Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
KAMU!!!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Rena sudah terbangun dari tidurnya dan dilihatnya jam di dinding yang baru menunjukan pukul 4 pagi.


Entah mengapa sejak semalam, Rena selalu teringat dengan Roby dan dia juga merasakan pergerakan bayinya lebih sering dan sedikit menimbulkan rasa sakit di perutnya.


Mungkin saja itu adalah efek dari kabar berita yang disampaikan oleh Resti mengenai Roby yang mencarinya, sehingga Rena terus gelisah memikirkan Roby dan mengakibatkan terjadinya kontraksi bayangan pada kandungannya.


Rena berniat akan pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya, apa semuanya dalam keadaan baik atau tidak. Rena jadi teringat Boy, beberapa kali Rena pergi ke rumah sakit dengan ditemani oleh Boy, tapi kali ini dia harus pergi sendirian.


Rena langsung menepis pikiran tentang Boy, dia tidak mau terus bergantung pada Boy. Dia takut suatu hari nanti, dia semakin terikat dan tidak bisa jauh dari Boy. Sedangkan Boy itu bukan siapa-siapa Rena dan dia sadar akan hal itu.


Rena melakukan rutinitas pagi dengan berjalan kaki hingga mengeluarkan sedikit keringat, karena ibu yang sedang hamil tua itu bagus perbanyak berjalan kaki agar posisi si jabang bayi tepat di jalurnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, kini Rena sedang menuju ke kedai sederhana miliknya. Rena berniat ingin mengecek dahulu kesiapan perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan untuk di kedai itu. Setelah dirasa cukup, barulah nanti Rena akan pergi ke rumah sakit.


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya Rena tiba di kedai makan miliknya. Saat sudah mencapai di halaman kedainya, Rena melihat seorang pria yang sedang berdiri dengan posisi membelakanginya.


Rena merasa heran, siapa lagi orang yang datang sebelum kedainya buka. Karena biasanya Boy lah yang sering berbuat demikian, dia akan datang sebelum kedai itu buka.


Rena berjalan mendekati pria itu, kemudian dia berhenti dibelakang punggung pria itu dengan jarak ± 3 meter.


"Permisi!, ada yang bisa dibantu?." tanya Rena ramah.


Pria itu belum juga membalikkan badannya setelah Rena memanggil. Namun Rena berpikir kalau pria itu tidak mendengar suara Rena.


"Maaf, mas. Anda cari siapa ya?" tanya Rena lagi.


Tapi lagi dan lagi, pria itu tidak berbalik arah. Rena yang tengah hamil itu mulai kesal, mungkin karena hormon kehamilan, membuat Rena menjadi wanita yang sedikit galak dan mudah marah.


"Hei bung, anda mencari siapa?. Kalau orang tanya tuh dijawab jangan diem aja." omel Rena.


Pria itupun berbalik dan menatap Rena. Seketika jantung Rena berdetak kencang tak terkendali, seluruh tubuhnya mendadak lemas dan seakan tidak mampu menopang berat tubuh sendiri.


Rena terlihat lunglai dan ingin terjatuh, Roby yang melihat itu langsung sigap berlari dan menahan tubuh Rena agar tidak jatuh. Kalau Rena sampai terjatuh entah apa yang akan terjadi pada Rena dan janinnya.


Roby memapah tubuh lemas Rena menuju sebuah kursi yang ada di taman depan kedai. Setelah duduk, Roby meletakkan tas yang dibawa Rena, dia juga melepas sepatu flat yang ada di kaki Rena. Kemudian Roby dengan sigap mengangkat kaki Rena bermaksud ingin memijat kakinya, agar peredaran darahnya kembali lancar dan bisa sedikit membaik.


"Kamu mau apa?" Rena menjauhkan kakinya saat akan disentuh oleh Roby.


"Aku cuma mau pijat kaki kamu, jadi gak usah takut gitu."


"Gak usah, aku udah mendingan." tolak Rena.


"Mendingan dari mana?, itu kaki kamu gemeteran."


"Aku bilang gak usah ya gak usah." Rena masih kekeh menolak bantuan Roby.


Roby menghela nafas, dia harus ekstra sabar menghadapi sifat keras kepala Rena. Jika dia terbawa emosi, bisa dipastikan bahwa bukan Rena yang dia dapat. Melainkan sebuah kebencian dari Rena.


"Ya udah Ok, tapi jangan bangun dulu, kamu duduk aja disini dulu." Roby akhirnya mengalah.


Rena hanya diam tak merespon ucapan dari Roby, dia masih merasa syok sekaligus takut akan kehadiran Roby disini.


Setelah kediaman mereka, akhirnya Roby membuka percakapan lebih dulu.


"Gimana kabar kamu?" tanya Roby lembut sambil menatap Rena yang sedari tadi menunduk seraya meremas kakinya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Baik." jawab Rena singkat.


"Sekarang kamu udah buka usaha sendiri ya, aku bangga sama kamu." ucap Roby tulus. Karena dia tau, selama ini Rena pasti merasa kecewa, tapi dia masih bisa berpikir positif untuk hidupnya sendiri.


"Makasih."

__ADS_1


"Sekarang kamu juga tambah cantik." Roby berkata jujur, dia melihat Rena dengan perutnya yang sedikit buncit malah semakin menambah kesan cantik dan sexy.


"Makasih."


Roby membuang nafas kasar, dia tidak suka dengan jawaban Rena yang singkat dan datar. Tapi dia harus menerima itu, biar bagaimanapun memang disini dia yang bersalah.


"Kok kamu bisa sampai kesini sih?"


"Bukan urusan kamu." Rena menatap Roby sekilas lalu kembali membuang muka.


"Jelas ini urusan aku, karena kamu tanggung jawab aku."


Rena tersenyum sinis.


"Tanggung jawab kamu bilang!, terus mana yang kamu bilang tanggung jawab. Setelah apa yang kamu lakukan ke aku, trus kamu langsung menghilang gitu aja tanpa bicara sepatah katapun sama aku. Itu yang kamu bilang tanggung jawab."


"Aku kan udah pernah bilang sama kamu, ada suatu hal yang harus aku lakukan. Setelah itu aku akan kembali jemput kamu."


"Udahlah, aku udah males bahas itu. Sekarang kamu mau apa kesini?" tanya Rena ketus.


"Aku mau ketemu sama kamu dan dia." jawab Roby sambil mengusap perut Rena.


"Punya hak apa kamu mau ketemu sama anak aku."


"Tentu aku punya hak, dia anakku kan!" tanya Roby yang mulai meninggikan suaranya.


"Sok tau." cibir Rena.


"Aku yakin dia itu anakku."


"Pede banget, asal kamu tau ya!. Aku itu udah nikah, dan ini anak aku sama dia." Rena mengatakan itu, karena dia takut kalau Roby akan mengambil anak itu darinya.


"Jangan bergurau sayang." goda Roby.


"Kalau begitu, aku mau ketemu sama suami kamu."


"Buat apa?, dia lagi ada di luar kota." jawab Rena sambil memalingkan wajahnya.


Roby tersenyum smirk melihat kegugupan Rena.


"Kalau begitu telpon dia, kamu gak keberatan kan kalau hanya telpon dia. Aku cuma mau kenalan sama suami kekasihku." Roby menaik turunkan alisnya.


"Sembarangan, siapa pacar kamu!. Jangan ngaco deh."


"Ya udah kalau gitu telpon sekarang." desak Roby, dia merasa senang bisa kembali berdebat dengan Rena. Inilah yang selama ini dirindukan Roby saat jauh dari Rena.


"Ok, siapa takut." Rena mengeluarkan ponselnya, dan dia mencari sebuah kontak yang mungkin saja bisa membantunya saat ini. Tapi tiba-tiba dia teringat akan Boy, Rena yakin Boy bisa membantunya saat ini dan dia akan menjelaskan pada Boy nanti.


Rena menekan kontak Boy dan menekan ikon berwarna hijau, setelah beberapa kali panggilan akhirnya ada jawaban dari sana. Padahal sedari tadi Rena sudah merasa was-was kalau Boy tidak menjawab telponnya. Rena sengaja membuat mode speaker agar Roby dapat mendengar percakapan mereka.


"Hallo Ren."


"Hallo, sayang kamu kapan pulang. Inikan udah 2 Minggu kamu pergi, kamu janji kan kalau waktunya aku lahiran kamu pasti pulang kan." ucap Rena yang sebenarnya sangat malu memanggil Boy dengan sebutan sayang. Namun, demi melancarkan rencananya Rena rela menahan malu.


Boy yang mendengar Rena memanggil dirinya dengan sebutan sayang merasa senang sekaligus bingung. Sebenarnya ada apa, tiba-tiba Rena menelpon dan memanggil dirinya sayang.


"Iya, aku pasti pulang kok saat kamu lahiran. Oh ya kamu lagi apa sekarang?, maaf ya tadi agak lama jawab panggilan kamu, soalnya aku lagi rapat tadi."


"Oh maaf, aku ganggu ya."


"Enggak kok. Kamu lagi apa sekarang?"

__ADS_1


"Aku lagi di kedai, tapi sebentar lagi aku mau ke rumah sakit buat cek kandungan aku."


"Loh bukannya jadwal kamu masih 2 Minggu lagi!"


"Iya, tapi dari semalem perut aku sakit. Jadinya aku mau cek dulu takut terjadi apa-apa." jelas Rena.


"Sakit!, tapi kamu baik-baik aja kan?. Apa perlu aku kesana sekarang?" tanya Boy panic.


"Gak usah, aku gak papa kok. Ya udah lanjutin kerjanya, aku mau siap-siap ke rumah sakit dulu."


"Iya, hati-hati. Kalau ada apa-apa kamu langsung kabari aku ya."


"Iya sayang. Daaa." ucap Rena manja dengan sedikit mengeraskan suaranya.


Roby yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, merasa sangat sesak di dalam hatinya. Ternyata Rena benar-benar sudah menikah, dan tampaknya dia sangat bahagia.


Dia mulai bimbang apakah dia harus memperjuangkan cintanya pada Rena atau mengikhlaskan Rena dengan kebahagiaan yang dia miliki.


"Kamu udah denger kan, sekarang percaya kalau aku udah nikah!" tanya Rena memecah lamunan Roby.


"Selamat ya, semoga kamu bahagia terus." ucap Roby tulus namun merasakan sakit di hatinya.


"Itu pasti. Kalau gitu aku tinggal dulu ya, aku mau ke rumah sakit." Rena bangun dari duduknya.


"Kamu mau pergi sama siapa?"


"Sendiri."


"Kalau gitu, aku aja yang anterin." tawar Roby.


"Makasih, tapi gak usah. Aku naik taksi aja." tolak Rena yang sebenarnya sudah sangat ingin menangis karena harus membohongi Roby.


"Please Ren, anggap aja ini sebagai permintaan maafku. Setelah ini, aku gak akan ganggu kamu."


"Tapi Rob."


"Ren!!!, aku gak tega biarin kamu naik taksi sendirian dengan perut buncit kamu."


Rena mendesah pasrah.


"Ya udah Ok."


Rena masuk kedalam dengan alasan ingin memberitahukan pada pegawainya terlebih dahulu, padahal dia sudah sangat ingin menumpahkan tangisannya di ruangannya.


"Maaf Roby, sebenarnya aku masih cinta sama kamu. Tapi jujur, aku takut kamu cuma merasa bersalah saat ini, dan setelah anak ini lahir kamu akan bawa anak aku pergi jauh dari aku. Aku gak bisa Rob, aku benar-benar takut.


Mungkin sekarang memang kita lebih baik seperti ini, tidak ada yang saling menyakiti. Walaupun merasakan sesak di dada, tapi aku yakin kalau kita memang berjodoh, pasti akan ada jalannya." ucap Rena bermonolog.


Setelah cukup tenang, Rena menemui Roby dan mereka pergi ke rumah sakit bersama.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Haduh 1620 kata, lumayan bikin jari keriting.


Jangan lupa bunga, kopi dan VOTENYA.


Next

__ADS_1


👏👏👏👏👏


__ADS_2