PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Menghindar


__ADS_3

"Sorry Zee, gue nggak bermaksud buat_"


"It's okay Mor, lagi pula itu semua udah berlalu." sela Zeela sembari mengusap air matanya dengan gerakan kasar.


"Tapi Zee, kalau benar Lo udah married sama dia, terus tadi itu maksudnya apa, kenapa anak kecil yang tadi manggil si Arjuna papa, mana mukanya mirip banget lagi, tapi si Arjuna masih bocah, masa punya bocah juga sih." gerutu Amora tampak kesal.


"Gue juga nggak tahu Mor, Lo tahu sendiri gue itu baru dua minggu kenal sama dia, gue nggak tahu dunia Arjuna sebelumnya seperti apa."


"Sabar ya Zee, gue turut prihatin atas apa yang udah terjadi sama elo, sumpah Zee gue benar-benar nggak nyangka, tapi gue salut karena Lo bisa sekuat ini."


"Thanks Mor, tapi janji ya Lo nggak akan cerita kesiapapun, cukup Lo aja yang tahu, karena gue masih pengen sekolah Mor." ucapnya sembari menggenggam tangan Amora, dengan penuh permohonan.


"Lo santai aja Zee, nggak akan ada siapapun yang tahu tentang pernikahan elo."


*


Keadaan malam ini terasa sunyi senyap bagi Zeela, berulang kali ia melirik pintu kamarnya yang masih tertutup rapat, tak ada tanda-tanda jika suaminya akan pulang malam ini, padahal jam di dinding sudah mengarah ke angka jam sebelas malam.


Beberapa kali juga ia memeriksa ponselnya, berharap jika Arjuna menghubungi atau sekedar mengiriminya pesan singkat, namun sampai kini Arjuna sama sekali tak menghubunginya, membuat Zeela beberapa kali men desah dengan sentakan napas kasar.


Bukan! bukan ia merindukan Arjuna, tetapi ia menghawatirkan pemuda tersebut, karena bagaimana pun Arjuna adalah suami sah nya.


Dirasa malam ini tak akan bisa tidur, Zeela pun memutuskan untuk pergi kedapur untuk mengambil air sekaligus mengisi perutnya yang kosong, karena sore tadi tidak sempat makan sama sekali.


Sempat ragu untuk keluar dari kamar, karena khawatir akan bertemu dengan Sultan, namun rasa haus dan lapar membuatnya tetap memaksakan diri.


Begitu sampai didapur, Zeela bergegas mengambil piring yang diisinya dengan nasi, lalu membuka tudung saji, dimana diatas meja sana masih tersimpan beberapa potong ikan balado dengan aroma yang menggugah selera.


Ketika hendak mencuci piring bekas makannya, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki, tidak terlalu nyaring memang! namun suasana malam yang terasa sunyi ini membuat bunyi sesuatu sangat jelas terdengar.


Zeela memutar badan melihat siapa yang datang, "Pa?" sapanya saat mengetahui jika yang datang tersebut adalah papa mertuanya.


"Sedang apa malam-malam begini Zee?" tanyanya, sembari menuangkan air suhu ruang dari teko yang selalu disediakan bibi diatas meja makan.


"Eumm_ tadi.. tadi Zeela laper pa."


Arthur mengulas senyum, "Udah makan?"

__ADS_1


"Udah pa, ini baru aja selesai."


Arthur mengangguk saja, pria itu menjatuhkan tubuhnya diatas salah satu kursi disamping meja makan dengan tubuh yang bersandar kesandaran kursi.


Zeela dapat mendengar jelas jika pria yang berstatus sebagai ayah mertuanya itu beberapa kali menghela napas, seperti banyak sekali menyimpan beban yang memenuhi pikirannya.


"Kamu nggak bisa tidur ya Zee, sama! papa juga." Arthur kembali berucap.


"I-iya pa." jawabnya sembari menganggukkan kepala.


"Arjuna nggak pulang kan malam ini?"


Lagi-lagi Zeela mengangguk.


"Papa kok tahu?"


"Papa juga tahu kalau Sultan nggak pulang Zee."


"Kamu jangan kaget ya, dengan sikapnya Arjuna, dari sejak dia SMP memang udah begitu, kabur-kaburan dari rumah, tawuran, bolos sekolah, kadang bisa dua bulanan nggak pulang kerumah." jelas Arthur, membuat Zeela terdiam kaku, yang tentu saja merasa kaget dengan cerita ayah mertuanya.


"Papa nggak coba larang?" ujar Zeela, setelah beberapa menit memilih diam.


"Sudah sangat sering Zee, bahkan papa mengancam tidak akan memberikan dia uang jajan lagi, tapi itu semua tidak membuat Arjuna takut, justru malah membuatnya semakin berulah."


"Gitu ya pa, lalu bagaimana dengan kak Sultan?"


"Hampir sama sih, tapi bedanya Sultan lebih sering dirumah dan termasuk lebih nurut ketimbang Arjuna."


''Apa papa tahu hal yang menyebabkan Arjuna jadi seperti itu pa?"


Arjuna berdeham, dengan tatapan lurus kedepan, pikirannya menerawang jauh mengingat masa-masa beberapa tahun kebelakang.


"Mungkin ini salah papa juga Zee, papa tidak benar-benar mendidiknya saat itu, karena papa sangat sibuk dengan pekerjaan, sedangkan dirumah hanya ada mama yang juga sibuk mengurusi Sultan."


"Sultan kesulitan berjalan selama hampir tiga tahun, karena mengalami kecelakaan, dan hal itu membuat mamanya ketakutan dan lebih memprioritaskan kebutuhan Sultan dibandingkan dengan Arjuna yang saat itu membutuhkan perhatian mamanya juga."


"Arjuna yang kesepian, akhirnya memilih bergaul dengan anak-anak diluar sana, sampai akhirnya dia benar-benar tumbuh menjadi sosok pemuda yang seenaknya sendiri dan tidak mau diatur."

__ADS_1


"Maafkan papa Zee, sebagai orang tua Arjuna papa jelas merasa sangat bersalah, seharusnya papa bisa menasehati dia supaya menjadi suami yang baik buat kamu, sampai sini pun papa benar-benar sudah gagal jadi orang tua."


"Pa, papa nggak gagal, papa udah berusaha jadi orang tua yang baik buat kedua anak papa, aku yakin kok kalau suatu saat Arjuna bakalan berubah dan meninggalkan semua kebiasaan buruknya."


Arthur beranjak dari kursi untuk kembali kekamarnya, "Papa percaya Zeela bisa membuat Arjuna berubah dan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, sekarang papa kembali kekamar dulu ya, Zeela juga tidur ya, istirahat."


"Baik pa."


*


Zeela menggeliat, dengan kedua mata yang perlahan terbuka, disaat yang sama wangi shampo menguar memenuhi Indra penciumannya, lalu mengerjap beberapa kali saat melihat suaminya sudah rapih mengenakan seragam sekolah, sembari menata rambutnya yang masih sedikit basah.


Zeela hendak bertanya, namun lidahnya seketika terasa kelu, saat mengetahui jika ternyata Arjuna sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon.


Dari cara ia bicara, dengan nada suara rendah terdengar begitu lembut ia yakin Arjuna sedang berbicara dengan seorang perempuan.


Mungkinkah wanita yang kemarin ia temui di mall?


Zeela berspekulasi sendiri.


Dengan tubuh yang terasa lemas ia berusaha menyeret langkahnya menuju lantai bawah, sengaja memilih tidak sarapan dan bergegas memesan ojek online untuk mengantarnya ke sekolah pagi ini.


"Nggak sarapan dulu Zee?" ujar Arthur saat melihat Zeela langsung keluar usai menyalaminya.


"Mau sarapan dikantin aja pa, Zeela lupa ada tugas yang belum dikerjakan."


"Begitu rupanya."


"Iya pa." jawabnya lalu berjalan cepat menuju teras.


Dirasa menghindari Arjuna saat ini adalah cara yang ia pilih, karena selain ia tak merasa canggung dengannya, hatinya pun tidak akan terus merasakan sakit.


Menikah karena cinta ataupun tidak, bagi Zeela tetap menimbulkan rasa sakit, karena wanita manapun tentu tak akan rela jika suaminya bersama wanita lain.


*


*

__ADS_1


__ADS_2