
2 bulan berlalu
Hari-hari yang dilalui Rena makin terasa berat, setiap hari dia merasakan kepalanya pusing dan dia juga sering merasakan mual di pagi hari.
"Ada apa denganku?" Rena bermonolog.
Tiba-tiba dia teringat, kapan terakhir kali dia mengalami datang bulan. Mendadak tubuhnya merasa menggigil, jangan sampai apa yang dia takutkan terjadi.
Kalau benar terjadi, apa yang harus dia lakukan, apa dia akan memberitahu Roby, tapi apakah Roby akan menerimanya atau justru akan mengelak. Bila dia tidak memberitahunya, lalu bagaimana nasib anak ini, apakah dia harus pulang ke kampung halamannya dan memberi tau keluarganya. Tapi apa mereka akan menerima kehadiran anak ini ataukah justru mereka akan merasa malu dengan ini semua.
"Aaargghh." Rena meremas jemarinya dengan kuat, dia bingung apa yang harus dia lakukan.
Tapi untuk sekarang ini dia harus memastikan kebenarannya terlebih dahulu, dan dia bertekad, sepulang kantor dia akan membeli alat tes kehamilan atau tespek.
Tanpa Rena sadari, sedari tadi Asgar terus memperhatikan gerak-gerik Rena yang terlihat gelisah, begitupun dengan wajahnya yang semakin terlihat pucat.
Ingin sekali Asgar membawa Rena ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya, tapi Rena selalu menolak dan mengatakan bahwa dia hanya kelelahan.
Asgar sangat khawatir dengan keadaan Rena, biar bagaimanapun dia adalah rekan kerjanya. Apalagi dia sudah diamanatkan untuk mengawasi dan menjaga Rena.
Jam kerja pun usai, Rena bergegas merapihkan meja kerjanya dan bersiap-siap untuk pulang. Saat akan menaiki lift Asgar memanggilnya.
"Rena."
"Ya."
"Mau kemana?, buru-buru banget."
"Aku ada urusan penting."
"Aku antar ya." tawar Asgar, dia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Rena.
"Gak usah gar." tolak Rena.
"Tapi kamu kan buru-buru, kalau tunggu angkutan umum pasti lama loh." rayu Asgar agar Rena menerima tawarannya.
"Makasih, tapi itu gak perlu deh. Aku udah pesen taksi, dan mungkin taksinya udah di depan. Jadi aku duluan ya." Rena berjalan cepat meninggalkan Asgar dibelakang.
Namun Asgar tidak menyerah, dia menaiki lift yang lain untuk menyusul Rena. Dia tidak boleh sampai ketinggalan jejak untuk mengetahui kemana Rena pergi.
Lift yang di naiki Asgar tiba lebih dulu, karena hanya dia sendiri yang ada di dalam. Sedangkan lift yang Rena tumpangi mengangkut beberapa pegawai lain yang memiliki tujuan yang berbeda-beda, sehingga dia lebih lama sampai di loby.
Asgar langsung menaiki mobilnya dan menunggu Rena datang, benar saja taksi yang di pesan oleh Rena memang sudah tiba. Begitu taksi itu melaju, Asgar mengikutinya.
Sampailah taksi itu di depan sebuah apotik, Asgar berpikir.
"Apa Rena sakit?, bisa jadi dia memang menderita suat penyakit dan maka dari itu dia pergi ke apotik untuk membeli obat itu. Pantas saja dia terlihat lemah dan wajahnya sangat pucat." Asgar bermonolog.
__ADS_1
Setelah itu Asgar mengikuti Rena lagi, dia ingin memastikan Rena tiba di rumah dengan selamat.
Setelah memastikan Rena tiba di rumah dengan selamat, Asgar mengirimkan sebuah poto yang dia ambil tadi kepada Roby melalui pesan singkat. Kemudian dia melaporkan apa yang dia lihat dari sejak di kantor sampai saat ini.
Sedangkan di rumah, Rena yang sudah tidak sabar untuk mengetahui hasilnya segera menuju ke kamar mandi untuk mengecek kebenarannya.
Walaupun di bungkus tespek tertulis pemakaian dianjurkan pagi hari, tapi Rena tetap melakukannya.
Dia memang sengaja membeli beberapa tespek untuk lebih meyakinkan hasilnya.
Setelah ±5 menit menunggu, Rena harap-harap cemas menanti hasilnya. Saat hasilnya sudah nampak, Rena langsung merosot lemas terduduk di lantai. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat, garis dua yang dengan jelas terlihat pada tespek itu.
"Ya Allah, cobaan apa ini?. Dosa apa yang sudah aku lakukan, sehingga kau menghukumku dengan hamil tanpa suami." Rena bermonolog.
Dia menangis meratapi nasibnya yang dia sendiri tidak tahu kenapa ini bisa terjadi!, dia tidak menyalahkan takdir tapi hanya menangisi dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
Sudah berjam-jam Rena menangis, bahkan dia tidak sadar bahwa saat ini dia masih menggunakan pakaian yang tadi digunakan untuk bekerja tadi.
Dia bahkan tidak menyentuh makanan atau minuman sejak pulang dari kantor hingga saat ini waktu menunjukan pukul 3 pagi. Rena terus berpikir langkah apa yang harus dia ambil untuk hidupnya ke depan tanpa membuat malu keluarganya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, dengan mata yang sembab Rena tetap berniat untuk pergi ke kantor. Rena bangun dan beranjak ke kamar mandi, meski dengan kondisi tubuh yang lemah. Dia membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Asgar tiba di kantor, tapi tidak melihat adanya Rena di meja kerjanya. Asgarpun melanjutkan perjalanan ke ruangannya, 30 menit kemudian dia keluar dari ruangan, dan dia melihat Rena sudah berada di mejanya dan terlihat melamun juga nampak sebuah amplop yang berada di tangannya.
"Ren, kamu baru sampai?" tanya Asgar membuyarkan lamunan Rena.
"Ah, iya." jawab Rena gugup.
"Ya udah, aku mau ketemu bos dulu."
"Oh Ok."
Asgar curiga dengan amplop yang dipegang oleh Rena, dia berniat untuk mengawasi Rena lebih intens lagi. Asgar khawatir terjadi sesuatu dengan Rena.
Setelah itu Rena masuk ke dalam ruangan Morens.
"Permisi bos, saya mau bicara sesuatu." ucap Rena.
"Jangan formal begitu, apa yang mau kamu omongin?" tanya Morens menutup laporan yang sedang dia baca.
"Saya mau mengundurkan diri dan ini surat pengunduran diri saya." Rena menyerahkan surat pengunduran dirinya yang dia urus tadi pagi.
Morens tidak menanggapi surat Itu.
"Ada apa?, kenapa tiba-tiba mengundurkan diri?, apa ada masalah di kantor ini?, atau ada seseorang yang mengganggumu disini?" tanya Morens dengan tatapan datar.
"Enggak bos, saya mau pulang ke kampung. Ibu saya sudah tua dan dia sedang membutuhkan saya saat ini."
__ADS_1
"Kenapa gak ibumu saja kau ajak kesini?"
"Dia gak mau bos, lagi pula adik saya masih sekolah dan sebentar lagi akan ujian. Jadi saya gak bisa bila mengajak mereka pindah kesini."
"Apa enggak ada jalan lain?"
"Saya rasa gak bos, karena saya juga sudah berniat untuk berhenti bekerja dan membuka usaha disana." kilah Rena mencoba meyakinkan Morens.
"Apa kamu udah yakin sama keputusan kamu?" tanya Morens meyakinkan.
"Sudah bos." jawab Rena mantap.
Morens menarik nafas panjang
"Baiklah, kalau emang itu keputusan kamu. Walaupun sebenarnya saya tidak rela kamu berhenti bekerja, tapi saya gak bisa maksa kamu karena itu adalah hak kamu."
"Terima kasih bos."
"Sama-sama."
"Em, tapi apa saya boleh minta satu permintaan?" tanya Rena ragu-ragu.
"Apa itu?"
"Saya mohon bos jangan bilang sama siapapun soal pengunduran diri saya, termasuk nona Chintiya."
Morens menautkan alisnya serasa heran dengan permintaan Rena.
"Kenapa?"
"Saya cuma gak mau bikin semuanya khawatir, nanti kalau sudah tepat waktunya saya akan ngomong sendiri sama mereka."
"Ok."
"Sekali lagi terima kasih bos, karena selama ini bos dan juga nona Chintiya sudah baik sama saya."
"Saya yang seharusnya terima kasih, karena kamu sudah banyak membantu saya dan keluarga saya. Terutama bila dalam keadaan genting seperti yang sudah-sudah."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Next sore
👏👏👏👏👏
__ADS_1