Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Cuma Bisa Pasrah


__ADS_3

Dengan segala penolakan dari Roby dan Boy, dan dengan banyaknya pemaksaan dari Rena dan Resti, akhirnya diputuskan resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan di Jakarta 1 bulan lagi, dan akad nikah Boy dan Resti akan dilaksanakan 1 Minggu lagi di kota S.


Hari ini Roby kembali ke Jakarta terlebih dahulu untuk meminta izin pada Morens sekaligus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda kemarin, setelah 3 hari ini dia berada di kota S.


"Selamat pagi boss." kini Roby sudah berada di dalam ruangan Morens.


Morens mendongak menatap Roby yang baru saja masuk "Kamu baru sampai?"


"Iya, maaf boss. Saya bangun kesiangan, semalam saya tiba jam 10 di rumah."


"Oh ya udah, bagaimana urusannya?. Apa udah beres?"tanya Morens menutup lembaran kertas yang sedang dia baca.


Roby duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang di duduki oleh Morens.


"Udah sih, cuma..."


"Cuma apa?"


"Cuma aku masih belum yakin kalau Boy benar-benar serius sama Resti?" jujur Roby, karena memang sebelum berangkat kesana, Roby sudah bercerita pada bos sekaligus sahabatnya itu mengenai Boy dan Resti.


"Apa yang bikin kamu gak yakin?"


"Ya... Aku takut aja, itu cuma sebagai jalan mempermudah dia buat membalas aku atau Rena. Apalagi perkenalan mereka belum terlalu lama, tapi Boy sudah berani mengutarakan keinginannya untuk menikahi Resti. Bukankah itu sedikit aneh!!"


"Hahaha, aku paham apa yang kau takutkan. Tapi, sejauh yang aku tau. Boy bukan tipe orang pendendam, dia itu pria yang baik."


"Huh, kenapa kalian semua membela dia. Rena pun bilang begitu, apa sih bagusnya dia?" Roby juga sebenarnya tau kalau Boy itu pria baik-baik, hanya saja dia terus menyangkal kenyataan itu. Dia masih mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Karena memang begitu kenyataannya, kalau dia mau membalas kalian, dia punya banyak kesempatan tapi dia malah memutuskan untuk mengalah dan lebih fokus pada bisnisnya.


Lalu, kau masih ingat kasus Rancy?. Si wanita gila harta satu itu, dulu dia juga meninggalkan Boy dan berpaling padaku saat tau bahwa usaha milik keluarga Boy sedang dalam masa sulit. Tapi Boy tidak pernah membenciku.


Dan saat dia tau kalau Chintya itu istriku, dia punya banyak kesempatan untuk membalasku. Tapi dia gak lakukan itu, dan malah membantuku mengatasi masalahku dan Rancy kemarin.


Sudahlah, percaya padaku. Boy itu pria yang baik dan tepat untuk Resti, apalagi keluarganya sudah tau, itu artinya dia benar-benar serius. Kalau sampai dia macam-macam, aku juga gak akan tinggal diam." jelas Morens panjang lebar dan mencoba memberi pengertian pada Roby.

__ADS_1


"Baiklah, aku berusaha untuk percaya. Tapi, aku akan tetap mengawasinya. Karena sekarang mereka adalah tanggung jawabku." ujar Roby pasrah.


"Bagus, kalau untuk itu aku setuju. Kita memang harus tetap selalu waspada." Morens berjalan mendekat dan menepuk pundak asisten kesayangannya itu.


"Terima kasih atas sarannya."


"Santai aja, oh ya. Lalu kapan mereka menikah?" Morens berpindah duduk di sofa, diikuti oleh Roby.


"Minggu depan."


"Mendadak sekali, apa sempat untuk mengadakan resepsi?. Secara sekarang Boy adalah pengusaha sukses, pasti dia akan mengadakan resepsi yang mewah."


"Pesta akan diadakan 1 bulan kemudian, dan... Em..." ucap Roby ragu-ragu untuk mengatakan kalau di pesta itu dia juga akan menjadi mempelai. Karena dia yakin, saat Morens mendengar hal itu, dia pasti akan ditertawakan habis-habisan oleh boss gilanya itu.


"Dan..."


"Dan...."


"Dan apa Roby?, dan din dun." kesal Morens karena Roby berbicara tidak jelas.


"Itu apa?, kalau kamu gak ngomong yang jelas!, mending keluar dari ruangan ku." ancam Morens.


"Jangan!!, aku belum selesai ngomong."


"Kalau begitu ngomong yang jelas, kaya cewek lagi PMS aja sih. Ngomong pake teka teki." omel Morens.


"Itu,,, di acara pesta itu,,,, aku juga,,, akan menjadi mempelai." ucap Roby terbata dan suara yang mengecil di akhir kalimat.


"What!!, kamu ngomong apa?. Coba ulangi sekali lagi, aku gak jelas."


"Aku akan jadi mempelai disana, bersama dengan Rena." ketus Roby kesal.


"What the F...., are you kidding me?."tanya Morens tidak percaya.


"No,.i am serious."

__ADS_1


"Hahaha, jadi maksudnya kalian Double Bride gitu. Hahaha, kalau mom Lexi dan Sera tau, kamu pasti habis menjadi bahan bullyan mereka."


"Tertawalah yang puas bos." cibir Roby kesal.


"Hahaha, yang satu pengantin ketuaan. Satu lagi pengantin Kadaluarsa. Hahaha,,, ini unik uhuk uhuk,,, aduh perutku sakit uhuk uhuk." Morens memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa, dia bahkan sampai terbatuk karena itu.


"Rasakan kau." cicit Roby.


"Kenapa harus di jadikan dua pengantin?" tanya Morens setelah dapat mengendalikan tawanya.


"Awalnya aku niat mengadakan resepsi untuk pernikahanku sendiri, namun Rena menolak dan malah mengajukan syarat kaya gitu atau gak akan ada resepsi sama sekali, dan sialnya Resti setuju ide tersebut." keluh Roby disertai dengan kepasrahan.


"Haha, pemikiran wanita."


"Aku juga bingung apa yang dipikirkan para wanita."


"Tapi boleh juga, itu akan menjadi trending topik di kalangan para pebisnis. Mungkin untuk kalangan ke bawah itu sudah biasa, tapi untuk kalangan para pebisnis ini suatu hal yang baru bukan. Chintya pasti akan senang mengetahui hal ini." Morens tersenyum manis membayangkan apa yang akan terjadi di pesta itu nanti saat dia dan keluarganya datang kesana, dia tidak tau saja bahwa itu juga nanti yang akan menjadi bumerang untuknya juga.


"Nasib-nasib, bucin sama istri." Roby memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut.


"Makanya jangan terlalu bucin sama istri." ejek Morens.


"Gak sadar diri, dia sendiri lebih bucin sama istrinya. Liat aja ntar, kalau ada yang lucu pasti gue bakal paling kencang tertawa." cibir Roby dalam hati.


...****************...


...****************...


4 bab menuju end.


Stay tune with me ya guys...


Setelah ini, aku mau meneruskan cerita yang lain. Dan ada juga cerita baru yang bakal menguras banyak air mata.


Lanjut

__ADS_1


👍👍👍


__ADS_2