Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Titik terang


__ADS_3

Sudah berhari-hari Roby mencari keberadaan Rena, dia sudah mendatangi semua tempat yang mungkin saja didatangi Rena.


Saat ini dia masih berada di kota S, dan dia sudah mencari keberadaan Rena dari sanak saudara, tempat rekreasi kesukaannya, sekolah Rena dan tempat yang lainnya. Namun semua nihil tidak ada sedikit jejak ataupun informasi yang Roby dapat.


Dia merasakan lelah, tapi tidak sedikitpun menyurutkan semangatnya untuk mencari wanita yang sudah membuat dirinya menjadi tidak jelas.


"Sayang dimana kamu?, ternyata kamu sekarang udah pintar ya main petak umpet. Awas, kalau udah ketemu gak akan aku lepasin. kamu akan dapat hukuman dari aku sayang." Roby mencoba menghibur diri sendiri.


......................


Kota L


"Assalamualaikum Res."sapa Rena yang sedang menghubungi adiknya.


"Walaikumsalam. Teteh udah lama banget sih gak telpon kesini, terus aku telpon tapi nomor teteh gak aktif." jawab Resti sedikit protes.


"Iya maaf atuh neng, teteh lagi banyak kerjaan sibuk banget. Oh iya ini nomor teteh yang baru ya, yang lama hapus aja soalnya ponselnya ilang." alasan Rena.


"Oh gitu, ya udah atuh gak papa."


"Gimana kabar ibu?, trus bagaimana sekolah kamu?. Ada masalah gak?"


"Ibu Alhamdulillah sehat, sekarang lagi ke pasar. Trus sekolah aku lancar kok, teteh kapan pulang, lebaran kemarin kan teteh gak pulang." tanya Resti yang rindu pada Rena.


"Tolong bilang ke ibu, teteh minta maaf. Kayanya sampai 2 tahun ke depan teteh belum bisa pulang deh, soalnya teteh ada tugas ke luar daerah, jadi gak bisa kesana dulu." ungkap Rena yang sedikit merasa ngilu karena harus berbohong dan menutupi keadaannya saat ini.


Dia akan memberi tahu keluarganya saat dirasa waktunya sudah tepat, biar bagaimanapun keluarganya harus tau kondisinya, dan dia juga tidak mungkin selamanya menyembunyikan anaknya.


Tapi tidak untuk saat ini, karena sekarang dia ingin menenangkan hati dan pikirannya dulu. Dia tidak mau kalau masalahnya akan menambah beban pikiran ibunya yang usianya sudah mulai senja.


"Yahhh, lama amat ya. Resti udah kangen tau teh. Oh ya teh, kemarin itu ada yang datang cari kakak kesini." ucap Resti yang baru saja teringat akan kedatangan Roby kemarin.


"Siapa?" tanya Rena penasaran.


"Tunggu deh, Resti lupa namanya. Dia cowok, orangnya ganteng banget teh. Mukanya bule gitu, mirip kaya Orlando Bloom yang main di film trilogi The Lord of The Ring itu loh teh."


"Siapa ya?, perasaan teteh gak punya temen kaya gitu." jawab Rena yang sebenarnya sedikit khawatir kalau yang mencarinya adalah Roby.


Karena dari semua cowok yang dia kenal hanya Morens, Boy dan Roby yang berwajah bule. Sangat tidak mungkin Morens datang mencarinya sampai kesana, biarpun mungkin itu adalah permintaan Chintiya pasti Morens pasti akan menyuruh orang kepercayaannya yang pergi.


Jika Boy, itu lebih tidak mungkin lagi. Karena mereka baru saja beberapa hari yang lalu ketemu, dan saat ini Boy sedang ada di Jakarta. Lagi pula Boy tau keberadaan dirinya, untuk apa dia kesana.


Satu-satunya yang memungkinkan adalah Roby, tapi jika benar itu Roby. Itu menandakan bahwa saat ini Roby sudah kembali ke Indonesia setelah berbulan-bulan pergi ke Amerika untuk menyelesaikan masalah yang sampai saat ini Rena tidak tau masalah apa yang dihadapi Roby.


"Masa sih!, tapi dia bilang dia temen deket teteh dari kota. Teteh beruntung banget deh, bisa ketemu bule model begitu. Mana orangnya baik, sopan dan senyumnya..... aduh teh bikin Resti kena diabetes dadakan saking manisnya."


"Idih lebay banget kamu." cibir Rena.


"Ih bener teh, siapa sih namanya ya?." Resti berpikir sejenak mencoba mengingat lagi "Oh ya namanya kak Roby."


Rena terkejut, ternyata benar yang mencarinya adalah Roby. Tapi untuk apa lagi Roby mencarinya?, apa dia tau kalau saat ini Rena tengah hamil anaknya!. Jika dia sudah tau, bagaimana reaksinya?, apakah dia akan menerimanya atau mungkin Roby akan menolaknya dan meminta Rena untuk menggurkannya.

__ADS_1


Jika itu sampai terjadi, Rena bertekad biar bagaimanapun dia akan mempertahankan anak ini. Sekalipun Roby tidak menginginkannya dan tidak akan menikahinya, Rena tidak masalah. Yang penting dia harus tetap mempertahankan anak ini, biar bagaimanapun ini semua adalah kesalahan dirinya dan Roby, anak ini tidak tau apa-apa.


"Teh, teteh... Halo teh." panggil Resti, karena Rena yang tidak menjawab panggilan dari Resti.


"Ah,, iya iya. Kenapa Res?"


"Teteh diem aja sih, aku panggilin juga." ucap Resti sedikit kesal.


"Iya maaf, tadi sinyalnya putus-putus." kilah Rena.


"Jadi gimana?, teteh kenal kan sama kak Roby?"


"Iya, dia itu juga mantan atasan teteh. Beberapa bulan yang lalu dia Resign dan pulang ke Amerika. Tapi kenapa sekarang sudah ada disini lagi?" Rena bingung sendiri.


"Kayanya dia naksir deh sama teteh!, buktinya dia bela-belain sampai dateng kesini cuma mau ketemu sama teteh."


"Ah ngaco kamu, ya udah atuh ya teteh ada kerjaan lain. Besok teteh hubungi kamu lagi, salam ya buat ibu. Jangan lupa sampaikan pesan teteh tadi."


"Iya teh, ntar Resti bilangin ke ibu. Teteh jaga diri disana ya."


"Iya, assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


......................


Di Jakarta


Dia kesana karena memang sudah lama dia tidak datang, sejak Boy memutuskan untuk menghindari bertemu dengan Rena beberapa waktu yang lalu.


"Oh ya tumben lu, inget lagi kesini." cibir Morens.


"Gue banyak kerjaan kemarin-kemarin, ini aja gue baru balik dari kota L."


"Wiss, lancar dong. Kalau gitu cepetlah cari bini, mau tunggu apalagi sih?." goda Morens.


"Lagi usaha."


"Lu gak lagi nungguin Rena kan!" selidik Morens.


"Oh iya, berhubung lu udah ngomong menyangkut Rena. Jadi gue langsung aja lah tanya sama lu."


"Tanya apa?, kayanya serius banget."


"Rena udah resign dari sini?"


"Iya, kok lu tau."


"Gak penting gue tau dari mana, udah berapa lama dia resign dari sini?"


"Sekitar 5 bulan. Ada apa sih?, gue jadi ke to the po Kepo."

__ADS_1


"Alay bahasa lu." cibir Boy yang geli mendengar ucapan Morens.


"Itu bahasa Mora, gue sering denger dia ngomong gitu kalau lagi berdebat sama Chintiya (Ih mommy ke to the po kepo) gitu."


"Oh,,, terus sebelum dia resign, dia udah nikah belum?" tanya Boy lagi.


"Belum, emang sih gue agak sedikit aneh waktu dia resign dadakan." Morens mencoba mengingat kejadian itu.


"Gue kasih tau nih, kemarin selagi gue di kota L. Gue ketemu Rena, dan sekarang dia buka usaha sebuah rumah makan disana." jelas Boy.


"Oh,,, syukur deh kalau dia baik-baik aja. Chintiya nanya terus ke gue, tapi kalau gue suruh orang buat cari dia kan gue juga gak ada urusan sama dia."


"Iya sih emang kondisi fisiknya baik-baik aja, tapi gue tau betul kondisi hatinya itu lagi kacau."


"Loh, emang kenapa dia?"


"Rena itu sekarang lagi Hamil."


"APA!!!!, hamil." teriak Morens tanpa sadar saking terkejutnya.


"Woy, biasa aja kampret. Kaya di hutan aja." omel Boy yang kaget mendengar suara jeritan Morens.


"Hehehe sorry, abisnya gue kaget. Orang dia gak ada nikah gak apa, kok tau-tau hamil." jawab Morens cengengesan.


"Iya, dan sekarang usia kandungannya sudah masuk 7 bulan."


"7 bulan!!, itu berarti sebelum dia resign dia udah hamil dong. Pantes aja waktu itu dia ngeluh lemes terus."


"Gua yakin, kalau anak itu anak Roby."


"Masa sih!"


"Gue udah tanya ke dia siapa ayah dari anak itu, tapi dia gak mau kasih tau gue. Dia cuma bilang kalau ayah dari anak itu sedang berada di luar negeri."


"Tapi bisa juga sih, waktu pesta pernikahan Sera, gue sempet liat Roby narik tangan Rena masuk ke dalam lift yang mengarah ke salah satu kamar hotel disitu."


"Padahal gue cuma mau, kalau emang itu anak Roby dan Roby gak mau mengakui anak itu. Gue siap kok jadi ayah buat anak itu." ungkap Boy tanpa ragu.


"Gue salut sama lu Boy."


Tanpa mereka berdua sadari, dari tadi sepasang telinga mendengar bahkan merekam pembicaraan mereka. Siapa lagi kalau bukan Asgar.


"Roby, i got it." ucap Asgar tersenyum.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Next

__ADS_1


👏👏👏👏👏


__ADS_2