
Setelah satu minggu berada di rumah ibunya, kini Roby dan Rena bersiap untuk kembali ke Jakarta. Karena Roby harus bekerja dan tidak bisa berlama-lama mengambil cuti.
Pagi ini, Rena sedang bersiap-siap dan berkemas untuk siang nanti.
Melihat istrinya yang sedang sibuk, Roby mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Belum selesai?" tanya Roby sambil menciumi rambut panjang yang masih sedikit basah itu.
"Sebentar lagi. Kamu udah sarapan?" tanya Rena tanpa menatap wajah Roby.
"Belum, aku mau sarapan kamu aja." Jawab Roby makin mempererat pelukannya.
"Awas ah, jangan ganggu."
"Aku gak ganggu kamu kok." elak Roby yang masih sibuk menciumi bagian belakang istrinya.
"Roby ih, aku lagi beres-beres nih. Ntar gak selesai-selesai." protes Rena.
"Ya kamu beres-beres aja, apa perlu aku bantu." tangan Roby sudah mulai bergerilya kemana-mana.
"Roby ahhh, tangan kamu ini. Kamu main sana gih sama Kafka." usir Rena yang sudah jengah karena modus suaminya itu.
"Kafka udah tidur, dia capek habis main sama aku." Roby terus saja mencumbu Rena.
"Kalau begitu cari kegiatan sana."
"Ini aku sedang melakukan kegiatan." Roby melemparkan baju yang sedang dipegang oleh Rena.
Kemudian dia menggendong istrinya menuju ke ranjang, kebetulan pagi ini hanya ada mereka berdua di rumah. Karena Resti sedang bersekolah, dan ibu sedang berbelanja ke pasar untuk membeli oleh-oleh yang akan diberikan untuk anaknya bawa kembali ke Jakarta.
"Ahh, lepas. Kamu mau ngapain?, ini masih pagi." protes Rena saat Roby mulai melucuti pakaiannya.
"Morning se*s baby." bisik Roby dengan sensual.
"You serius?"
"Absolutly baby."
Terjadilah peperangan pagi hari yang membuat mereka harus mandi lagi setelah berkeringat di ranjang bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu keberangkatan pun tiba, Roby, Rena dan Kafka sudah bersiap-siap.
"Bu, kami pamit dulu ya. Ibu jaga diri disini ya. Atau ibu tinggal saja bersama kami." ucap Roby pada bu Lasmi.
"Gak usah nak, ibu disini aja. Lagian Resti kan masih sekolah. Jadi sayang kalau harus pindah lagi." tolak bu Lasmi ajakan Roby.
__ADS_1
"Ya udah, ibu jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa kabarin aku ya bu." Rena memeluk sang ibu dengan erat.
"Kamu juga harus jaga diri disana, nurut sama suami. Kalau ada masalah, dibicarakan baik-baik. Dan untuk kamu Roby, tolong jaga Rena. Dia memang sedikit keras kepala, tapi dia sangat penyayang kok." nasehat Lasmi kepada anak dan menantunya.
"Iya bu, jangan khawatir. Aku juga sangat menyayangi Rena dan Kafka bu." Roby menggenggam tangan bu Lasmi.
"Neng, jaga ibu ya. Jangan nakal dan jangan bikin ibu susah." ucap Rena pada Resti yang terlihat sedang berkaca-kaca.
"Ih teteh kok cepet pulang sih, aku kan masih kangen. Lagian juga ntar aku pasti kangen banget sama si gembul Kafka." Resti memeluk Rena erat.
"Kak Roby kan harus kerja, lagian kamu bisa kesana kalau liburan sekolah." ucap Rena menenangkan Resti.
"Tapi kan aku gak tau kakak tinggal dimana sekarang, kakak udah gak tinggal dirumah yang lama kan!"
"Kalau mau kesana, ntar kakak jemput kamu." Roby menyela pembicaraan antara adik dan kakak itu.
"Ya udah deh." jawab Resti pasrah.
"Jangan nangis dong, ntar tambah jelek loh." goda Rena.
Dengan berat hati dan sedikit drama, Roby dan Rena pergi kembali ke Jakarta. Di sepanjang jalan Rena masih terisak lirih, Roby melirik sang istri yang masih terlihat sedih karena harus berpisah kembali dengan sang ibu.
"Udah dong jangan nangis terus, kita kan masih bisa VC an sama ibu sama Resti. Kamu jadi lucu tuh kaya badut." ucap Roby menenangkan sambil merengkuh tubuh Rena ke dekapannya.
"Kok kaya badut sih."protes Rena.
"Iya, tuh ngaca aja. Hidung kamu merah kaya badut kan."
"Abis badutnya cantik." rayu Roby.
"Gombal." Rena menyebikkan bibirnya.
"Sayang." panggil Roby sambil tangannya menggenggam tangan Rena dan tangan sebelah fokus pada kemudi.
"Hm."
"Mulai sekarang, aku mau kita saling jujur apapun itu. Jangan lagi ada rahasia di antara kita, kita mulai kehidupan baru bersama keluarga kecil kita."
"Iya, aku juga minta sama kamu. Tegur aku kalau aku salah, tapi jangan permalukan rumah tangga kita. Apalagi sampai ada yang namanya penghianatan, aku paling gak bisa mentolerir itu." ucap Rena sambil menatap Roby.
"Kamu juga terus ingatkan aku ya, kalau suatu hari aku khilaf, tolong bimbing aku dan jangan tinggalin aku ya." Roby mengecup punggung tangan Rena.
Akhirnya mereka tiba di apartemen Roby, mereka langsung masuk untuk beristirahat. Karena perjalanan yang cukup jauh dan harus terkendala dengan kemacetan, membuat mereka langsung tertidur karena kelelahan.
Rena terbangun saat mendengar suara ocehan Kafka yang sedang bermain, Rena meregangkan tubuhnya seraya menguap dan mengembalikan fokus selepas bangun tidur.
Saat turun dari ranjang, Rena disuguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan. Dimana Rena melihat Kafka yang sedang asik tertawa bersama dengan Roby.
__ADS_1
Rena mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengabadikan momen indah ini, setelah itu Rena menaruh ponselnya kembali diatas nakas, dan disitu dia melihat sebuah nampan yang berisi sepiring nasi beserta lauknya dan segelas jus.
Rena merasa terharu dengan hal itu, dia melihat jam di dinding menunjukan waktu jam 7 malam.
"Mamamama." celoteh Kafka yang melihat Rena bangun.
"Oh mommy udah bangun." Roby bangkit dengan membawa Kafka menghampiri Rena.
"Kamu gak bangunin aku dad."
"Kamu keliatan capek banget, jadi aku gak tega." Roby mengecup pipi Rena.
"Trus tadi siapa yang urus Kafka?"
"Ya akulah, mang siapa lagi." jawab Roby duduk di samping Rena dan memberikan Kafka yang ingin digendong sang mommy.
"Serius!!, mandiin juga."
"Iya sayang."
"Kamu udah makan malam?" tanya Rena lagi, karena dia merasa tidak enak pada Roby.
"Udah, aku juga udah siapin buat kamu."
"Kamu yang masak ini?" tanya Rena tidak percaya.
"Iya sayang, kamu kenapa sih kok kaya gak percaya gitu."
"Wah bagus dong."
"Maksudnya?" Roby memicingkan matanya.
"Jadinya besok, kamu aja yang urus Kafka. Mandinya, makannya, trus kamu juga yang siapin makan buat aku. Nah aku tinggal duduk manis nunggu kamu pulang kantor." ucap Rena enteng sambil menimang Kafka yang sekarang terlihat makin gembul.
"Boleh, asal kamu tunggu akunya di ranjang. Trus kita balapan sampai pagi nonstop, gimana?"goda Roby.
"Kamu mau bikin aku encok ya."
"Tenang aja, ntar aku pijitin. Abis pijit, kita balapan lagi."
"Dasar asisten labil."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Next
👏👏👏