Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Rencana Liburan


__ADS_3

Sebulan kemudian


Setelah memastikan bahwa keadaan Morens Benar-benar sudah membaik, Roby segera merencanakan untuk kepergiannya berbulan madu.


Roby sudah megatakan kepada Morens dan meminta izin untuk cuti selama satu Minggu ini, dan untuk sementara Asgar akan menggantikan tugasnya terlebih dahulu.


Morens bahkan memberikan tiket pesawat pulang pergi sebagai kompensasi selama satu bulan ini Roby yang menggantikan dirinya di perusahaan, selama dia masih belum pulih.


"Dad, apa harus bulan madu?" tanya Rena ragu, sial dia tidak bisa meninggalkan Kafka selama berhari-hari.


"Harus dong!, kan selama nikah kita belum bulan madu kan." Roby menarik Rena agar duduk di sampingnya.


Saat ini mereka berdua tengah duduk di ranjang dan bersiap-siap untuk tidur, rencananya lusa mereka akan terbang ke Bali untuk berbulan madu.


Sebenarnya Roby menawarkan untuk pergi ke luar negri, namun Rena menolak dengan alasan terlalu jauh. Rena berpikir bila terjadi sesuatu dengan keluarganya disini, mereka pasti akan memakan waktu lama untuk kembali ke tanah air.


Jadi Rena meminta agar pergi ke Bali saja, disana juga tidak kalah bagus, bahkan lebih indah dari tempat wisata luar negri lainnya. Akhirnya Roby menuruti keinginan Rena, yang terpenting Rena mau diajak berbulan madu.


Sebab sedari menikah, Roby belum pernah mengajak Rena kemanapun. Bahkan pernikahan saja digelar secara kekeluargaan, karena semua terhalang oleh masalah yang belum selesai saat itu.


Dan begitu masalah mereka selesai, barulah Roby bisa bernafas dengan lega dan tenang bila membawa Rena pergi.


"Tapi aku kepikiran sama Kafka dad!" Rena bersandar di bahu Roby.


Roby memeluk pinggang Rena sambil menciumi rambutnya "Kan ada mommy Jennie yang jaga Kafka."


"Tapi mom Jen udah tua, aku takut dia kewalahan jagain Kafka. Kamu tau sendiri dia lagi aktif-akrifnya, mondar-mandir kaya setrikaan belum panas, muter-muter kaya komedi putar. Aku khawatir mom kecapekan kalau harus jaga Kafka sendirian." Tutur Rena, sejenak Roby berpikir. Karena apa yang dikatakan oleh Rena memang ada benarnya.


"Em,,, gimana kalau kita ajak mom Jen sama Kafka ke rumah ibu. Aku yakin mom pasti mau, apalagi disana juga ada Resti yang bisa bantu mom sama ibu."


"Boleh juga sih, kebetulan kita udah lama kan gak kesana. Aku kangen sama ibu dan Resti."


"Ya udah besok kita kesana antar mom dan Kafka sekalian pamitan."Roby menggesekkan hidungnya ke pipi Rena.


"Ok, ya udah tidur yuk." ajak Rena yang merebahkan diri dan mulai menarik selimut.


Roby menahan selimut yang ditarik Rena "Eits, siapa yang bilang kita mau tidur."


"Lah terus mau apalagi!, mau ronda. Kamu aja ah sana, mending aku bobok manis. Siapa tau ntar aku mimpiin Hrithik Roshan, trus aku muter-muter di bawah pohon sambil nyanyi KIYE KARUNG BAE, KUCEK KUCEK KUTANGE." ucap Rena sambil tersenyum tidak jelas dan menatap kosong seraya membayangkan adegan main petak umpet ala film asal inspektur Ladusing.


Gemas melihat tingkah laku istrinya, Roby menggigit kecil telinga Rena."Aww... Kamu ngapain sih dad, ganggu aku lagi nostalgila aja."


"Iya, lama-lama gila beneran kamu. Dari pada ngelamun gak jelas, mending temenin aku nangkep ular yuk."

__ADS_1


"Hah!, kamu ngajakin aku nangkep uler. Gak salah kamu, mana aku bisa." Tolak Rena sambil bergidik ngeri.


Roby menyeringai sambil berbisik lirih "Tapi uler yang ini, cuma kamu yang bisa nangkep trus ditenangin."


"Hah!!" Rena menjauhkan wajahnya dari wajah Roby yang menunduk.


"Nih ulernya." Roby meletakan tangan Rena di celana bagian depannya yang sudah nampak menggeliat.


"Ahh!!, uler kadut. Mana gerak-gerak lagi, ih serem."


"Serem tapi kamu suka kan!!" goda Roby seraya menaik turunkan alisnya.


"Heh!!!,,,,, gak nolak."


Pagi pun datang, Roby mencari keberadaan istrinya yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya. Roby tersenyum sumringah saat mengingat betapa agresifnya istrinya semalam, karena banyaknya masalah belakangan ini, membuat mereka berdua tidak ada waktu untuk menghabiskan waktu berdua.


Dan semalam, setelah hampir satu bulan mereka tidak menyatu, mereka menghabiskan malam tadi dengan saling menghangatkan dan mencurahkan kerinduan juga has*at yang terpaksa mereka redam.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, Roby keluar kamar dan menuju ke dapur. Dimana dari sana sudah tercium aroma masakan yang dia yakin dibuat oleh istri tercintanya.


Saat melewati ruang tamu, dia melihat Jennie yang tengah bermain dengan Kafka yang sedang terlihat merangkak mondar-mandir diatas sebuah karpet bulu khusus untuk Kafka bermain.


"Pagi mom." Roby mencium pipi Jennie yang duduk di sofa sambil memperhatikan Kafka yang bermain.


Roby beralih menghampiri Kafka yang juga nampak merangkak ke arah Roby saat melihat dia datang. "Hai my Boy." Roby menggendong Kafka dan menciumi wajah Kafka secara menyeluruh, hingga menimbulkan gelak tawa dari Kafka karena merasakan geli akibat perbuatan Roby.


Jennie yang melihat hal itu, ikut tersenyum bahagia. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, masalah itu selesai juga. Kini mereka dapat hidup dengan aman dan tentram, tak ada lagi ketakutan akan ancaman bagi keluarganya.


"Mom, rencananya Roby akan membawa mommy ke rumah ibu Lastri di daerah S hari ini." ucap Roby seraya mendudukan dirinya di samping Jennie sambil menggendong Kafka.


"Kenapa mendadak banget?"


"Sorry mom, karena Rena terus khawatir kalau harus meninggalkan Kafka dengan mom sendiri."


"Kenapa begitu?, Rena khawatir mom gak bisa jaga Kafka!!"


"Gak gitu mom, Rena khawatir mom kecapekan. Karena Kafka itu kan lagi aktif-akrifnya, Rena takut mom kewalahan kalau urus Kafka sendiri dan gak ada yang menggantikan.


Jadi semalam Roby mengusulkan kalau selam seminggu ini mom sama Kafka akan tinggal disana dulu, Roby juga yakin ibu Lastri pasti bakal senang ketemu sama mommy. Apalagi disana juga ada Resti adiknya Rena yang bisa bantu-bantu mom dan ibu.


Gimana mom?, apa mom setuju?. Karena kalau gak kaya gini, Rena gak mau pergi bulan madu karena mikirin kalian berdua." jelas Roby panjang lebar hati-hati agar Jennie tidak tersinggung.


Jennie tersenyum dan mengusap pipi Roby, dia bersyukur karena mempunyai menantu yang begitu memikirkan kondisinya. Jennie bersyukur karena ternyata Roby tidak salah pilih pendamping hidup.

__ADS_1


"Mom mau kok!, kamu gak usah takut. Mom juga udah lama banget mau ketemu besan, apalagi disana daerah pedesaan, pasti udaranya masih sejuk gak kaya disini."


"Jadi mom setuju kalau kita kesana!" Jennie mengangguk.


Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah yang berasal dari dapur.


"Dad kamu udah bangun!" Rena duduk disamping Roby dan mengambil Kafka dari pangkuan Roby.


"Iya." Roby mencium bibir Rena lama.


"Hei crazy boy!, mom still here." omel Jennie yang kesal melihat Roby seenaknya mencium Rena di depannya, walaupun sebenarnya hanya bercanda.


"Hahahaha, sorry. Kalau begitu besok Roby akan minta uncle Louise kesini agar bisa mencium mom sepuasnya."ledek Roby.


"Dasar anak durhaka, mom kutuk jadi wajan gosong kamu. Biar kaya si Maling Kutang."


"Siapa pula itu Maling Kutang?"


"Udah ah, kamu gak boleh gitu sama mommy."sela Rena.


" Tau tuh!, tau gitu mah mom masukin lagi dia ke perut." timpal Jennie cemberut.


Baru saja Roby hendak membalas ucapan Jennie, Rena terlebih dahulu menengahi perdebatan unfaedah tersebut "Udah yuk ah sarapan dulu, aku laper nih."


"Sama aku juga, tenagaku abis karena kamu sedot semalaman." ucap Roby sambil melangkahkan kakinya ke arah meja makan.


"ROBY!!!!" teriak Rena dan Jennie bersamaan.


...----------------...


......................


Ada yang kangen othor gak?,


gak ada ya. Duh kasian deh kamu Thor, padahal aku tuh abis semedi di gunung Papa Mamah loh.


Ya udah lah, yang penting like, komen, hadiah dan vote aja.


Apalah othor yang bagaikan kerikil di tengah alas sendal jepit, keinjek-injek gak keliatan.


Next


👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2