
"Anjir kagak sopan Lo Rom, emak gue aja kagak pernah megang-megang barang gue tuh, nah elo malah main pegang-pegang aja."
"Cih, gue juga geli anjir.''
"Eh ngomong-ngomong itu cowok yang waktu itu bukan sih, Lo inget kagak?" Rommy menendang kaki Valen, membuat pemuda itu mengaduh dan mengarahkan pandangannya kearah yang ditatap Rommy.
Didepan sana, Arjuna yang masih menunggangi motornya membuka helm, celingukan menoleh kekiri dan kekanan seperti sedang mencari seseorang.
"Gue cabut dulu." Valen melangkah cepat menghampiri Arjuna, yang kemudian diikuti Rommy juga dari belakang.
"CK, nyali Lo gede juga ternyata." ujar Valen yang kini sudah berada dihadapan Arjuna.
Kedua mata pemuda itu menyipit, "Lo ngomong sama gue?''
Valen mencibir, "Nggak usah pura-pura, lo nggak lupa kan siapa gue?"
"Siapa elo, sampai gue harus inget segala."
"Seetaann! belagu banget Lo, gue yakin Lo masih inget sama gue, loser!" dengus Valen, membuat Arjuna tersulut emosi.
"Anjiing!" umpat Arjuna meletakkan helmnya diatas jok dengan cukup keras, lalu turun dan menarik kerah Valen, "gue tungguin di alun-alun besok njing!"
Valen tersenyum sinis, "Kenapa harus nunggu besok, kenapa nggak sekarang aja."
"Lo_"
"Arjuna.. Arjuna, Lo takut kan? karena pawang Lo lagi kagak ada disini, CK loser!"
"Lo bilang apa?"
Bugh!
Satu pukulan telak mendarat dengan sempurna, tepat dirahang Arjuna hingga mengenai ujung bibirnya, pemuda itu sampai terhuyung kebelakang, berbeda dengan Valen yang tampak tertawa sangat puas dengan pukulan kerasnya yang berhasil memberi pelajaran pada Arjuna.
Pemuda tampan yang menurutnya sok jago dan sombong, terlebih saat ia mengingat jika kini Zeela sedang dekat dengan pemuda tersebut.
"Stoppp!!" teriak Zeela, yang tengah berlari menghampiri keduanya.
"Kalian berdua apa-apaan sih, Valen Arjuna, Ar Lo nggak apa-apa kan?" Zeela berjongkok dihadapan Arjuna membantu pemuda itu untuk berdiri, ''Bibir Lo berdarah Ar.?"
"Lo juga Rom, ada yang berantem kok Lo malah diem aja sih?" sentaknya dengan nada panik, sementara beberapa anak-anak lain yang sempat melihat kejadian tersebut memilih membubarkan diri.
"Ya, gue juga bingung, kejadiannya tiba-tiba Zee." ucap Rommy gelagapan.
"Nggak masalah, cuma luka kecil." ucap Arjuna yang kemudian beranjak menuju motornya.
"Zee, ayok cabut!" ajaknya ketus, sembari menatap Valen dengan tatapan yang sulit terbaca.
"Zee, mending Lo balik sama gue aja, jangan sama dia." Valen berusaha menahan lengan Zeela.
__ADS_1
"Sorry Val, gue musti ikut Arjuna, lukanya perlu diobatin, gara-gara Lo juga kan dia jadi kayak gitu."
"Tapi zee_"
"Gue duluan."
*
"Lo itu sebenarnya anak sekolahan apa anak preman sih? nggak dijalan nggak disekolah hobinya berantem terus." tangan yang semula mengompres sudut bibir itu dengan pelan, kini berubah kasar bercampur menekannya sedikit kuat.
"Elah Zee sakit nih, kagak ikhlas banget sih Lo ngobatin guenya." Arjuna menggerutu, sembari memegangi rahangnya yang terasa ngilu.
"Abis Lo sih ngeselin banget, Lo tahu nggak Ar gara-gara Lo berantem sama si Valen gue jadi batal kerumah temen, lagian ngapain juga sih Lo pake acara datang lagi kesekolah, tadi pagi kan gue udah bilang, jangan jemput! ngeyel sih Lo."
"Marahin aja terus guenya."
"CK."
"Zee, ngomong-ngomong kok Lo bisa kenal sama si buluk itu sih?"
Zeela mendelik, "Sibuluk siapa maksudnya?"
''Orang yang udah bikin muka gue kek ginilah Zee."
"Valen.?"
"Diihh, padahal barusan elo yang nanya."
"Jadi kenapa Lo bisa kenal sama dia, kek nya bukan sekedar kenal deh, tapi Lo deket kan?"
"Ya gimana nggak kenal, dia satu sekolah sama gue, temen sekelas, lebih dari itu malah."
"Lebih dari itu maksudnya_ Lo ada hubungan gitu sama dia?"
"Iya, hubungan pertemanan."
Arjuna mendengus, "Keknya orang rumah udah pada pulang tuh, gue mau Lo ngomong sekarang aja gimana?"
"Ar, Lo udah gila ya."
"Nggak, gue sehat! maka dari itu gue mau cepat-cepat nikahin Lo."
"Ar_"
''Dengar gue Zee, sekali lagi gue ingetin gue nggak main-main sama ucapan gue, ini penawaran terakhir dari gue, Lo pilih buat tetap ngelanjutin married sama Sultan tapi nama keluarga Lo bakalan tercemar terutama Lo yang bisa dipastiin bakalan dikeluarin dari sekolah." ancamnya.
Kedua bahu Zeela melemah, gadis itu menunduk sembari memejamkan kedua matanya, ini adalah pilihan tersulit dalam hidupnya.
"Oke, gue ngomong sekarang! puas Lo?!"
__ADS_1
Arjuna menyunggingkan senyum, "Deal."
*
"Ada apa sayang, lagi ada masalah disekolah, atau kamu kekurangan uang jajan, atau mama kamu sedang tidak baik-baik saja." ujar Dara khawatir, saat calon menantunya itu meminta semua orang yang ada dirumah untuk berkumpul diruang keluarga.
"Ma, bukan itu." Zeela menggeleng, gadis itu beringsut memeluk tubuh Dara yang saat ini tengah duduk di sofa yang sama dengan dirinya, sementara disofa yang lainnya Arthur, Sultan, maupun Arjuna sudah ikut bergabung.
"Lalu apa sayang?"
"Aku_ aku nggak mau nikah sama kak Sultan ma."
Deg!
Seketika semua mata memandang kearahnya dengan terkejut, tak terkecuali dengan Arjuna, namun alih-alih kaget, pemuda itu justru malah tersenyum penuh makna.
"Zee sayang, kamu ini sedang bicara apa nak?" tanya Dara yang tentu saja kaget bercampur khawatir.
"Ma, aku serius! aku mau pernikahan ku sama kak Sultan dibatalkan."
"Sayang, ini sama sekali bukan candaan yang lucu nak." Dara masih tak percaya dengan ucapan gadis dihadapannya.
Zeela semakin terisak, gadis itu menggeleng lemah seiring dengan laju alir matanya yang semakin deras.
"Aku nggak lagi bercanda ma."
"Tapi kenapa Zee?" kali ini Sultan yang angkat bicara, pria itu berdiri menatap Zeela dengan wajah memerah menahan amarah.
"Maaf kak." Zeela menunduk, tak berani menatap kedua mata Sultan secara langsung, karena hal ini sudah jelas akan menyakiti hatinya.
"Aku,_ aku mau nikah sama Arjuna."
Deg!
"Zee." Arthur yang semula diam kini sontak bersuara, membuat Zeela semakin terisak, sedetik kemudian Arjuna ikut berdiri disamping Sultan.
"Zeela benar! kita berdua akan menikah."
"Nggak mungkin! kalian berdua baru aja kenal beberapa hari, bilang sama gue apa yang udah Lo lakuin sampai Zeela jadi begini, Lo apain dia sialan?" sentak Sultan sembari mencengkram kerah baju Arjuna yang saat ini masih mengenakan seragam sekolahnya.
Santai kedua tangan Arjuna terangkat, kemudian menurunkan cengkraman Sultan dari bajunya dengan gerakan pelan, lalu sebuah sunggingan senyum mengejek terbit dari bibirnya.
"Kenapa? Lo nggak terima, karena ternyata Zee lebih tertarik sama gue dibanding elo, gue rasa sih Zee itu ceweknya pinter, dia bisa ngebebedain antara berlian sama rongsokan."
"Jaga mulut Lo sialan."
*
*
__ADS_1