Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Tamu tak diundang


__ADS_3

Keesokan harinya


"Pagi kak Leni." sapa Resti yang melihat Leni sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Pagi, udah bangun!!"


"Yah aku kesiangan ini, ada yang bisa aku bantu gak?" tanya Resti yang tidak enak hati.


"Gak usah, nih udah selesai kok. Kamu tunggu di meja makan aja."


"Oh,,, ok deh."


Tak lama kemudian, sarapan telah siap dan mereka makan dengan senang dan tenang. Leni merasa senang karena akhirnya dia ada yang menemani walaupun untuk sementara, sedangkan Resti dia sangat senang dapat melihat suasana baru.


"Oh ya, kamu mau ikut ke resto atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Leni setelah mereka selesai sarapan.


"Hari pertama aku mau liat resto teteh dulu, kalau jalan-jalan masih bisa besok. Aku lumayan lama kok disini."


"Ya udah, lagian juga sekarang hari libur. Biasanya resto pasti ramai karena banyak yang berwisata."


"Wah kebetulan, aku jadi bisa bantu-bantu." ucap Resti semangat sembari mengusap kedua telapak tangannya.


"Yuk kita berangkat."


"Let's go."


Mereka langsung menuju ke resto dengan menggunakan motor matic yang biasa dikendarai oleh Leni.


20 menit kemudian mereka tiba, karena kondisi masih pagi dan belum banyak pengendara lainnya. Jadi mereka bisa tiba disana lebih cepat.


Setelah selesai bersiap-siap dan waktu menunjukkan pukul 10 pagi, resto akhirnya dibuka. Dan benar saja, tak lama kemudian para pengunjung mulai berdatangan.


Ada yang hanya memberi beberapa makanan ringan, ataupun sengaja untuk menikmati makan pagi menjelang siang di tempat itu.


Karena masih baru dan masih belajar, Resti memilih untuk membantu mengantarkan pesanan kepada para pelanggan saja. Padahal Leni sudah menawarkan padanya untuk duduk saja di kursi kasir, tapi dia menolak. Dia takut kalau akan memberikan kesalahan dalam penghitungan harga jual disana yang dapat merugikan resto ataupun pelanggan.


Kebetulan hari ini resto memang sedikit lebih ramai dari hari libur biasanya, hal itu membuat dia sedikit kelelahan. Namun itu tidak mengurangi semangat Resti dalam membantu para pegawai disana.


"Res, udah kamu istirahat dulu. Ini udah siang, kamu belum makan siang." titah Leni yang merasa kasian dan juga tidak enak hati karena sudah membuat adik dari pemilik rumah makan tempatnya bekerja kelelahan.


Resti tersenyum sembari menyeka keringat dengan tissue "Gak papa kak, ntar aja. Itu lagi ramai soalnya, nanti pengunjung pada kecewa karena kelamaan."


"Tapi Res..."

__ADS_1


"Udah gak papa." Resti kembali bangun ke arah satu meja dimana ada seorang pelanggan yang baru saja datang dan belum sempat dilayani.


Sebenarnya Leni tidak mau Resti sampai seperti itu, melihat raut wajah Resti yang pucat, Leni khawatir Resti akan sakit. Padahal disini dia ingin berlibur, tapi malah disibukkan dengan urusan resto.


"Maaf kak, mau pesan apa?" tanya Resti pada seorang pria yang memakai topi dan kacamata hitam duduk membelakangi dirinya sambil fokus pada ponsel di tangannya.


"Pesan es teler, tapi jangan terlalu manis ya. Karena nanti pemanisnya akan datang sendiri." ucap si pria tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel yang dari tadi dia liat.


Resti mengerutkan keningnya, dia sedikit terheran dengan orang ini. Pasalnya pria itu fokus menatap layar ponselnya yang sedari tadi tidak dimainkan dan hanya dalam mode standby.


Resti heran, apa yang sebenarnya pria itu liat sampai dia sama sekali tidak ingin berpaling dari layar ponselnya.


"Ada lagi?" tanya Resti yang dijawab dengan hanya gelengan kepala.


Agar dia tidak bertambah pusing, Resti segera berlalu dari pria itu setelah mencatat pesanan.


Sedangkan si pria tersenyum tipis melihat kepergian Resti, sebenarnya dia memandangi wajah Resti dari pantulan layar ponselnya. Itu sebabnya dia tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


10 menit kemudian, Resti kembali untuk mengantarkan pesanan kepada pria tadi. Posisi pria itu masih sama, dia hanya menunduk menatap layar ponselnya yang sedari tadi gelap.


Resti berdiri di samping si pria untuk meletakkan gelas pesanan pria itu, setelah itu Resti berbalik hendak pergi.


"Tunggu."


Resti berbalik badan "Ada apa kak?, apa ada tambahan?"


"Kan tadi kakak pesen jangan manis."


"Ya tapi saya mau coba dulu." dia meminum es itu sedikit demi sedikit seraya mengamati rasa dari es itu. "Gak manis."


"Tapi kan tadi kakak bilang, jangan manis ya. Katanya pemanis nanti datang sendiri." protes Resti yang mulai kesal dengan sikap pria itu.


"Coba kamu berdiri di depan saya."


"Mau apa?"


"Coba saja kamu berdiri, nanti juga akan tau." jawab si pria masih dengan posisi yang sama.


"Gak jelas." umpat Resti lirih namun masih bisa terdengar oleh pria itu.


"Kamu mengumpat saya!!"


"GR."

__ADS_1


"Ya udah sekarang kamu berdiri di depan saya."


Dengan malas Resti menuruti perintah pria menyebalkan di hadapannya itu, kenapa belakangan ini dia banyak sekali bertemu dengan pria-pria menyebalkan nan egois seperti Jagat dan Boy. "Udah."


Si pria mengangkat wajahnya, kemudian secara perlahan dia membuka topinya dan kemudian terakhir dia membuka kacamatanya. "Nah,,, sekarang baru pas manisnya." ucapnya enteng.


Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja yang membuat kaget seluruh orang yang ada disana, suara itu berasal dari meja yang di gebrak oleh Resti dengan sekuat tenaga.


"Ngapain kamu disini?" tanya Resti tajam.


"Saya mau minum es, siang-siang begini paling pas minum yang seger. Apalagi pemanisnya yang alami dan gak akan pernah luntur." jawabnya tanpa merasa bersalah.


"Kamu pikir ini lucu!!" Resti terlihat menarik nafas dalam-dalam menahan amarahnya.


"Gak ada yang ngelucu kok disini."


"Kamu pikir aku gak tau, kamu sengaja kan!!. Kamu sengaja bikin aku kesal iya, belum puas kamu." bentak Resti.


"Sabar sayang, aku cuma bercanda. Aku emang sengaja nyusul kamu kesini, karena kamu pergi gak bilang-bilang sama aku."


"Bukan urusan kamu."


Mendengar keributan, Leni yang berada di dalam kantor segera bergegas keluar untuk melihat apa yang tengah terjadi.


Dari jauh, dia melihat Resti yang sedang berdebat dengan seorang pria yang berdiri membelakangi posisi dia datang.


Leni menghampiri Resti untuk mengetahui duduk persoalannya.


"Res, ada apa?" tanya Leni seraya mengusap lengan Resti mencoba menenangkan wanita itu.


Resti tidak menjawab pertanyaan dari Leni "Kak, maaf udah bikin keributan disini. Tapi tolong kakak urus orang ini. " tunjuk Resti pria itu.


Leni segera mengalihkan pandangannya pada arah yang dituju oleh Resti. "Kak Boy."


"Kakak kenal sama dia?"


"Iya, dia dulu sering kesini temenin mbak Rena." jujur Leni.


"Apa!!"


......................


...----------------...

__ADS_1


Next


👏👏👏


__ADS_2