
Sudah lebih dari 1 bulan pasca operasi pengangkatan peluru dan pencangkokan sumsum tulang belakang, Roby masih belum sadarkan diri.
Jenni dengan setia menunggu dan terus merawat Roby, saat dirasa Roby sudah lebih baik, Jenni meminta agar Roby dipindahkan ke rumah sakit yang sama dengan tempatnya bekerja.
Hal itu dilakukan agar Jenni lebih mudah untuk memantau perkembangan Roby namun dirinya masih dapat bekerja. Hari-hari dilalui Jenni dengan bekerja, dan setelah jam kerja usai dia langsung menemani Roby di kamar inapnya.
Selama Roby belum sadar, Jenni tidak pernah pulang kerumah. Dia hanya berpindah ruangan di satu rumah sakit, pagi dia berada di ruangan kerjanya dan setelahnya dia berada di ruang rawat Roby.
Suster yang ditugaskan oleh Roby untuk menjaganya, kini berganti menjadi menjaga Roby saat dia sedang bekerja, lalu dia kembali ke rumah Jenni saat sore hari untuk beristirahat, dan begitu seterusnya.
Sedangkan Gaby, dia masih sering menjenguk Roby beberapa kali. Entah apa yang dia kerjakan sekarang disana!, Jenni tidak tau dan tidak mau tau.
Jenni merasa, Gaby seperti punya tujuan lain dalam membantu Roby. Jadi Jenni berusaha memberi jarak agar Gaby tidak bisa terlalu dekat dengan anaknya, lagi pula Jenni ingat bahwa Roby telah berpesan agar mencari wanita yang bernama Rena di Indonesia.
......................
Sementara di belahan bumi lain.
Semenjak dia berhenti dari RENS CORP, Rena mulai membuka usaha sebuah rumah makan. Walaupun di awal sangat terasa sulit karena tidak adanya dukungan dan support dari siapapun. Dia harus mengurus semuanya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, Rena mulai terbiasa dengan semuanya. Begitu juga anak yang di dalam kandungannya sangat memahami kondisi dan situasi sang ibu.
Semenjak pindah ke kota ini, Rena sudah tidak lagi merasakan mual dan pusing. Dia juga tidak mengalami masa ngidam yang merepotkan, dia sangat bersyukur bisa menjalani itu semua dan melupakan kenangan yang menyisakan luka.
Walaupun terkadang saat malam hari, dia merasa sangat kesepian dan hampa. Dia teringat akan banyaknya perdebatan antara dia dengan Roby, yang membuat mereka semakin dekat. Namun Rena sangat menyayangkan kalau akhirnya akan seperti ini.
Namun dia tetap bersemangat menjalani masa kehamilan walau tanpa adanya seseorang disisinya. Dia tidak menyesali adanya anak yang sedang dia kandung, dia justru merasa bersyukur karena anak ini adalah salah satu kenangan dia bersama Roby.
Hari ini kedai terlihat lebih ramai dari biasanya, karena di daerah sana sedang ada acara pagelaran seni budaya setempat. Sehingga banyak wisatawan lokal maupun mancanegara hadir di sana.
Pelayan di kedai milik Rena, yang hanya berjumlah 4 orang merasa kualahan melayani pelanggan yang seperti tidak ada habisnya. Sehingga mau tidak mau Rena harus turun tangan ikut membantu para pegawainya.
Meskipun mereka sudah melarang Rena untuk membantu, karena mereka merasa tidak tega melihat Rena harus turun tangan dengan kondisi perut yang sudah mulai membuncit di usia kandungan yang sudah memasuki bulan ke Lima. Namun Rena bersikeras ingin membantu, dan dengan terpaksa mereka mengijinkan Rena untuk membantu. Lagi pula mereka tidak bisa memaksa, karena bagaimanapun Rena adalah bos mereka dan mereka harus mengikuti instruksi dari Rena.
"Ibu yakin mau membantu kami?" tanya salah satu pegawai.
"Iya saya yakin."
"Tapi bu."
"Gini aja deh, biar kalian gak khawatir sama aku. Biar aku aja yang menjaga meja kasir, jadi kalian bisa fokus dengan pelanggan. Jangan sampai mereka kecewa, kan jarang-jarang kedai kita kebanjiran pelanggan kaya gini."
__ADS_1
"Siap bu."
Mereka kembali fokus dan Rena pun dengan tenang duduk di meja kasir sambil memperhatikan para pegawainya yang bekerja. Sampai salah satu pelanggan datang untuk membayar makanannya.
"Permisi mbak, berapa total semuanya?" tanya seorang pelanggan yang berjenis kelamin laki-laki itu.
"Jumlahnya 185 ri..."
"Rena."
"Pak Boy."
"Loh kamu kok disini?"
"A...aku udah berhenti dari RENS CORP." Jawab Rena terbata, dia terkejut bertemu Boy disana.
"Kenapa?, apa ada masalah?" tanya Boy penasaran.
"I...Itu." ucapan Rena terhenti karena pelanggan lain yang mulai kesal menunggu antrian yang panjang.
"Ok. Ini uangnya, 185 ribu. Aku tunggu disana, kamu harus jelasin sama aku." ucap Boy sambil berlalu.
Setelah menunggu hampir 2 jam, akhirnya kedai terlihat mulai sepi. Dengan langkah ragu-ragu, Rena berjalan menghampiri Boy yang dengan setia menunggu hanya untuk mendengarkan cerita dan penjelasan dari Rena.
"Pak Boy." Rena berhenti di depan meja yang di tempati Boy.
Boy melihat Rena, dan alangkah terkejutnya dia melihat kearah perut Rena yang sudah terlihat membuncit.
"Eee, duduk Ren." Boy menawarkan Rena duduk, dan Rena duduk berhadapan dengan Boy.
"Sejak kapan kamu berhenti dari tempat Morens?" tanya Boy sudah tidak sabar.
"Sekitar,,,, 3 bulan yang lalu." jawab Rena ragu, dia bingung antara harus jujur atau berbohong.
Pada akhirnya Rena memilih untuk bicara jujur, karena dia pikir, sependai apapun dia menutupi fakta itu pasti kelamaan juga pasti akan terbongkar.
"Pak Boy kenapa bisa ada disini?" tanya Rena memberanikan diri.
"Jangan panggil saya pak, panggil saya Boy. Saya ini bukan atasan kamu."
"Iya pak, eh Boy."
__ADS_1
"Aku lagi ada project pembangunan di daerah sini, dan kebetulan aku denger ada pagelaran seni di dekat sini jadi aku mau ikut nonton. Aku juga penasaran sama kedai yang sangat ramai ini, dan mereka bilang masakan disini sangat enak. Jadi aku penasaran mau ikut coba masakan yang katanya enak ini, eh malah dapat bonus ketemu sama kamu." Boy mencoba mencairkan suasana, karena dia melihat raut wajah tegang Rena.
Rena tersenyum kikuk "Biasa aja kok."
"Jadi ini kedai punya kamu?"
"Iya."
"Alasan kamu apa sampai berhenti bekerja dari RENS CORP?, padahal yang mau kerja disana aja harus susah payah loh, eh kamu malah Resign. Emang kamu ada masalah?"
"Enggak kok, aku emang udah niat dari awal kalau tabunganku udah cukup, aku mau buka usaha kecil-kecilan sendiri."
"Tapi kenapa harus di daerah terpencil kaya gini?, kenapa gak disana aja?" pancing Boy, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari Rena.
"Itu... Itu karena,,,, disini kan belum banyak saingan. Jadi kesempatan mendapatkan banyak pelanggan juga jadi lebih besar. Iya kaya gitu." Rena hampir kehabisan nafas mencari jawaban yang sekiranya masuk akal untuk menjawab pertanyaan Boy.
"Apa kamu lagi hamil?"
Rena mengangguk.
"Udah berapa bulan?"
"Ini sudah jalan ke Lima." jawab Rena dengan menunduk.
"Kalau boleh aku tau, siapa ayahnya?"
"I... Itu."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Up lagi nih, bonus hadiahnya dikeluarin dong.
Biar aku semangat buat update lagi.
Next
👏👏👏👏👏
__ADS_1