PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Orang yang sama


__ADS_3

"Thanks ya Ar, tar siang nggak usah jemput ya, soalnya gue mau mampir ke rumah teman dulu." ujar Zeela seraya menyerahkan helmnya ketangan Arjuna.


"Mau kemana Lo, lagi nggak nyoba buat kabur kan, Lo harus ingat malam ini Lo punya janji buat ngomongin soal_"


"Iya bawel, gue ingat kok! pergi sana." usirnya dengan nada ketus.


"CK, berani banget ngusir calon suami."


"Dih, bisa nggak sih nggak usah kencang-kencang ngomongnya." protes Zeela seraya membekap mulut Arjuna menggunakan telapak tangannya.


"CK, malah senyum-senyum lagi." gerutu zeela, begitu tangannya terlepas dari mulut pemuda tersebut.


"Tangan Lo wangi."


"Hah?" Zeela melongo ditempatnya hingga tanpa ia sadari jika motor yang ditumpangi Arjuna kini sudah hilang dari pandangannya.


"Cowok ngeselin, nggak kebayang kalau dia yang jadi suami gue." gumamnya, lalu bergegas melewati gerbang sekolah melangkah menuju ke kelasnya.


"Zee, tung-guin hah..hah.."


"Mora, apaan sih Lo abis dikejar-kejar siapa sampai ngos-ngosan begitu?" tanya Zeela, saat melihat sahabatnya Amora yang menunduk dengan napas tersengal-sengal.


"Sial, cape banget gue!" keluhnya.


"Yaudah duduk dulu gih, masih ada waktu sepuluh menit lagi sebelum bel masuk." Zeela menarik tangan Amora untuk duduk di salah satu bangku yang berada didepan kelas.


"Zee, beneran nggak sih kalau tadi lo dianterin anak SMA Prasasti Putih? oh bukan cuma tadi, tapi dari kemarin-kemarin."


"CK, tahu dari mana?"


"Anak-anak yang bilang."


"Kok bisa tahu kalau dia anak sekolah sebelah?"


"Si Valen yang bilang, dia juga kenal banget sama motornya."


"Valen?"


"Iya."


"Woy, pagi-pagi udah ngomongin gue aja." ucap pemuda bernama lengkap Valentino Arka Nugraha, yang kini merangkul keduanya dari arah belakang.


"Ish, kaget bego!" Amora memukul pundak Valen, membuat pemuda itu meringis, dan memilih untuk ikut bergabung duduk di kursi samping Zeela.


"Euhmm, Val Lo seriusan kenal sama cowok yang beberapa hari ini nganterin gue?" tutur Zeela yang kini menghadap kearah Valen.


"Iya, gue kenal! dia si Arjuna, orang yang sama yang waktu itu udah bikin gue masuk rumah sakit."


Deg!


"Kenapa lo baru ngomong sekarang?"


Valen berdeham, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Sebenarnya sih udah mau ngomongin ini dari pertama kali dia datang, tapi mau nanya ke elo juga gue kek ragu gitu, jadi ya gue cari tahu dulu sendiri dan ternyata benar, dia Arjuna yang sama."


"Eh Zee, kok bisa sih Lo kenal dia, pakai dianter jemput segala lagi, Lo ada hubungan khusus sama dia?"

__ADS_1


Zee gelagapan, "Umm, s-sebenarnya sih dia anak temannya bokap gue, dan gue juga baru tahu kemarin itu, karena selama ini dia nggak pernah ikut saat ada acara."


Valen tampak men desah, "Kenapa harus dia sih, emang dunia sesempit itu apa?"


"Ya mana gue tahu Val, kalau bisa milih juga gue mana mau."


"Pantes waktu malam itu Lo sempat chat gue buat nanyain si Arjuna itu, CK ternyata_"


"Waktu itu gue kan belum tahu kalau dia orang yang sama."


"Terus dengan Lo diantar jemput dia hubungannya apa, emang sopir Lo kemana."


Zeela menunduk dengan helaan napas pelan, "Panjang ceritanya Val, jadi intinya gue itu dititipin bokap gue sama bokap nyokap nya si Arjuna karena nyokap gue lagi berobat kesingapura."


"Nyokap Lo sakit apa Zee?" Amora kembali bicara.


"Nyokap gue sakit lumayan parah, makanya milih berobat disana."


"Yaampun Zee, gue turut prihatin, Lo yang sabar ya, semoga tante Arin cepat sembuh dan cepat balik kesini ya."


"Aamiin, Mor! thanks ya."


"Iya Zee." Amora merangkul tubuh Zeela dari samping, sementara Valen, memilih diam dengan wajah menunduk, sebagai seorang sahabat ia tentu ikut merasakan kesedihan yang tengah dirasakan Zeela.


*


Teng..teng..teng..


Bel sekolah berbunyi, menandakan waktunya pulang, Zeela dan Amora bergegas mengemas buku-bukunya kedalam tas lalu melangkah beriringan setelah kelas mulai sepi.


"Tahu tuh, modus pasti!" timpal Amora.


"Barengan, siapa tahu diluar tiba-tiba ada yang nyulik Lo berdua kan?"


"Mana ada, yang ada elo tuh penculiknya." Amora menoyor sisi kepala Valen.


"Anjir! sadis banget sih Lo jadi cewek."


"Salah sendiri kebanyakan modus."


"Elahhh Mor, modus apaan? orang niat gue baik kok, Lo nya aja yang terlalu suudzon sama gue."


"Elo tuh_"


"Aduh, Lo berdua ini kerjaan nya ribut mulu deh, gue doain berjodoh tahu rasa." ucap Zeela menatap keduanya secara bergantian.


"Iyuuuhhh..gue berjodoh sama dia." Amora mengarahkan telunjuknya ke wajah Valen.


Hoekkk..


"Amit-amit Zee, jangan sampe."


"Heehh, Lo jangan gitu Lo, siapa tahu ucapan Zee emang jadi kenyataan, suatu saat Lo jatuh cinta sama gue, secara gue nggak jelek-jelek amat kok, mirip-mirip lah sama Sultan Djorghi dikit mah." ucap Valen seraya meniup-niup telapak tangannya yang diberi sedikit ludah, lalu diusapkannya kebagian rambut paling depan, hingga membentuk sebuah jengger ayam.


"Jijik anjir! cabut yuk Zee, lama-lama deket si Vampir bisa ketularan gilanya gue."

__ADS_1


Zeela hanya terkekeh, seraya mengikuti langkah Amora yang menariknya menuju gerbang sekolah.


"Tunggu dong Zee." Valen mengikuti keduanya dengan sedikit berteriak.


"Ihs apaan sih Lo ngintil Mulu deh, sono gabung gih sama jenis makhluk yang sama kek elo."


"Anjir! emang gue jenis makhluk apaan, elah!"


"Geoduck." jawabnya singkat seraya menarik kembali tangan Zeela menuju gerbang sekolah yang kini sudah tidak terlalu padat dengan siswa-siswi yang semula berdesakan memenuhi gerbang tersebut.


Sementara ditempatnya berdiri, Valen melongo dan menepuk pundak salah satu gadis yang ia ketahui salah satu adik kelasnya.


"Hei Lo tahu jenis makhluk Geoduck nggak?" tanyanya.


Sementara gadis yang ditanya melongo, seraya melirik sahabatnya yang berada disampingnya.


"Bukannya itu sejenis kerang yang biasa dipake mukbang ya." gadis itu berbisik.


"Iya sih."


"Woyy... malah bisik-bisik sih Lo berdua."


"Kakak seriusan emangnya nggak tahu apa itu Geoduck?"


Valen menyengir, dengan mimik wajah yang tak enak dipandang.


"Kalau gue tahu ngapain susah-susah nanya Lo berdua, dasar kunang-kunang kesiangan Lo." tuturnya, yang kemudian bergegas pergi.


"Dih." kedua gadis itu mengangkat bahu, dengan kekehan kecil, "bingung nggak sih ngasih tahunya." bisik salah satu gadis tersebut.


Sementara yang satunya ikut terkekeh, sembari menutup mulutnya, "Iya, mirip sih."


Didepan sana, Valen kembali mengejar langkah seseorang yang menjadi teman sebangkunya.


"OY, Rom!"


"Kenapa Lo, kangen sama gue?" ucap Rommy, yang kini sudah mengenakan helmnya hendak pulang.


"Najis! gue tuh cuma mau nanya, Lo tahu makhluk Geoduck kagak?"


Pemuda yang bernama Rommy itu menggaruk pelipisnya, "Yakin Lo kagak tahu emangnya?"


"Si anjir, Lo sama aja kayak si kunang-kunang kembar tadi, kagak membantu sama sekali."


"CK, kagak sabaran Lo, setahu gue Geoduck itu kerang yg mirip kek belalai Lo itu."


"Belalai gue?" tanyanya bingung.


"Ini anjir! kelamaan loading Lo." ucap Rommy gemas, seraya memegangi milik Valen, membuat pemuda itu hampir melompat, bertepatan dengan Amora yang berjalan melewatinya.


Gadis itu mendelik, "Dasar Geoduck makan Geoduck."


*


*

__ADS_1


__ADS_2