
Roby berdiri didepan pintu dengan menatap Rena tajam "Aku akan menghukummu Rena, kamu pasti akan menyesal."
"Maksudnya?"
Roby menutup pintu dan berjalan masuk mendekati Rena yang masih berdiri dengan tatapan bingung. Rena baru tersadar saat posisi Roby tinggal beberapa meter darinya.
"Kamu mau apa?" Rena melangkah mundur secara perlahan, dia mulai gelisah melihat tatapan Roby yang mengingatkan dia akan peristiwa dimana dia kehilangan mahkotanya.
"Aku kan udah bilang mau hukum kamu." Roby terus mendekat mengikis jarak diantara mereka.
"Tapi aku salah apa?, dan kenapa harus kamu yang hukum. Kalau aku emang salah, kamu lapor aja ke polisi biar mereka yang tangkap aku." Rena sudah semakin terpojok, karena kini tubuhnya sudah berada di ujung meja.
"Karena kamu udah buat salah sama aku, jadi aku yang mau hukum kamu." Roby memegang pergelangan tangan Rena saat sudah berada di hadapannya.
"Lepas Rob, kamu mau apa?" tanya Rena ketakutan.
Roby tak menjawab, tiba-tiba dia mengangkat tubuh Rena dan mendudukannya di meja.
"Rob, please maafin aku." Rena menangkupkan kedua tangannya.
"Kenapa minta maaf?" hardik Roby.
"Kamu bilang, aku salah sama kamu. Jadi ya aku minta maaf." Rena berkata jujur, Roby menahan tawanya mendengar jawaban polos Rena.
"Kamu tau apa salah kamu." Roby mendekatkan wajahnya pada wajah Rena.
Rena menggeleng "Trus kenapa minta maaf?" tanya Roby lagi.
"Aku takut sama kamu." Rena berkata dengan sedikit bergetar, dia benar-benar takut Roby akan memaksanya lagi seperti waktu itu.
Roby langsung memeluk Rena sayang, dia mengecup kening Rena sangat lama.
"Maaf, aku udah bikin kamu takut. Aku udah bikin kamu trauma, maaf aku gak maksud gitu."
"Jangan liatin aku kaya gitu lagi, aku benar-benar takut kamu hilang kontrol lagi."ucap Rena masih berada didalam dekapan Roby.
" Iya maaf sayang." Roby mengusap kepala Rena.
Mendengar kata sayang, Rena teringat kalau dia berstatus seorang istri di depan Roby.
"Lepas Rob, inget. Aku itu udah bersuami."
Roby mendengar Rena berkata seperti itu, langsung melepaskan pelukannya dan menatap tajam Rena.
"Kamu masih mau bohong sama aku?"
"Bohong soal apa?"
"Kamu masih gak mau jujur sama aku?" hardik Roby.
"Iya,,,, ta....Tapi aku, harus jujur soal apa?" kilah Rena dengan terbata, Rena sudah merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Apa Roby sudah mengetahui status palsunya dengan Boy.
Tapi dari mana Roby tau hal itu, sedangkan hanya Rena dan Boy yang tau tentang kesepakatan itu. Bahkan Leni saja yang tinggal bersama Rena tidak tau menau soal itu, yang Leni tau adalah Boy dan Roby itu teman Rena yang menaruh hati pada Rena.
Apa mungkin Boy yang memberi taunya, tapi tidak mungkin Boy melakukan hal itu, dan apa untungnya buat Boy. Rena masih saja sibuk dengan pemikirannya, sampai dia tidak sadar bahwa Roby sudah mulai kesal melihat keterdiaman Rena.
Roby langsung mencium bibir Rena yang tengah berkomat-kamit sendiri. Dia kesal sekaligus lucu melihat hal itu, Rena yang terkejut dengan apa yang dilakukan Roby, hanya bisa melotot tanpa melakukan apapun.
"Jangan melotot gitu, bikin aku tambah gemes tau gak." ucap Roby saat melepas ciumannya dan berganti menggigit leher Rena pelan.
"Ah kamu kaya vampir." Rena mengusap leher yang bekas terkena gigitan Roby.
Roby terkekeh "Jadi, ada yang mau kamu jelasin?"
"Jelasin soal apa?" Rena masih saja berkilah.
"Oh, jadi mau aku gigit seluruh tubuh kamu. Iya!" ancam Roby yang sudah memegang kedua pinggang Rena.
"Eh, jangan jangan. Iya aku cerita, tapi disofa aja. Jangan kaya gini."
__ADS_1
Rena merasa risih, karena saat ini posisi Rena duduk diatas meja. Sedangkan Roby duduk di kursi yang biasa Rena tempati tepat berhadapan dengannya. Kedua tangan Roby melingkar di pinggang Rena dengan tangan yang bertumpu pada pahanya, sedangkan wajah Roby tepat berada didepan dada Rena dengan kepala mendongak menatap Rena.
"Kenapa?, kamu jadi pengen ya!. Kalau kamu mau, aku sedia kok buat bantuin kamu." goda Roby dengan mengendus tubuh Rena, persis seperti anjing pelacak.
"Ih cabul banget sih kamu, kita bukan muhrim tau." protes Rena mendengar ucapan Roby yang ambigu.
Roby mencubit hidung mungil Rena "Otak kamu tuh yang ngeres perlu di sapu dulu, maksud aku tuh kamu pengen makan. Aku sedia bantu kamu buat ambilin makan, apa jangan-jangan kamu emang mau itu. Iya!" ledek Roby yang melihat Rena sudah malu.
"Ngeselin." cebik Rena membuang muka, dia malu melihat wajah Roby yang tengah menggodanya.
Roby tertawa, lalu membantu Rena turun dan membawanya ke sofa, dan mereka duduk bersama.
"Ya udah ayo ngomong." ajak Roby to the point.
"Ya tapi gak gini juga dong." protes Rena, karena Roby mendudukan dirinya di pangkuannya.
"Apa lagi sih, kamu protes mulu. Aku cium habis-habisan nih." Roby sudah memajukan bibirnya.
"Eh iya, enggak enggak." Rena menutup bibir Roby dengan telapak tangannya.
"Ya udah, makannya gak usah protes." Roby mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya di dada Rena.
"Rob ih."
"Ayo deh, protes lagi. Aku tuh kangen tau gak sih sama kamu, dan aku belum hukum kamu ya. Inget itu."
"Iya gak protes lagi."
"Ya udah mulai."
Rena menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara "Sebenarnya aku sama Boy tuh bukan suami istri, aku refleks bilang gitu sama kamu waktu itu karena..."
"Karena apa hm?"
"Karena, aku takut kalau kamu tau aku hamil anak kamu, kamu bakal bawa anak itu dan misahin aku dari dia. Maka dari itu, aku pura-pura sama Boy biar kamu gak ganggu aku lagi." Rena tertunduk takut menunggu reaksi Roby.
Roby mendongak dan menatap Rena intens. "Kenapa kamu mikir, aku bakal misahin kamu dari anak itu?"
"Aku emang marah dan gak terima kamu pergi tanpa kabar."
"Jadi, kamu bener mau bawa anak aku!!" Rena mulai gelisah, takut Roby benar-benar akan membawa Kafka pergi.
Roby tiba-tiba menggigit bahu Rena sedikit keras, karena kesal mendengar jawaban Rena. Bisa-bisanya Rena berpikir seperti itu.
"Awww, sakit Rob. Kamu kenapa sih?, suka banget gigit. Kamu kurang makan daging ya!" Rena berucap sedikit kesal.
"Iya, aku mau makan kamu tau gak."
"Ih sadis. Udah ah lepas." Rena mencoba melepaskan diri dari pelukan erat Roby.
"Udah diem. Aku mau makan kamu, karena aku kesel sama kamu. Bisa-bisanya kamu mikir aku gak nerima atau ngakuin anak kita. Kamu gak tau aja, saat aku dengar kamu hamil anak aku dari Asgar, aku udah gak sabar pengen ketemu sama kamu dan tanya langsung sama kamu. Aku udah gak sabar nunggu hari dimana hanya ada aku, kamu, dan anak kita."
"Jadi kamu gak benci sama Kafka?" tanya Rena sekali lagi untuk memastikan.
"Mana ada aku benci sama sesuatu yang udah aku tunggu, bahkan mommy berharap aku bawa kamu sama Kafka kesana."
"Ibu kamu!"
Roby mengangguk "Tapi itu gak sekarang, karena sekarang aku mau hukum kamu dulu karena udah berani bohongin aku."
"Hukuman!"
"Iya, sebagai hukuman. Kamu dan Kafka ikut aku ke Jakarta, kalian tinggal di apartemen aku. Kamu juga harus layani semua keperluan aku."
"Tapi Rob, kita ini kan." ucapan Rena terhenti, karena Roby yang menyela lebih dulu.
"Kamu tenang aja, kita cuma tinggal satu atap tapi beda kamar. Disana juga ada ART bukan cuma kita bertiga, jadi kamu gak usah takut aku bakal macem-macem. Aku cuma mau kamu yang siapin semua keperluan aku, untuk pekerjaan rumah biar ART yang kerjain."
"Tapi gimana sama rumah aku dan kedai?"
__ADS_1
"Aku bakal suruh orang buat urus kedai ini selama kamu gak disini. Kalau rumah kan ada Leni yang urus."
"Trus, berapa lama aku disana?"
"Selamanya." jawab Roby enteng.
"APA?." Rena melorot mendengar jawaban Roby.
"Kenapa?, mau protes. Kalau protes, aku bakal nikahin kamu sekarang juga." ancam Roby.
"Eh iya enggak."
"Jadi kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Roby dengan nada bergetar.
"Eh, bukan gitu." Rena jadi merasa bersalah melihat wajah sedih Roby.
"Berarti kamu mau nikah sama aku!"
"Eh,,, itu. Anu." Rena bingung menjelaskan maksud pada Roby.
"Iya aku paham, kita akan bicara dulu sama ibu kamu sama Resti juga." Roby mengusap kepala Rena lembut.
Rena terasa terhipnotis, tanpa sadar dia menganggukan kepalanya. Namun sesaat kemudian dia tersadar.
"Eh, emang kapan aku bilang mau nikah sama kamu."
"Keputusan tidak bisa diganggu gugat." Roby tersenyum smirk.
"Dasar licik." cibir Rena, tapi hatinya senang melihat keseriusan Roby. Walaupun masih ada sedikit keraguan, tapi Rena hanya menikmati apa yang saat ini dia rasakan.
"Kalau sama kamu itu, harus pakai cara licik."
"Trus kapan kita ke Jakarta?"
"Malam ini."
"Hah, secepat itu."
"Besok aku harus cepat ketemu tuan Morens, sebelum aku dapat kuldum (Kuliah dua puluh menit). Karena tadi aku gak kasih tau dia kalau pergi dari kantor, dan itu gara-gara kamu."
"Loh kok aku!, ya itu salah kamu kenapa gak kasih tau tuan Morens."
"Karena aku udah gak sabar pengen ketemu sama kamu dan kasih hukuman sama kamu." Roby mencubit hidung Rena.
"Alasan."Rena mencebik.
"Pulang yuk, aku mau ketemu sama Kafka. Aku kangen sama dia, lagian kamu juga harus siap-siap kan."
"Iya. Ya udah ayok, aku juga udah gak mood kerja. Pikiranku udah ambyar gara-gara kamu."
Roby terkekeh "Makasih sayang, kamu masih percaya sama aku."
"Dih sayang, geli. Sejak kapan kamu jadi lebay gini."
"Sejak kecantol sama kamu penakluk hati ku. Cuma kamu yang bisa taklukin hati aku."
"Oh, jadi ceritanya nih aku PENAKLUK SANG ASISTEN gitu."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Maaf 3 hari kemarin aku gak update. Karena aku abis dapat musibah, ibu dari suamiku meninggal dunia.
Jadi maaf baru sempat update, inipun nyolong waktu.
Next
__ADS_1
💪💪👏👏👏