
Setelah selesai dengan pesta pernikahan yang amat menyebalkan bagi Boy dan Roby. Kedua pasang pengantin ini masuk ke kamar mereka masing-masing.
Masih tetap di hotel tempat yang sama tempat berlangsungnya pesta pernikahan, Boy masuk kedalam kamar dengan memasang wajah lusuh.
Bagaimana tidak, sepanjang acara berlangsung, Boy terus saja di jadikan bahan candaan oleh keluarga, kerabat bahkan relasi bisnisnya yang hadir pada acara itu.
Namun begitu, Boy merasa senang dan bahagia. Karena disana mereka semua turut bergembira dengan pernikahannya, dan banyak yang memuji kecantikan istrinya, yang sedianya banyak membuatnya kesal.
Resti yang melihat sang suami dengan wajah lusuhnya, merasa lucu sekaligus kasian. Seorang Boy yang biasanya terlihat berwibawa, malam ini menjadi bahan candaan semua orang.
Setelah selesai mandi, Resti melihat sang suami nampak tertidur dengan handuk yang masih melingkar di pinggangnya dan kaki yang menjuntai ke lantai dengan posisi telungkup. Mungkin karena terlalu lelah, Boy sampai langsung tertidur.
Resti tersenyum kecil melihat kelakuan suaminya itu, dia menghampiri sang suami untuk membenarkan posisi tidur yang sembarangan itu.
Namun baru saja Resti mendekat dan berdiri di sisi ranjang, tiba-tiba tangannya ditarik hingga membuat dirinya terjatuh tepat di atas tubuh Boy yang entah sejak kapan sudah berubah posisi menjadi telentang.
"Kak." teriak Resti karena kaget sekaligus kesal, karena kepalanya tepat mengenai dada bidang Boy yang kekar dan keras.
"Kenapa sayang?" jawab Boy lembut dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Resti.
"Sakit nih." keluhnya seraya mengusap keningnya.
"Maaf ya, mana yang sakit coba aku liat." bujuk Boy.
"Nih, jidat aku benjol deh."
"Ohhh, yang ini." Boy mengecup kening Resti mesra. "Mana lagi?, ini juga!!" Boy mencium kedua kelopak mata sang istri. "Ini juga kan!!" tunjuknya pada pipi Resti lalu menciumi pipi kanan dan kiri. "Yang ini juga pasti kan!!" Boy mengusap lembut bibir mungil Resti dan lalu mengecupnya sesaat.
Resti terkejut atas apa yang dilakukan oleh Boy, namun dia hanya diam saja merasakan kelembutan yang diberikan sang suami padanya.
"Aku cinta kamu sayang." ucap Boy berbisik lembut di telinga Resti, hingga sapuan nafasnya menyentuh dan membuat Resti merasakan getaran yang aneh.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, terima kasih udah mau menerima aku sebagai pasangan kamu. Aku janji aku akan..." ucap Boy terputus karena Resti menempelkan jari telunjuknya di bibir Boy.
"Aku gak butuh janji, aku butuh pembuktian." sela Resti.
"Itu pasti, aku akan buktikan sama kamu. Aku akan selalu bahagiakan kamu dan aku gak akan kecewakan kamu." Boy mengecup jari telunjuk Resti.
"Aku pegang ucapan kamu."
"Iya sayang, kamu bisa pegang ucapan aku. Makasih ya."
"Aku juga makasih sama kamu, kamu udah sabar ngadepin sikap aku yang terkadang masih labil. Kamu juga gak bosan buat meyakinkan aku tentang perasaan kamu."
"Iya sayang." Boy memeluk erat tubuh sang istri yang masih tercium aroma lavender setelah mandi.
"Kak, kamu belum makan. Makan dulu yuk."
"Iya, aku mau makan."
"Justru ini makannya lebih enak posisi kaya gini." Boy mengusap-usap wajahnya di rambut Resti yang masih sedikit basah.
"Makan apa sih kak?, kamu gak jelas banget deh."
"Makan kamu sayang." Boy mencium lembut bibir mungil Resti yang tepat berada di hadapannya.
Boy mencoba mengutarakan dan mengalirkan seluruh rasa cintanya lewat ciuman hangat yang dia berikan pada Resti.
Resti merasakan getaran yang berbeda dalam ciuman Boy kali ini, kelembutan, kehangatan dan juga kasih sayang dapat dia rasakan saat ini. Resti mulai membalas ciuman itu yang sedikit demi sedikit membangkitkan gejolak dalam diri Boy.
Rasa panas yang mulai menjalar di tubuhnya membuat dia melupakan kalimat yang pernah dia ucapkan untuk menunggu kesiapan mental sang istri.
Boy mulai mendominasi permainan itu, Resti juga merasa tubuhnya tidak sanggup untuk menolak sentuhan yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
Boy merasa sangat bahagia karena Resti tidak menolak keinginannya, namun tiba-tiba saja dia teringat ucapannya sendiri dan menghentikan aktivitas itu.
"Oh maaf sayang." ucap Boy merasa bersalah.
"Kenapa kak?" Resti merasa heran, kenapa Boy berhenti di saat dia tengah berada di awang-awang. Apa sang suami tidak mau menyentuhnya.
"Aku gak mau maksa kehendak aku dan membuat kamu merasa tersakiti. Aku kan pernah bilang kalau akan tunggu sampai kamu siap, tapi nyatanya aku hampir aja mengingkari ucapan aku sendiri." sesal Boy tertunduk dengan tubuh masih berada di atas tubuh Resti.
Resti tersenyum, rupanya karena masalah itu. "Kak, dengerin aku. Mau bagaimanapun, siap atau gak. Entah kapan, aku juga tetap harus memberikan apa yang sudah menjadi hak kamu dan jadi tugas aku.
Karena sekarang aku sudah jadi istri kamu, jadi semua yang ada di diri aku itu adalah hak kamu. Sekarang aku sudah siap, aku gak mau membuat dosa dengan tidak menjalankan kewajiban aku dan memberikan hak kamu." jelas Resti seraya mengusap rambut Boy.
Boy mengangkat wajahnya antusias "Kamu yakin!!, bukan karena terpaksa kan."
"Aku siap serta ikhlas lahir batin."
Boy mulai Kembali melancarkan aksinya pada sang istri, keintiman yang terjadi diantara mereka membuat mereka melupakan rasa lelah dan rasa lapar yang mereka rasakan sejak tadi.
Kehangatan yang terjadi di dalam kamar itu berlangsung hingga hampir pagi, karena Boy benar-benar memakan sang istri untuk menggantikan rasa lapar yang sebenarnya.
Dia baru berhenti saat waktu hampir mendekati waktu subuh, Boy juga melihat sang istri yang sudah sangat kelelahan. Namun Resti tak sedikitpun menampakan keluhan pada Boy, dan itu semakin membuat Boy semakin bersemangat dan semakin bersyukur mendapatkan Resti.
...----------------...
...----------------...
Udah ah segini aja
Lagi gak mood nulis ritual aye aye
😘😘😘
__ADS_1