PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Bertemu Miranda


__ADS_3

"Ini tempat apaan sih Ar?" tanya Zeela begitu keduanya sampai disebuah tempat pemakaman umum yang beberapa hari lalu Arjuna datangi.


"Lo nggak lihat disitu tulisannya apa?" menunjuk plang yang menempel kokoh diatas gapura yang menjadi pintu masuk utama tempat tersebut.


"Tempat Pemakaman Umum.?"


"Ya iya, emang Lo pikir apa? tempat pemancingan?" ucapnya dengan raut wajahnya yang menyebalkan.


"Percuma emang ngomong sama Lo, yang ada gue malah emosi terus jadinya."


"Nggak usah ngedumel, buru ikutin gue."


"Iya, ihs." kesal Zeela.


Arjuna menarik lengan istrinya yang dirasa akan lama sampai makam yang ia tuju, karena Zeela lebih banyak menoleh dan memperhatikan sekitar bahkan gadis itu beberapa kali tersandung, karena tidak melihat jalan yang ia lewati dengan benar.


"S-siapa?" tanya Zeela, saat Arjuna menunjukkan sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan Kanaya Michela Al-tezza, karena seingatnya marga itu merupakan marga milik keluarga Arjuna.


"Itu anaknya kak Clara, dia lahir prematur karena ibunya mengalami stres berat."


"A-anak Lo?"


Pletakkk!


Sentilan keras dikeningnya membuat Zeela meringis dan menatap kesal pada Arjuna.


"Apaan sih, sakit tahu nggak!" mendelik, sembari mengusap-usap keningnya yang terasa nyeri.


"Salah Lo."


"Salah gue?"


"Iya, karena Lo bodoh! bisa-bisanya masih berpikir kalau gue udah punya anak."


"Tapi kan kemarin Lo sendiri yang bilang ke gue."


"Gue kan udah jelasin."


"Terus anaknya siapa?"


"Anak pertama Sultan."


Deg!

__ADS_1


Hening sesaat, Arjuna berdeham melirik istrinya yang mematung.


"Gue tahu Lo pasti kaget, itulah alasannya kenapa gue nggak rela kalau Lo married sama Sultan."


"Pulang yuk, entar gue ceritain semuanya dirumah! tapi sebelumnya gue mau bawa Lo mampir dulu kerumah Tante Miranda, soalnya gue udah janji mau ngenalin Lo sama dia, karena dia udah gue anggap sebagai ibu gue sendiri."


"Ayok Zee." dengan lembut Arjuna menautkan jemarinya dan jemari milik Zeela menuntun gadis yang masih dalam keadaan syok itu keluar dari area pemakaman.


Selama perjalanan menuju kerumah Miranda, Zeela hanya diam, bahkan ia sama sekali tak merespon saat Arjuna beberapa kali mengajaknya berbicara.


"Ayok turun!" ajaknya, namun Zeela bergeming dengan raut yang masih sama seperti sebelumnya.


"Sampai kapan Lo mau duduk disitu, Ckkk dasar bucin! mantan kek gitu aja masih dipikirin." Arjuna mencibir.


"Gue nggak mikirin dia ya." balas Zeela tak terima.


"Jelas-jelas Lo mikirin dia, tapi masih aja ngeles."


"Ish Arjuna Lo kok nyebelin sih." teriak Zeela yang hanya ditanggapi Arjuna dengan cuek, pemuda itu ngeloyor meninggalkan Zeela yang masih menggerutu ditempatnya.


Arjuna mengetuk pintu dihadapannya, dan tak lama seseorang keluar dengan senyum sumringah, "Lho, nak Arjuna?" ujar wanita yang tak lain adalah Miranda.


"Tan,?" mengulurkan tangannya menyalami Miranda yang juga diikuti Zeela.


"Iya Tan, tadi abis berkunjung ke makamnya kak Clara sama Kanaya sih sebenarnya, tapi sekalian mampir aja kesini."


"Ini_" Miranda menatap gadis yang berada disamping Arjuna yang tampak salah tingkah.


"Zeela Tante, istri saya! yang saya ceritakan tempo hari."


"Oh jadi ini istri nak Arjuna? yaampun, tante kira kamu cuma bercanda lho Ar, eh beneran ternyata, siapa tadi namanya.?"


"Zeela tante." Zeela yang menyahut.


"Aduhh..cantiknya, masih sekolah juga ya?"


"Masih Tante."


"Kalian serasi sekali sih, tante do'akan langgeng sampai kakek nenek, dan sampai maut yang memisahkan kalian berdua ya."


"Aamiin." Arjuna tampak antusias mengaminkan, sementara Miranda sendiri senyum-senyum seolah ikut larut dalam kebahagiaan pasangan muda dihadapannya.


"Oh iya, Tante sampai lupa nggak nyuruh kalian masuk! ayok masuk dulu kita ngeteh atau ngopi dulu didalam."

__ADS_1


"Jangan Tan nggak usah, kita nggak lama soalnya masih ada urusan yang belum selesai." sergah Arjuna.


"Begitu rupanya?"


"Iya Tan, kami permisi ya."


"Yasudah hati-hati dijalan, sering-sering mampir kesini ya."


"Iya Tante."


*


"Ar, mampir ketoko es cream boleh nggak?"


"Boleh, Lo mau beli?"


"Iya."


"Kita beli disini aja ya, gue sekalian mau beli rokok." ujar Arjuna yang langsung turun begitu motornya terhenti.


"Lo tunggu disini aja biar gue yang beliin." menahan lengan Zeela saat gadis itu hendak turun memasuki mini market yang ada dihadapannya.


Zeela menurut saja membiarkan suaminya masuk seorang diri, sementara dirinya memilih untuk mengeluarkan ponselnya, iseng-iseng membuka sosial media miliknya yang sudah jarang sekali ia gunakan.


Tersenyum saat mendapati beberapa foto yang diunggah teman-temannya muncul diberanda utama.


"Nih es creamnya gue beliin banyak rasa! gue nggak tahu soalnya Lo suka yang rasa apa." Arjuna yang baru saja keluar langsung nyerocos sembari menyodorkan keresek putih yang ia bawa.


"Salah sendiri nggak nanya." Zeela menjawab dengan mencebikan bibirnya.


"Yaudah sih, gue kan udah bilang lupa tadi."


"Iya iya, thanks ya."


"Mau dimakan dulu, keburu cair lho kalau di entar-entar."


"Dimana?"


"eummm_" Arjuna tampak berpikir dengan kedua mata yang menyapu sekitar, "Disana,!" menunjuk kearah kios bakso yang tutup, namun didepan kios tersebut terdapat beberapa bangku kayu yang cukup untuk diduduki oleh mereka berdua.


*


*

__ADS_1


__ADS_2