Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Kejujuran


__ADS_3

Sore pun tiba, Roby sudah tidak sabar untuk mencapai apartemen. Karena dia sudah sangat penasaran, kenapa Rena tiba-tiba menjadi acuh kembali.


Berkali-kali Roby menelpon, tadi Rena tidak kunjung menjawab. Setelah melewati 1 jam, Roby baru tiba di apartemennya karena memang jam pulang kerja para pegawai, hingga Roby terjebak macet dan membuatnya menjadi bertambah kesal.


Setelah sampai di parkiran, dengan setengah berlari dia memencet tombol lift yang rasanya sangat lama. Begitu tiba di unitnya, Roby langsung menyeruak masuk dan mencari keberadaan Rena.


Dia mencari Rena di kamar tamu, tapi Rena tidak nampak. Kemudian dia berlari menaiki tangga dan menuju ke kamarnya, tapi Rena tetap tidak terlihat, Roby bergegas menuju ke dapur, dan disana tidak ada aktifitas apapun.


Roby sudah sangat khawatir, dia takut Rena akan pergi lagi darinya. Dia berlari ke kamar tamu untuk memeriksa lemari pakaian, dia bisa bernafas lega karena semua masih tersusun dengan rapi.


Tapi dimana Rena, Roby pun terpikir satu tempat yang jarang dia datangi. Yaitu, taman mini yang terletak di bagian belakang apartemen. Roby tersenyum senang, saat melihat Rena dan Kafka sedang bermain bersama.


Roby mendekati Rena dan memeluknya dari belakang, membuat Rena terkejut dan marah padanya.


"Ngapain disini?" tanya Roby sambil memeluk Rena dari belakang.


"Astagfirullah, kamu ngapain sih bikin kaget aja." Rena sedikit membentak.


"Maaf, abis tadi aku cari kamu kemana-mana tapi kamu gak ada "


"Ya udah, sekarang udah ada kan. Kalau gitu lepas." Rena hanya berdiam tanpa memberontak.


"Tunggu, sebentar lagi." Roby mencium pipi Rena.


"ROBY!!" Rena menyentak tangan Roby yang melingkar di perutnya.


Kemudian dia berbalik dan menatap tajam Roby.


"Kamu jangan ambil kesempatan ya, semenjak aku disini kamu selalu seenaknya sama aku. Inget ya!, aku disini cuma jalani hukuman dari kamu dan kita gak ada hubungan apa-apa. Jadi jangan lupa batasan kamu."


Roby terkejut melihat reaksi Rena yang sangat dipenuhi emosi itu. Dia memang merasa sudah bersalah, mengambil kesempatan dengan adanya Rena disini. Tapi itu dia lakukan karena dia menyayangi Rena dan anak mereka.


"Ma- maaf. Kalau aku udah bikin kamu gak nyaman." Roby mundur beberapa langkah untuk melihat raut wajah Rena.


"Kayanya disini harus ada yang diluruskan. Aku emang salah karena udah bohong sama kamu soal aku sama Boy, tapi aku gak tau kenapa aku bisa terima hukuman konyol dari kamu. Secara kita ini gak ada hubungan apa-apa, jadi kenapa pula aku harus ada disini." Rena menjeda ucapannya sesaat.


"Ok, karena aku udah terlanjur menyanggupi permintaan kamu, jadi aku harus menyelesaikan hukuman dari kamu ini selama satu bulan. Tapi aku minta sama kamu, jangan ada kontak fisik apapun."

__ADS_1


"Kenapa?, apa udah gak ada kesempatan buat aku menjalani hidup ini sama kamu. Aku sayang sama kamu Ren, sama anak kita. Apa kamu masih marah soal waktu itu, aku tau aku salah dan terkesan mempermainkan kamu." Roby membuang nafas kasar. "Tapi jujur, itu bukan kemauan aku. Aku udah pernah bilang kan kalau aku terpaksa."


"Apa.sekarang udah selesai semuanya?" tanya Rena menyelidik.


"Udah, aku udah selesaikan masalah itu."


"Jadi, bisakan sekarang kamu cerita ke aku masalah kamu."


"Maaf, tapi aku belum bisa cerita ke kamu." Roby menundukkan wajahnya.


"Kenapa?"


"A,,, aku takut kamu ninggalin aku lagi." jawab Roby lirih.


"Dengan kamu seperti ini, ini bikin aku tambah yakin buat gak balik sama kamu. Karena kamu masih menyimpan suatu rahasia yang aku gak tau apa itu. Kamu tuh penuh misteri Rob!" Rena menggeleng pelan.


"Enggak, please jangan pergi. Aku gak bohong sama kamu." Roby memegang kedua bahu Rena.


"Aku tau kamu gak bohong, tapi kamu gak bisa terbuka sama aku. Kalau pun aku balik sama kamu, aku gak yakin sanggup bertahan dengan segala kemungkinan yang akan terjadi."


"Please kasih aku waktu untuk siapin diri buat cerita soal masa lalu aku ke kamu."


Rena mendesak Roby agar dia mau bercerita tentang masa lalunya, biarlah Rena dinilai egois karena tidak bisa mengerti tentang kondisi Roby. Karena jika tidak seperti itu, Roby akan terus dihantui oleh rasa takut akan masa lalunya. Rena tidak mau masalah itu berlanjut-lanjut.


Rena hanya ingin membebaskan Roby dari bayang-bayang masa lalunya dan berdamai dengan keadaan.


Roby terdiam mendengarkan apa yang dikatakan Rena, dia berpikir semua itu memang ada benarnya. Mau sampai kapan dia bersembunyi dan menutupi masalah ini dari Rena. Toh, kalau bukan sekarang ya suatu saat Roby harus mengatakan yang sebenarnya pada Rena, jika Roby ingin mendapatkan kepercayaan dari penakluk hatinya itu.


Roby menarik nafas panjang seraya mengumpulkan keberanian untuk bicara semua. "Ok, aku akan ceritakan semuanya ke kamu. Tapi aku minta sama kamu, setelah kamu dengar ini, kamu gak akan tinggalin aku lagi. Aku gak mau pisah dari kamu dan Kafka."


"Kita liat ntar, yang penting sekarang adalah, gak ada lagi hal yang kamu sembunyiin dari aku."


Roby mendesah pasrah "Ya udah, kita kedalam dulu. Ini udah malam, anginnya gak bagus buat kamu dan Kafka." Roby ingin menggenggam tangan Rena dan menuntunnya ke dalam, tapi Rena sudah lebih dulu menolak.


"ET, inget. Gak ada kontak fisik." Rena melenggang masuk terlebih dahulu meninggalkan Roby di belakang.


"Iya." jawab Roby pasrah.

__ADS_1


Kini mereka duduk di ruang keluarga dengan saling berhadapan.


"Kafka udah tidur kan!" tanya Roby yang melihat Kafka tertidur di gendongan Rena.


"Iya."


"Sini biar aku bawa dia ke kamar."


"Gak usah."


"Please Ren, dia juga anak aku. Aku cuma mau kasih dia perhatian dan aku gak mau kamu kecapean gendong dia terus menerus." Roby mengangkat Kafka dan membawanya ke kamar tamu.


Roby menidurkan Kafka dengan sangat perlahan, setelah itu, Roby mencium pipi Kafka yang merah dan sedikit berisi. Dia tersenyum seraya mengamati wajah Kafka perpaduan antara Rena dan dirinya.


Roby tidak pernah menyangka bahwa dia sudah mempunyai seorang anak yang sangat tampan dari wanita yang sangat dia sayangi. Dia masih merasa ini semua bagai mimpi.


"Nak, bantu daddy buat meluluhkan hati mommy. Daddy sangat menyayangi kalian, daddy gak mau pisah dengan kalian." Roby tersenyum mengingat dirinya bicara dengan bayi berusia 6 bulan.


Setelah puas dengan Kafka, Roby keluar dan kembali ke tempat dimana Rena tengah menunggu dirinya untuk bicara.


"Udah siap cerita?" tanya Rena begitu Roby meletakkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Rena. Dia sudah sangat tidak sabar mengetahui semuanya.


Roby mendengus "Huh, kamu gak sabar banget sih. Aku baru aja nempel."


"Udah deh gak usah drama."


"CK, nyebelin." Roby berdecak kesal.


Roby pun mulai menceritakan semua tentang masa lalu keluarga nya, dan bagaimana dia bisa bertemu Gaby, dia juga mulai bercerita hubungan apa yang terjadi antara dia dan Gaby. Tapi sebelum bercerita secara detailnya kepada Rena, Roby menarik nafas dalam-dalam untuk menyiapkan diri menunggu reaksi Rena akan penjelasan keterikatan Roby dan Gaby.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Next

__ADS_1


👏👏👏👏👏


__ADS_2