurat memasukinya.


"Aaahh." Rena mencengkeram lengan Roby kuat. Karena saat ini Rena belum dalam keadaan siap untuk menyatu.


"Lepaskan saja sayang, lampiaskan sama aku. Aku rela buat jadi tempat pelampiasan kamu." Roby mengerti kalau saat ini istrinya tidak sepenuhnya menyerahkan diri.


Roby juga sebenarnya tidak tega melakukan ini dalam kondisi Rena seperti ini, tapi tubuhnya yang sudah sangat bereaksi butuh tempat untuk menyalurkan keinginannya. Apalagi dia melihat sang istri sudah dalam keadaan polos seperti sekarang ini, sungguh dia sudah tidak bisa menahan lagi.


Roby menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan kuat, hingga membuat ranjang yang mereka gunakan pun ikut bergoyang. Rena mencoba meraih apa saja untuk menahan sensasi kenikmatan dan kesakitan ini.


Keringat yang keluar membanjiri tubuh Roby, menandakan bahwa dirinya benar-benar mencari kepuasan atas tubuh Rena.


"Erghh." Rena melenguh merasakan hujaman Roby yang semakin kuat hingga menjalar ke sekujur tubuhnya terutama pada perut bagian bawah. Dia merasa hujaman yang diberikan Roby benar-benar sampai pada ujung rahimnya.


Roby menautkan jari jemari mereka berdua, dia mencoba untuk menyalurkan kekuatan dan memberikan rasa nyaman pada Rena.


Rena membusungkan dadanya saat Roby dengan sepenuh hati bermain dengan kedua bakpao miliknya, hentakan itu terus meningkat seiring dengan ha*rat mereka yang terus meninggi.


"Roby, aku."

__ADS_1


"Ya sayang lepas saja." Roby makin mempercepat Tempo permainannya mengetahui Rena akan mencapai puncaknya.


Begitu Rena telah mencapai puncak, Roby membalik tubuh Rena membelakanginya dengan posisi tubuh setengah bersujud. Roby segera menancapkan kembali pusakanya pada sangkarnya.


Goyangan dahsyat yang roby ciptakan menimbulkan bunyi decitan yang memenuhi kamar beriringan dengan ******* dan erangan kedua makhluk ini. Untung saja kamar hotel ini sudah dilengkapi peredam suara, kalau tidak mungkin setiap pengunjung yang melewati kamar itu akan mendengar jeritan kenikmatan mereka berdua.


"Sayang, aku,, aku." Roby meracau tak jelas menandakan dirinya hampir mencapai puncaknya.


Roby semakin menambah laju kemudi permainannya sambil menepuk-nepuk bo*ong mungil milik Rena.


"Aarrggghhh." ******* panjang keluar dari bibir Roby dan mengakhiri permainan mereka season pertama itu.


Karena tak lama setelah itu, Roby kembali menghujam Istrinya hingga beberapa kali sampai pagi itu.


Keesokan paginya


Roby terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan pintu, dia melihat sekelilingnya hanya ada dirinya saja sendiri.


Dia mencari keberadaan Rena, namun istrinya itu sudah pergi. Roby menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya kasar.


Begitu pintu terbuka, tampaklah seorang Room service mengantarkan makan siangnya ke kamar. Roby melihat pada jam di dinding dan menunjukan waktu yang ternyata sudah berada di angka 12 siang.


Setelah menyelesaikan segala ritualnya, Roby meninggalkan hotel itu dan segera melaju ke tempat dimana Asgar menyekap kedua wanita biadab itu.


Setelah sampai disana, Roby tak membuang waktu lagi. Karena dia ingin segera menyelesaikan masalah ini dan pulang ke rumah untuk menemui Rena yang dia yakin sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian kemarin.


Roby mendekat dan berjongkok dihadapan Gaby yang terikat dengan posisi duduk di sebuah tiang. "Hai *****."


Gaby membuka matanya yang dari tadi terpejam karena sedikit lebam akibat ulah orang suruhan Asgar dan Roby.


"Sudah puas bermain?" cibir Gaby dengan lirih, dia bahkan masih bisa tersenyum sinis mengejek Roby.


"Tentu saja belum, karena aku belum bermain sama kamu." Roby mencengkeram dagu Gaby dengan kuat hingga meringis.


Gaby berdecih "Kenapa buru-buru?, bagaimana kalau kita ngobrol dulu." Dia membuang salivanya tepat dihadapan Roby yang berwarna agak kemerahan akibat pendarahan di area mulutnya.

__ADS_1


"Ide bagus!, kalau gitu aku mulai lebih dulu. Sebenarnya apa tujuanmu terus mengganggu aku dan keluargaku?"


"Karena kamu cuma punya aku."


"Cih, persetan. Perempuan kaya kamu itu gak mungkin bisa puas hanya dengan satu laki-laki. Dan aku juga hanya memanfaatkanmu dulu."


"Sialan, jadi kamu cuma mencari keuntungan dari aku Roby!" geram Gaby.


"Bukan cuma aku yang untung, kamu pun juga untung. Aku mendapatkan informasi dan bantuan, kamu dapat kepuasan dariku. Kamu ingat!!, ya anggap saja kita sedang jual beli."


"Brengsek!, kamu mempermainkan aku."


"Alah jangan banyak drama, selama ini kamu terus mengganggu aku karena mencari sesuatu kan?, dan aku rasa kau ada hubungan dengan geng The Dead Owner!, iya kan."


"Kamu ngomong apa sih Rob?"


"Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu mau dari aku?. Dan siapa orang yang selama ini membantu kamu." Roby menarik rambut panjang Gaby hingga membuat pandangan Gaby mendongak menatap pada langit-langit yang kotor dan kusam.


"Aku gak tau apa maksud kamu Roby."


"Kalau kamu masih gak mau ngomong, aku bakal terus suruh mereka siksa kamu. Dan aku bakal serahin bukti keterlibatan kamu dalam pembunuhan nyonya Yasmin Jonnasen."


"A...Apa?" Gaby tergagap, karena dia tidak menyangka bahwa Roby akan tau mengenai kasus Yasmin yang sudah begitu lama.


"Dan kau ja*ang, kau begitu haus sentuhanku bukan!. Aku akan memberikan begitu banyak sentuhan untukmu." ucap Roby pada Imel dengan seringai tajam.


"E... Enggak, maaf tuan Roby. Saya gak maksud seperti itu pada tuan." Imel berkeringat dingin melihat tatapan mata Roby yang penuh amarah.


...----------------...


...----------------...


Next


👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2