
Rena, Resti dan Chintiya masih betah berada di mall itu. Mereka masih saling melepaskan rindu karena mereka sekarang makin sulit bertemu, itu akibat status mereka yang sudah tidak gadis lagi dan sudah mempunyai tanggung jawab pada keluarga mereka masing-masing.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, namun para mahmud itu masih asik dengan kegiatan berghibah ria. Apalagi topiknya, kalau bukan para suami mereka.
Mereka tidak ingat bahwa diantara mereka ada seorang gadis jomblo yang sudah bosan mendengarkan obrolan gaib antara Nyi pelet dan Nyi santet yang ada dihadapannya.
Mereka bahkan tidak begitu memperhatikan anak-anak mereka yang asik bermain dengan pengasuh Mora yang diajak oleh Chintiya.
Resti sudah sangat tidak tahan lagi, perutnya yang sudah mulai berorasi di depan gedung DPR (Darurat Perut Ringkih) memaksanya untuk menuju tempat penampungan makanan.
Resti berjalan seorang diri menuju ke sebuah kafe, dia tidak perduli pada 2 makhluk abstrak yang masih heboh dengan obrolan absurd mereka.
Setelah menemukan kafe yang dirasa cocok, Resti langsung masuk kedalam. 30 menit kemudian, Resti selesai dengan santap siangnya.
Begitu Resti ingin pergi dari kafe itu, dia melihat seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang berdebat dengan salah satu pelayan di kafe tadi.
Resti mendekati mereka, dia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi hingga memicu keributan seperti ini.
"Maaf, ini ada apa ya?" tanya Resti pada kedua orang yang sedang berdebat itu.
"Begini mbak, ibu ini tidak mau bayar setelah makan." jawab pelayan kafe.
"Jangan asal ngomong kamu ya, saya sudah bilang saya akan bayar. Saya sudah menelpon keluarga saya untuk datang dan membayar makanan saya." ucap wanita paruh baya itu dengan nada meninggi karena tidak terima di katakan tidak mau membayar makanannya.
"Memang berapa total makanan ibu ini?, biar saya yang bayar saja." Resti bertanya dengan si pelayan itu.
"Gak usah nak, tadi saya buru-buru, jadinya lupa gak bawa dompet."
"Begini aja, biar saya yang bayar dulu, ntar kalau keluarga ibu sudah datang bisa ganti ke saya. Yang penting sekarang urusan selesai dulu dan tidak jadi tontonan orang banyak." ucap Resti menengahi.
"Boleh juga. Maaf ya merepotkan kamu."
"Gak papa bu, aku jadi ingat sama ibu saya di kampung. " Resti memberikan sejumlah uang kepada pelayan kafe tadi sebesar tagihan makan siang ibu tadi.
"Makasih ya."
"Sama-sama bu."
Mereka duduk di salah satu kursi di kafe tersebut untuk menunggu salah satu keluarga dari wanita tua itu. Mereka duduk sambil mengobrol dan bersenda gurau.
"Oh jadi namamu Resti." ucap wanita paruh baya itu. "Kenalin saya Sandra, panggil saja tante Sandra."
Resti mengangguk.
"Kamu tinggal dimana sayang?"
"Saya disini cuma liburan, dan saat ini saya menginap di tempat kakak saya di apartemen xxx."
"Oh, jadi kamu cuma liburan. Kalau boleh tau kamu kerja atau kuliah gitu!, trus kamu tinggal dimana? "
__ADS_1
"Saya tinggal di kota S, dan saya baru lulus SMA tan, rencananya saya mau kuliah sambil kerja." jawab Resti sambil tersenyum.
"Kenapa gak kerja dan kuliah disini aja?" tawar Sandra.
"Ibu tinggal sendiri di kampung, kalau aku disini siapa yang jaga ibu disana?"
"Oh kamu memang anak yang baik."
Terdengar suara dering ponsel miliknya Resti dan tertera nama Rena.
"Sebentar ya tante, saya jawab telpon dulu." pamit Resti menjauh untuk bicara dengan kakaknya.
"Hallo teh."
"......"
"Aku abis makan, kalau nunggu kalian sampai lebaran monyet tahun depan juga belum kelar tuh kongkonya."
"....."
"Iya, nih aku udah selesai kok."
"......"
"Iya."
Saat Resti tengah asik menelpon, datanglah seorang pemuda tampan dengan memakai celana levis panjang dipadukan dengan kemeja berwarna putih polos dan sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Tante gak papa, untung tadi ada seorang gadis yang bantu tante. Dia yang bayarin makan tante tadi."
"Tante kok sampai gak bisa bayar sih?"
"Dompet tante ketinggalan. Oh ya kamu ada uang cash gak 500 ribu, emang sih gadis itu gak mau dibalikin uangnya. Tapi tadi dia cerita kalau dia itu kuliah sambil kerja, jadi pasti butuh banyak biaya."
"Aku gak ada Cash sebanyak itu tan, minta nomer rekeningnya aja ntar aku transfer."
"Oh ya udah."
"Trus mana dia orangnya?" tanya Boy yang sedari tadi tidak melihat keberadaan gadis yang diceritakan tante nya itu.
"Itu lagi terima telpon." jawab Sandra menunjuk seorang gadis yang berdiri membelakangi mereka.
"Bentar ya tan, aku ada telepon. Kayaknya dari klien aku deh." Boy menjawab panggilan telepon itu dengan membelakangi Sandra.
Resti kembali menghampiri Sandra yang terlihat berdiri dengan seorang pemuda yang tengah berbicara di telepon.
"Maaf tante, aku harus pergi. Kakak aku udah tunggu aku di loby." ucap Resti takut enak hati melihat raut wajah kecewa Sandra.
"Yah, kok udah pergi aja sih. Trus gimana aku bayar uang kamu, ponakan tante gak bawa uang Cash. Gimana kalau transfer aja ya."
__ADS_1
"Maaf tante, aku gak ada nomor rekening pribadi. Aku cuma punya nomer rekening khusus untuk biaya pendidikan. "
"Trus gimana dong uang kamu?"
"Udah gak usah di ganti, aku ikhlas kok. Anggep aja aku lagi traktir tante sebagai salam perkenalan. "
"Kamu udah cantik, sopan baik lagi. Terima kasih ya."
"Sama-sama tante. Kalau gitu saya pamit dulu ya." Resti siap beranjak pergi.
"Tunggu sayang." Sandra menahan tangan Resti.
"Iya, kenapa tan?"
"Saya bisa minta nomor ponsel kamu gak?, nanti kalau saya main ke kota S bisa telpon kamu dan kita ketemuan. Kebetulan saya sama keponakan saya ada project disana."
"Oh boleh kok. "
"Kamu berapa lama.di Jakarta? " tanya Sandra lagi.
"Mungkin seminggu atau lebih."
"Kalau begitu saya mau kamu temani saya belanja besok, sekalian kamu jalan-jalan kan."
Resti mengernyitkan keningnya serasa heran dengan antusiasme Sandra.
"Saya gak punya anak perempuan, anak saya cuma satu laki-laki dan dia udah nikah sekarang tinggal di Prancis. Jadi saya suka kesepian disini." jawab Sandra yang mengerti arti tatapan dari Resti.
Setelah saling bertukar nomer ponsel, Resti segera pergi. Karena Rena sudah menelpon kembali.
"Gadis baik." gumam Sandra sambil tersenyum memandang kepergian Resti.
Begitu Resti pergi, Boy mengakhiri percakapannya di telpon.
"Udah telponnya? " tanya Sandra ketus. Boy mengangguk "Ya udah ayok pulang. "
"Loh gadis itu gimana?"
"Dia udah pergi."
"Trus gimana masalahnya?, udah selesai! "
"Gak tau ah, kamu kelamaan sih." Sandra berjalan terlebih dahulu meninggalkan Boy.
"Loh kok jadi gue sih yang salah." gumam Boy bingung.
......................
......................
__ADS_1
Next
👏👏👏👏👏