Penakluk Sang Asisten

Penakluk Sang Asisten
Kesempatan


__ADS_3

Sudah satu bulan lamanya Roby berada disana, dan selama itu pula hubungan antara Rena dan Roby semakin membaik. Tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka.


Rena berpikir, biarpu nanti mereka tidak bisa bersama. Tapi mereka masih bisa merawat dan memberikan anak ini masih sayang. Sebab itulah Rena membiarkan Roby bersama dan menemaninya untuk saat ini.


Namun lain hal dengan Roby, dia sangat bahagia karena kini dia bisa dekat lagi dengan Rena. Roby juga semakin percaya bahwa dia masih memiliki kesempatan untuk bisa bersama dengan Rena. Walaupun terkadang perasaan minder menghampiri dirinya dan menyadarkannya atas statusnya saat ini yang hanyalah ayah biologis dari anak yang Rena kandung.


Siang ini Kedai sangat ramai, karena Minggu ini adalah saatnya anak-anak libur dari kegiatan belajar-mengajar. Sehingga banyak dari mereka yang mengunjungi tempat wisata air terjun yang letaknya tidak jauh dari kedai milik Rena.


Pegawai Rena yang terdiri dari 5 orang, sampai kewalahan melayani banyaknya pelanggan yang datang untuk mengisi perut mereka yang kelaparan karena asyiknya berlibur.


Roby sampai harus ikut turun tangan membantu melayani pelanggan, dan alangkah senangnya para pelanggan yang melihat salah satu pegawai yang mengantarkan makanan adalah seorang pria tampan berwajah bule khas pria Eropa.


Bahkan banyak dari mereka yang meminta berfoto bersama Roby, dan itu mayoritas adalah para ibu-ibu energik yang tidak mau ketinggalan oleh para remaja dan ABEGE. Rena yang melihat itu dari meja kasir, hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah berjibaku dengan banyaknya pelanggan, akhirnya mereka bisa bersantai melepas lelah, saat jam makan siang sudah terlewat dan hanya menyisakan beberapa orang pelanggan saja.


Rena menghampiri Roby yang terlihat duduk bersandar sambil memejamkan mata di salah satu kursi pelanggan.


"Uh kasiannya, capek banget ya. Ya udah kamu istirahat di ruangan aku aja ya." tawar Rena yang melihat Roby sangat kelelahan.


"Iya."


Merekapun berjalan menuju ke ruangan Rena, sebelum Itu Rena meminta kepada salah satu pegawainya untuk membawakan 2 porsi Soto khas dari daerah sana dan 2 buah es kelapa muda kedalam ruangannya.


"Kayanya aku kepikiran bakal memperkejakan kamu jadi pegawai aku deh, biar kedai aku viral dengan caption (Kedai makan berpegawai bule tampan) gitu deh." ejek Rena.


"Aduh ampun deh, baru kali ini aku tau bagaimana rasanya jadi pelayan restoran yang setiap harinya ramai pembeli." keluh Roby sambil menjatuhkan dirinya di sofa.


Rena duduk di sofa single di hadapan Roby.


"Ah Cemen, baru gitu aja udah ngeluh." ejek Rena.


"Aku mending suruh hajar preman 5 orang sekaligus, daripada harus setiap hari kaya gini." ucap Roby tanpa sadar menyebut aktifitasnya.


"Eh?" Rena memicingkan matanya mencoba memahami ucapan Roby.


Roby yang tersadar akan perkataannya langsung terduduk tegap.


"Em, emang sering ya pelanggan kaya gitu ramainya!" tanya Roby mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ya gak setiap hari juga sih, cuma ya emang sering. Karena disini kan dekat sama tempat wisata, jadinya paling gak sebulan beberapa kali pasti kaya gini."


"Pinter ya kamu cari lokasi disini."


puji Roby.


"Ya dong, kamu aja gak sangka kan kalau aku bakal dapet lokasi strategis kaya gini."


"Ya, sampai aku kesusahan cari-cari keberadaan kamu kemarin." sindir Roby.


"Emm,,, itu..."


Di tengah kegugupan Rena, terdengar suara ketukan pintu dari pegawai yang mengantarkan makan siang mereka.


"Tuh kamu makan dulu." ucap Rena yang merasa terselamatkan atas kegugupan yang dirasa.


"Iya aku juga makan kok."


Baru saja Rena ingin menyuap makanan ke mulutnya, ponsel Rena berdering dengan nyaring. Diambilnya ponsel itu dari tasnya dan nampak nama Boy disana. Rena bingung ingin menjawab panggilan dari Boy, dia merasa tidak enak pada Roby karena takut Roby salah paham dan sakit hati.


Tapi jika Rena tidak menjawab panggilan itu, dia merasa bersalah pada Boy karena telah mengabaikan dirinya. Itu juga bisa membuat Roby curiga karena tidak menjawab panggilan itu. Akhirnya Rena menjawab panggilan Boy dengan kikuk.


"......"


"Iya aku baik-baik aja, Kamu gimana disana?"


"......"


"Alhamdulillah."


"......"


"2 Minggu!!, apa kerjaan kamu disana udah selesai?. Kalau kamu masih banyak tugas, aku gak papa kok. Aku udah minta Lenni tinggal sama aku, buat temenin aku." jawab Rena sambil melirik Roby yang ternyata juga sedang menatapnya.


"......"


"Ya udah terserah kamu, kamu hati-hati ya. Aku mau makan siang dulu."


"......"

__ADS_1


"Iya baru sempet, tadi kedai ramai banget jadi aku bantu mereka dulu."


"......"


"Iya, aku pasti jaga kesehatan. Ya udah ya bye." Rena memutuskan sambil menatap Roby.


POV ROBY


Hari ini aku seneng banget bisa membantu Rena di kedainya, aku juga merasa bahwa kami semakin hari semakin dekat. Aku yakin bahwa kesempatan buat aku masih terbuka lebar.


Aku tambah senang saat Rena begitu perhatian saat melihatku begitu kelelahan melayani banyaknya pelanggan. Dia mengajakku ke dalam ruangannya, agar aku bisa melepaskan lelah dengan tenang.


Kami pun akan memulai makan siang kami yang terlewat tadi, tapi. Begitu Ingin memulai makan, aku mendengar dering ponsel Rena berbunyi.


Hatiku mulai tak nyaman saat tau bahwa suaminya yang menghubungi Rena, aku mendengar pembicaraan mereka yang dapat aku lihat bahwa suaminya sangat perhatian dan sayang padanya.


Aku pun tiba-tiba merasa Insecsure melihat itu, apakah aku masih bisa bersama dengan Rena lagi. Entahlah.


POV RENA


Aku tidak menyangka, setelah beberapa waktu terlewati. Aku baru merasakan sisi lembut dan penyayang dari Roby.


Sikap yang sangat jarang aku dapati saat dulu kami masih sering bersama, tapi kini setelah keadaannya mulai rumit, Roby menunjukan sisi lain yang membuat aku sangat nyaman berada di dekatnya. Tapi, kenapa baru sekarang. Disaat semuanya telah berubah menjadi campur aduk, tapi biarlah yang penting saat ini adalah aku dan anak yang ada di dalam kandunganmu bisa merasakan kasih sayang dari orang yang sangat kami rindukan.


Hari ini aku melihat lagi, bahwa Roby benar-benar berbeda. Dia membantu para pegawaiku, hingga dia harus rela menerima cubitan dan cumbu rayu dari para ibu-ibu energik yang tak sadar usia.


Karena kasian, aku mengajaknya untuk beristirahat dan makan siang bersama di ruanganku, namun disaat kami hendak memulai sesi makan. Ponselku berdering dan itu ternyata dari Boy.


Aku mendadak dilemma, disatu sisi aku tidak enak dengan Roby bila harus berbicara dengan Boy di depannya, yang dia tau adalah suamiku. Namun aku juga tidak bisa mengabaikan panggilan dari Boy, orang yang selama ini begitu perhatian padaku disaat Roby tidak bersama denganku.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Next


👏👏👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2