Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Kangen


__ADS_3

Keesokan harinya


Rena sudah menyelesaikan semua tugas yang diberikan Roby padanya, berhubung hari ini hari libur, jadi Rena tidak membangunkan Roby untuk bekerja.


Rena berpikir, biarkan saja Roby bangun sesukanya. Toh dia tidak kemana-mana hari ini.


Tak lama kemudian, Roby terlihat mengerjapkan matanya. Dia mendapati silau matahari yang sudah lumayan terik masuk melalui jendela yang sudah terbuka tirainya.


Roby merenggangkan badannya dan melirik jam dinding, dan alangkah terkejutnya saat dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Roby langsung bergegas turun dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi. 15 menit kemudian Roby keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Morens.


Roby keluar untuk mencari Rena yang sedari tadi tidak terdengar suaranya ataupun terlihat batang kakinya oleh Roby.


Roby melihat Rena sedang menonton TV sambil memangku Kafka yang tengah tertidur. Roby mendekat dan duduk di sebelah Rena namun masih memberi jarak.


"Kamu kok gak bangunin aku?"tanya Roby dengan lembut sambil mencium pipi Kafka.


" Kenapa?" Rena menatap Roby sekilas."


"Aku ada janji sama tuan Morens."


"Maaf, aku gak tau." jawab Rena datar sambil tetap menatap layar televisi yang menampilkan cerita tentang dua anak kembar tak berambut dan tidak kunjung tumbuh dewasa.


Roby menghela nafas, sejak Roby menceritakan tentang masa lalunya. Roby dibuat bingung dengan tingkah Rena, pasalnya setelah selesai bercerita, Rena hanya terdiam untuk beberapa saat dengan ekspresi datar.


Tak lama setelah itu Rena bangkit dan menuju ke kamarnya seraya berkata selamat malam pada Roby. Hingga saat ini, Rena tetap menjalankan tugasnya seperti biasa tanpa adanya keluhan. Namun Rena jadi lebih misterius dan susah ditebak. Rena bahkan tidak pernah lagi menyinggung masalah itu.


Roby bingung mengartikan tingkah Rena yang sekarang, apakah Rena menerima tentang dirinya ataukah Rena merasa kecewa padanya. Entahlah, biar waktu yang menjawab.


Saat ini Roby hanya fokus agar tidak membuat Rena semakin menjauh darinya.


"Apa kamu mau ikut ke rumah tuan Morens?, disana kamu bisa ketemu sama Chintiya." tawar Roby.


"Aku malu sama Chintiya."


"Kenapa malu?, dia sering banget tanya soal kamu ke tuan Morens. Dan tuan Morens yang minta aku buat ajak kamu kesana."jelas Roby pada Chintiya.


"Apa dia udah tau tentang masalah kita?" tanya Rena ragu-ragu.


Roby mengangguk


"Apa kamu yang kasih tau sama tuan Morens?" Rena menatap tajam Roby.


Roby yang mendapat tatapan mata seperti itu, menjadi gugup dan salah tingkah.


"Bu.. bukan aku kok, sumpah."


"Terus mereka tau dari mana?" selidik Rena masih dengan tatapan yang sama.

__ADS_1


"Dari Boy."


Mendengar nama Boy, Rena baru teringat kalau Boy belum mengetahui bahwa sekarang dia tinggal bersama Roby.


Rena mendadak gelisah, kalau sampai Boy tau akan hal ini, apa yang akan dia katakan pada Boy?. Lalu bagaimana nanti reaksi Boy?, sungguh Rena tidak ingin menyakiti hati Boy dengan kenyataan ini, Boy terlalu baik untuk di sakiti.


Tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa dia memang masih mencintai laki-laki yang kini duduk disampingnya.


"Ren, kamu kenapa?." tanya Roby membuyarkan lamunan Rena.


"A... Aku gak apa-apa." jawab Rena sedikit gugup.


"Jadi, kamu mau ikut gak?" tanya Roby sekali lagi.


"Sebenarnya ada urusan apa kamu kesana hari libur begini?"


"Aku akan menemani Rosi untuk melakukan perawatan rutin."


"Huh, lagi-lagi Rosi. Siapa sih Rosi itu?, segitu pentingnya sampai merelakan waktu libur cuma buat nemenin perawatan. Dasar plin plan. batin Rena.


"Apa harus kamu yang menemani?"


"Iya, karena hari ini nona Mora menginap di rumah oma Lexi. Jadi Mora tidak bisa menemani Rosi perawatan." jelas Roby.


Rena menarik nafas dalam-dalam "Ok, aku ikut."


Rena penasaran dan ingin melihat, siapa sih Rosi itu, apa dia sangat cantik dan sexy?. Sungguh Rena benar-benar ingin tau.


Roby memperhatikan gerak-gerik Rena yang duduk disebelahnya, sedangkan Kafka tengah bermain dengan mainan yang Roby siapkan untuknya dan duduk bersantai di carseat khusus untuk bayi.


"Kenapa?" tanya Roby.


"Aku takut."


"Takut kenapa?"


"Takut, jika Chintiya bertanya macam-macam tentang Kafka. Jujur aku belum siap ketemu sama yang lainnya, bukannya aku mau menutupi keberadaan Kafka, tapi.... Aku cuma tidak mau membahas tentang masalah itu lagi."


Roby yang mendengar itupun merasa sangat bersalah, karena ulahnya Rena harus selalu berpikir untuk bertemu dengan orang yang dia kenal. Roby tau, Rena hanya ingin melindungi Kafka dari gunjingan orang yang tidak bertanggung jawab.


"Maaf, karena aku kamu jadi begini. Maafin aku Ren." Roby menggenggam tangan Rena yang sedikit berkeringat itu.


"Udah, gak usah dibahas lagi."


"Aku tau, meski berkali-kali aku minta maaf. Itu gak akan mengembalikan kondisi seperti semula." Roby berucap lirih sambil terus mencoba fokus pada kemudinya.


"Aku udah maafin kamu kok, jangan dibahas lagi ya."


Mereka tiba disana 1 jam kemudian, begitu menginjakan kakinya di pintu utama, mereka dikejutkan dengan suara petasan banting milik Chintiya. Rupanya ilmu mommy Lexi sudah diwariskan kepada Chintiya.

__ADS_1


"Renaaaaa, I Miss You babe."teriak Chintiya sambil setengah berlari menghampiri Rena, kemudian dia memeluk erat Rena.


"Bisa gak itu suara toa demonstrasi dikecilin dikit." ucap Morens yang berjalan di belakang Chintiya.


"Kalau gak bisa!, trus kenapa?" Chintiya menatap tajam Morens.


"Ya gak papa sih." jawab Morens dengan nyengir kuda.


Roby dan Rena yang melihat Morens tertunduk takut pada istrinya itu, tersenyum penuh ejekan.


Morens yang tau dirinya sedang ditertawakan, menatap tajam pada kedua orang yang baru datang itu. Chintiya memperhatikan arah pandangan Morens yang terlihat kesal.


"Ngapain dad melotot gitu?, mau aku colok matanya."


"Ih jangan dong, ntar kalau mata aku di colok, gak ada yang bisa ngedipin kamu lagi."


"Tenang aja dad, di luar sana masih banyak brondong yang bersedia kedip-kedipan sama aku."


"Enak aja."


Chintiya tidak menjawab Morens lagi, kini tatapannya beralih pada sesosok bayi tampan yang berada di gendongan Roby.


"Ahhhh, jadi ini hasil kolaborasi Roby dan Rena. Ternyata Roby tokcer juga ya, Gaspol sekali gas langsung nampol." Chintiya mengambil alih Kafka dari tangan Roby.


"Dimana anak-anak kamu Chin?" tanya Rena sambil mereka berjalan ke arah ruang tamu.


"Mora lagi dirumah Omanya, kalau Zemi baru aja dia tidur habis minum susu." jelas Chintiya.


"Rob, ayo kebelakang. Rosi udah nungguin tuh, buat perawatan sama kamu. Dia mah tau aja sama yang bening, dasar Rosi ganjen." Morens mengajak Roby menuju ke tempat dimana Rosi berada.


"Eh, aku mau liat dong Rosi itu kaya apa." Rena berkata dengan lirih takut Roby mendengar ucapannya dan membuat dia malu.


"Oh, kamu mau kenalan sama Rosi."


Rena mengangguk, kemudian Chintiya membawa Rena ke taman belakang dimana Rosi berada. Saat sudah berada di depan kandang Rosi, Chintiya berhenti.


"Nah itu Rosi." tunjuk Chintiya dengan dagunya, karena tangannya sedang sibuk menepuk-nepuk pantat Kafka agar tertidur lelap.


"Mana?, aku gak liat ada orang disana."


"Siapa yang bilang Rosi itu orang, Rosi itu ya anak macan peliharaan Mora." jawab Chintiya enteng.


"APA?"


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


Next


👏👏👏💜💜


__ADS_2