
Semenjak kedatangan kembali Gaby, kini Roby lebih berhati-hati dalam melakukan kegiatan apapun. Terlebih lagi untuk keluarganya, Rena tidak diizinkan untuk pergi kemana-mana tanpa dirinya, begitu juga untuk sang ibu.
Roby hanya takut terjadi apa-apa saat Roby tidak bersama dengan mereka, karena dia tau Gaby adalah wanita yang nekat. Dia sangat licik dan juga berbahaya, entah apa yang diinginkan oleh Gaby. Hingga dia tidak melepaskan Roby agar bisa hidup dengan tentram.
Pagi ini Morens meminta Roby untuk menggantikannya menemui seorang klien yang baru saja bekerja sama dengan RENS CORP, karena hari ini Morens harus menghadiri undangan sebuah acara amal di daerah B.
"Boss."
"Kamu bisa kan Rob?" tanya Morens sesaat sebelum dia berangkat ke daerah B.
"Bisa, boss gak usah khawatir."
"Ok deh saya percaya sama kamu."
"Makasih boss."
"Oh ya, saya juga mau kasih tau. Kayanya saya besok gak bisa datang ke kantor deh." ucap Morens seraya berdiri dan merapihkan penampilannya.
"Kenapa boss?"
"Karena saya sekalian mau honeymoon lagi."
"WHAT!, honeymoon lagi. Saya aja yang penganten baru belum honeymoon sama sekali, boss malah udah mau honeymoon lagi." cibir Roby.
"Ya itu sih salah kamu, kenapa kamu gak ambil cuti buat honeymoon. Kamu tinggal bilang mau kemana, ntar saya yang tanggung biayanya plus akomodasi." tawar Morens.
"Makasih boss, tapi kayanya belum saatnya boss."
"Kenapa?"
"Karena saya masih ada urusan yang harus saya selesaikan, apalagi Gaby udah ada disini lagi. Sebelum masalah ini selesai, saya gak bisa tenang untuk bawa Rena honeymoon."
"Ya kamu benar Rob, kayanya kamu harus segera bertindak sekarang. Kalau gak, akan terlambat Rob."
"Ya boss."
"Ok, saya pergi dulu. Besok kita akan bicara lagi." pamit Morens sambil berlalu pergi.
Setelah kepergian Morens, Roby segera bersiap untuk menemui klien yang sudah ada temu janji dengannya.
Roby keluar dari ruangan Morens dan melangkah menuju lift, saat menunggu pintu lift terbuka seseorang memanggilnya.
"Roby."
"Ya."
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Asgar.
"Aku mau bertemu klien di kafe Marina untuk menggantikan tuan Morens, karena tuan Morens mau menghadiri acara lain bersama nyonya Chintiya."
"Oh Ok, hati-hati."
Setelah Roby pergi, Asgar mengirimkan pesan kepada seseorang.
(Dia pergi ke kafe Marina) kirimnya pada seseorang.
(Ok) jawab yang disana.
(Rencana lancar) jawab Asgar.
Roby melanjutkan langkahnya ke arah loby, setelah itu dia melajukan mobilnya menuju ke kafe Marina. 15 menit kemudian, dia tiba di kafe tersebut dan menuju ke ruang yang sudah di pesan oleh mereka.
Begitu masuk, Roby melihat seorang wanita cantik dengan pakaian yang cukup seksi dan elegan.
"Selamat siang." sapa Roby.
"Selamat siang, tuan Morens." jawab si wanita.
"Maaf nona, saya Roby asisten tuan Morens. Beliau meminta maaf karena tidak bisa menemui Anda karena ada urusan mendadak. Jadi saya yang menggantikan beliau, saya harap nona tidak keberatan akan hal ini."
"Oh begitu, tidak apa-apa." ucapnya seraya menatap Roby dengan intens dan tatapan penuh minat. "Perkenalkan saya Imelda." sambungnya. Seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Oh silahkan."
Roby kemudian duduk di sebrang kursi yang di duduki oleh Imel, dan disusul oleh Imel.
Roby membuka tablet yang dia bawa dan menunjukan sebuah design sebuah kemasan untuk produk obat dan kosmetik yang terbaru.
"Jadi begini nona, kami ingin design seperti ini. Hanya saja dirubah di bagian atas dan jika bisa terbuat dari plastik yang berbahan aman untuk makanan."
"Apa anda mau menambahkan label perusahaan di kemasannya?"
"Tidak perlu, karena produk ini kami buat untuk di donasikan kepada para penderita wabah pandemi saat ini."
"Oh, RENS CORP memang sungguh sangat banyak berkontribusi untuk negara ya." ucap Imel dengan nada manja dan menggoda.
"Sudah kewajiban kita sebagai warga negara yang baik."
Pembicaraan mereka berhenti sesaat, kala seorang pelayan mengantarkan sebuah minuman dan makanan kepada mereka.
"Baiklah, kami akan simpan design ini. Kami akan mengantarkan kepada anda samplenya, jika sudah sesuai dengan yang ndiinginkan baru kami akan produksi semuanya." Imelda sedikit membungkukkan tubuhnya, hingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang terlihat sangat menonjol.
__ADS_1
Roby memandang datar ke arahnya "Ok, kami tunggu. Tapi kami tidak mau ada kecurangan di bahan baku pembuatan kemasan, karena kami akan mengujinya juga." tegas Roby sambil menunjukan aura dinginnya.
"Tuan Roby tidak perlu khawatir, kami tidak suka berbuat curang seperti itu."
"Baguslah."
"Sebelum pembicaraan ini usai, silahkan dinikmati hidangan yang sudah saya pesan ini."
Roby menghela nafas pelan, sebenarnya dia sangat malas menerima tawaran dari wanita itu. Roby merasa tidak nyaman dengan tatapan dan sikap Imelda yang sedikit agresif. Namun jika tidak diterima, dia takut akan mencoreng nama baik RENS CORP yang dia wakilkan.
"Baiklah, tapi saya tidak bisa berlama-lama. Karena masih banyak pekerjaan yang menunggu."
"Tak masalah." jawab Imel senang.
Mereka mulai menikmati makanan yang sudah di pesan Imelda, selama jamuan makan Imel tak henti-hentinya menatap Roby dengan tatapan lapar. Dia juga mencoba menggoda Roby dengan menggesekkan kakinya yang berada di bawah meja dengan kaki milik Roby.
Mendapati itu, Roby langsung menghentikan makannya dan menyudahi pertemuan itu dengan segera.
"Terima kasih untuk jamuan anda, dan saya rasa pembicaraan ini sudah selesai." ucap Roby yang hendak berdiri.
Imel menahan tangan Roby agar tidak cepat pergi.
"Tunggu tuan Roby, apa saya bisa minta no ponsel anda. Saya akan menemui anda lagi setelah sample selesai dibuat." pinta Imel.
Roby berpikir sejenak, dan kemudian dia memberikan no ponsel Asgar pada wanita Itu. Setelahnya, Roby ingin melangkah pergi. Namun tiba-tiba kepalanya terasa begitu pusing dan berdenyut, dan tak lama dia ambruk tak sadarkan diri.
Setelah memastikan Roby benar-benar sudah tidak sadar, Imel memanggil 2 orang suruhannya yang menunggu di luar untuk mengangkat tubuh Roby.
"Oh obat ini sangat bagus, reaksinya cepat sekali." ucap Imel monolog.
Mereka membawa Roby ke sebuah kamar hotel yang sudah mereka siapkan, begitu tiba di dalam kamar, kedua orang tadi meletakkan Roby di ranjang.
Setelah itu mereka mengikat kedua tangan dan kaki Roby di sisi ranjang, mereka juga memberikan minum secara paksa padanya yang masih dalam keadaan tidak sadar.
Merekapun melucuti semua pakaian Roby tanpa menyisakan apapun, hingga terpampang tubuh kekar nan atletis milik Roby.
"Mari tunggu saatnya kita bermain sayang." ucap si wanita yang tak lain adalah Imelda dan Gaby yang juga berada disana.
"Its show time."
......................
......................
Next
__ADS_1
👏👏👏