Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahanpun akhirnya tiba, acara penting itu hanya dilakukan di kediaman Bu Lastri sesuai permintaan Resti. Sedangkan 3 Minggu kemudian, mereka akan bertolak ke Jakarta untuk mengadakan resepsi pernikahan disana.


Resti dengan wajah alaminya, terlihat sangat anggun. Dia dirias hingga membuat dirinya nampak berbeda seperti biasanya. "Wah,,, mbak. Cantik banget, saya sendiri aja sampai gak ngenalin loh." ucap si tukang rias.


"Jangan panggil mbak dong, saya baru 20 tahun loh. Lagian saya bisa kaya gini, karena tangan hebat kakak. Kalau gak, saya mah gak ada apa-apanya." tolak Resti dengan sedikit tersenyum.


"Iya sih, tapi kamu jadi keliatan lebih dewasa. Saya yakin, suami kamu yang super ganteng itu pasti kaget dan terkagum-kagum sama kamu."


Mendengar kata suami, Resti mendadak kembali muram. Saat ini, pikiran dan hatinya masih tengah bergejolak. Resti melamun memikirkan hidupnya kedepan nanti, sampai dia tidak menyadari bahwa sang ibu sudah berada di sampingnya untuk menjemputnya ke tempat dimana acara dimulai.


"Neng." panggil sang ibu, namun Resti masih bergeming. Hingga di panggilan ke 3, dia baru tersadar akan lamunannya.


"Neng,,, ayok atuh. Sudah ditunggu semua orang, kamu kenapa kok ngelamun aja dari tadi?" tanya sang ibu.


"Eh,,, eng... enggak, neng cuma gugup aja" kilah Resti.


"Gak usah gugup, nanti kalau kamu liat Boy pasti gugup kamu hilang. "


"Iya."


"Boy,,, mani kasep pisan." bisik Bu Lastri pada Resti.


"Ih ibu."


"Ya udah ayo."


Mereka pun keluar dari kamar rias dengan diiringi oleh Rena dan Jenny yang menunggu di luar kamar. Begitu tiba di tempat acara, semua orang yang berada disana dibuat kagum saat melihat Resti yang nampak cantik dan sangat berbeda.


Terutama Boy, dia bahkan sampai tidak berkedip melihat sang calon istri terlihat begitu mempesona. Dia tidak menyangka, Resti yang biasanya terlihat tomboi nan sederhana bisa berubah menjadi sangat cantik nan anggun.


Resti di dudukkan di sebelah kiri Boy yang sudah berhadapan dengan penghulu dan juga seorang wali hakim, mengingat sang ayah sudah lama tiada dan keluarga mereka semua hanya tinggal terdiri dari anggota wanita saja.


"Sayang, kamu cantik sekali." Boy berbisik lembut di telinga Resti seraya tersenyum manis.


"Makasih." jawabnya datar.


Mendengar nada suara Resti yang masih nampak datar dan senyum yang terlihat dipaksakan, Boy menarik nafas dalam-dalam. Sejak kejadian di bandara dan di kantor waktu itu, Resti menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Dia hanya bicara dan tersenyum di depan orang lain saja.


Namun Boy hanya bisa pasrah, bagaimanapun ini memang kesalahannya. Dia masih bersyukur bahwa Resti tidak membatalkan rencana pernikahan mereka, dan Resti juga tetap bersikap biasa di hadapan orang lain seperti mereka berdua tengah baik-baik saja.


Boy akhirnya mengucap ikrar pernikahan dengan hati yang sedih, berulang kali dia melirik kearah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu. Dia ingin melihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh wanita itu, namun yang dia dapat hanya ekspresi datar yang sulit untuk ditebak.


Setelah mengucap ikrar, mereka berdua duduk di tempat yang sudah disiapkan. Semua keluarga dan kerabat yang datang menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat, kedua orang tua Boy, ibu Lastri dan Jenni, Roby dan Rena, juga tak ketinggalan para tetangga dan Leni yang sengaja datang untuk melihat pernikahan mereka.


Sampai dimana seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka berdua dan mengucapkan selamat.


"Selamat ya Boy, akhirnya kamu menikah juga. Tante kira, kamu mau melajang selamanya. Ternyata ada juga yang mau sama kamu ya." ucap wanita paruh baya itu, yang ternyata adalah adik dari ibunda Boy.


"Makasih tante, aku bukan gak laku. Aku cuma lagi nunggu jodoh yang tepat. Dan sekarang aku udah ketemu wanita yang paling tepat buat aku." jawab Boy seraya melirik sang istri yang hanya tersenyum tipis."


"Bisa aja kamu alasan,,, oh ya kamu cantik banget."ucap Tante melihat ke arah Resti.


"Iya dong."sela Boy cepat.


"Saya gak ngomong sama kamu, saya ngomong sama istri kamu." jawabnya. lalu tatapannya kembali pada Resti. "Sayang, nama kamu siapa?"


"Saya Resti Tante."

__ADS_1


"Resti!!!, kok saya pernah denger nama ini deh."


"Iya, nama Resti banyak kok tan."


"Iya juga sih." jawab si Tante, kemudian dia melihat sekeliling rumah tersebut dan mendapati sebuah Poto keluarga dimana di Poto itu terdapat dia bersama sang ibu dan Rena.


"Itu Poto keluarga kamu kan!!" tanya si Tante sambil menunjuk sebuah pigura.


"Iya, kenapa Tan?"


"Itu kamu yang disebelah kiri?"


"Iya."


"Kok saya kaya pernah liat kamu ya, tapi dimana gitu." si Tante mencoba mengingat-ingat.


"Masa sih tan."


"Ah, Tante mah sok kenal." timpal Boy.


"Diam kamu!!,,,, Tante udah inget nih sekarang."


"Dimana?" tanya Boy yang ikut penasaran.


"Kamu yang waktu itu bayar makanan Tante kan!!"


"Yang mana ya tan?, aku lupa tuh." ucap Resti bingung.


"Waktu di Jakarta, saya berdebat dengan pelayan resto. trus kamu datang dan bayarin makanan saya. Sekali lagi makasih ya."


"Ohhh yang itu, gak masalah kok tan."


"Iya, yang waktu itu mau Tante kenalin. Tapi kamu sok sibuk sih."


"Ih Tante. Kan emang aku sibuk."


"Jadi maksudnya!!, keponakan Tante yang waktu itu dia." tunjuk Resti pada Boy.


"Iya sayang, gak nyangka ya kalian berjodoh."


"Haha, lucu ya. Bisa kebetulan gini." Resti tertawa.


Melihat sang istri tertawa lepas, membuat sedikit kegundahan Boy berkurang. Sudah lama sekali rasanya dia tidak melihat senyum wanita pujaannya itu.


Setelah kepergian sang Tante, kesepian kembali melanda. Hanya ada keterdiaman antara sepasang suami istri itu.


"Kamu lapar sayang?" tanya boy memecah keheningan.


"Gak, aku capek."


"Ya udah kita istirahat aja ya."


"Tapi tamunya!!"


"Gak papa, yok."


"Hm."

__ADS_1


Boy meminta ijin kepada para tamu untuk membawa Resti beristirahat, sesampainya di kamar. Boy mendudukkan sang istri di tepi ranjang, kemudian dia berjongkok di depannya untuk membantu Resti membuka hells yang di pakai olehnya.


"Sayang."


"Hm."


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Boy lembut sembari mengusap-usap telapak kaki Resti yang sedikit lecet karena memakai high heels. Pasalnya, Resti yang sedikit tomboi lebih suka memakai sepatu sket atau sport. Jadi dia tidak terbiasa memakai sepatu dengan hak yang tinggi dan runcing.


"Gak."


"Kalau gak, kenapa kamu gak mau ngomong sama aku?"


"Ini aku ngomong."


"Maksud aku, kamu diemin aku. Gak ada obrolan sedikitpun."


"Ya karena emang gak ada yang perlu diomongin." jawab Resti ketus.


"Sayang, aku tau aku salah. Aku minta maaf sama kamu, aku egois. Tapi tolong sayang, jangan diemin aku kaya gini. Aku kangen denger kamu ngomel, kangen denger kamu yang judes tapi tetap perhatian sama aku.


Im so sorry, please for give me honey. I want see your smile, i miss your voice. Please honey, come back to me." ucap Boy seraya memeluk kedua kaki sang istri dan menunjukkan kepalanya di pahanya.


Resti menghembuskan nafas pelan "Kasih aku waktu buat berpikir, aku lagi berusaha buat menerima dan melupakan semua tentang masalalu kamu dan.....


Tapi kamu tenang aja, karena sekarang kita udah menikah, aku bakal tetap menjalankan kewajiban aku sebagai istri dan kamu tetap bisa mendapatkan hak kamu sebagai suami. Aku gak mau disebut sebagai istri durhaka.


Tapi untuk kembali seperti aku yang semula, aku masih butuh waktu. Aku ngerti, kamu pasti mikir aku kekanak-kanakan. Tapi aku sadar itu, aku emang masih labil seperti yang kamu pernah bilang. Jadi aku lagi mencoba berubah buat kamu." jawab Resti sembari memandang ke sembarang arah.


"Gak sayang, jangan pernah berubah sedikitpun demi aku. Aku suka dan terima kamu apa adanya, maaf karena aku pernah bilang kalau kamu masih kecil dan labil. Tapi aku bener-bener cinta sama kamu, aku sama sekali gak ada rasa yang tersisa buat kakak kamu ataupun orang lain.


Untuk masalah kewajiban, kalau kamu masih belum siap, aku akan tunggu sampai kamu bener-bener siap. Aku gak akan lagi maksa kamu, yang akhirnya cuma bikin kamu kecewa dan terluka. Sekali lagi aku minta maaf sayang."


"Iya."


"Tapi aku mohon, jangan diemin aku. Aku gak bisa sayang."


"Ya, aku akan coba."


"Makasih sayang."


"Hm."


"Emmmm, aku boleh cium kamu gak?" tanya Boy yang dijawab anggukan oleh Resti.


"Di bibir." tanyanya sekali lagi, yang lagi-lagi di jawab dengan anggukan kepala.


Dan akhirnya, dan akhirnya.....


...****************...


...****************...


1300 kata, pegel euy.


Tapi buat kalian, apa sih yang nggak.


eeeeyaaa...

__ADS_1


Lanjut besok, last chapter...


Don't go anywhere 😘😘😘


__ADS_2