
"Pa, lakukan sesuatu dong pa, jangan biarkan Citra pergi gitu aja." ujar Sultan memohon saat ia tak lagi menemukan solusi atas permasalahannya dengan Citra.
"Sudahlah Tan, itu semua sudah menjadi keputusan Citra, jadi ikhlaskan dia." Arthur menasehati.
"Ikhlaskan bagaimana sih pa,?"
"Papa benar, lo harus nikahi kak Clara bang, dia hamil anak Lo kan?" Arjuna yang baru saja sampai dirumah sore ini ikut menimpali ucapan keduanya.
Bocah berumur tiga belas tahun tersebut tampak berani didepan sang abang yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
"Udah gue bilang dia bukan anak gue, masih aja bahas cewek kampung itu, Lo juga bocah ngapain ikut campur urusan gue sih, nggak punya kerjaan Lo?"
"Tapi kak Clara bilang itu anak elo bang."
"Lo tahu apa soal orang dewasa hn? Lo aja masih belajar berhitung dan perkalian, jadi nggak usah sok-sok an ikut campur masalah orang dewasa, bocah!"
"Oke, kalau Lo nggak mau ngakuin dia sekarang, tapi saat anak itu lahir kita lakukan test DNA gimana?"
"Ap_"
"Papa setuju, saat anak itu lahir kita akan langsung melakukan test DNA, dan jika benar-benar terbukti dia anak kamu, maka kamu harus segera menikahinya." Arthur kembali berucap.
"Ya nggak bisa gitu dong pa."
"Kenapa, kamu takut?"
Sultan mendengus, "Oke, puas kalian?"
*
Sejak kejadian dimana Sultan menolak janin yang ada didalam kandungannya, kondisi kesehatan Clara semakin hari semakin memburuk, beberapa kali juga ia harus keluar masuk rumah sakit karena kondisinya yang semakin lemah.
__ADS_1
Arjuna yang merasa harus bertanggung jawab atas kelakuan kakaknya turut membantu dan meminta sang papa membayar semua biaya pengobatan Clara.
"Kak Clara?" pekik Arjuna saat mendapati anak dari pengasuhnya tersebut tengah meringis memegangi perutnya yang kini memasuki bulan kedelapan.
"Sakit Ar." ucapnya lirih, membuat bocah SMP kelas VII itu tampak panik, beruntung Amanda yang pergi ke pasar kala itu pulang tepat waktu.
"Ini kenapa Ar?" ucap Amanda tak kalah panik.
"Aku juga baru Dateng Tan, kak Clara udah begini."
"Sakit Bu." rintih Clara, sementara Arjuna buru-buru menelpon sopir sang papa dan membawa Clara ke rumah sakit, padahal belum ada satu hari ia pulang dari sana.
Setelah satu jam menunggu didepan ruang bersalin, suara tangis bayi pun terdengar! membuat Arjuna, begitupun Amanda bernapas sangat lega.
Namun kelegaan mereka seketika berubah menjadi tangis saat mengetahui jika Clara meninggal dunia sesaat setelah bayinya lahir.
"Maafkan kami Bu, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien, tetapi sepertinya sang pencipta lebih menyayangi beliau." ujar Dokter wanita yang menangani proses Clara saat melahirkan.
Tampak jelas raut penyesalan dari wajah Dokter tersebut.
"Bayinya selamat, tetapi sepertinya_ harus mendapatkan penanganan khusus Bu."
"Maksud Dokter?"
"Mari ikuti saya Bu, akan saya jelaskan!"
*
Pagi itu acara pemakaman Clara berlangsung, Dara dan Arthur tampak hadir untuk mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Clara putri mereka akibat ulah putra pertamanya.
Mereka sangat menyesali semua yang telah terjadi, karena lambatnya dalam bertindak.
__ADS_1
Berbeda dengan Sultan yang tampak acuh seolah tak pernah melakukan kesalahan apapun.
Ya, pada akhirnya mereka percaya bahwa bayi Clara merupakan anak Sultan yang tidak diakui oleh ayahnya.
Amanda tak berniat untuk membenci atau memaki keluarga Arthur, ia memilih memendamnya seorang diri, baginya orang kecil seperti dirinya memang sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti itu.
Tiga hari tepat setelah Clara dimakamkan bayi perempuan Clara dengan berat badan 1,2 itu meninggal karena selain tidak mendapatkan asupan nutrisi ketika didalam perut ibunya, bayi tersebut memiliki kelainan sehingga tidak dapat bertahan lebih lama.
Dan dihari yang sama bayi tersebut dimakamkan disamping makam Clara, yang dinamai oleh Arjuna, Kanaya Michela Al-tezza.
#Flasback of..
"Kenapa, kaget?" tanya Arjuna sambil terkekeh, saat melihat wajah tegang istrinya ketika ia selesai bercerita mengenai masalalu kakaknya.
"Ar, gue_"
"Sekarang Lo tahu kan alasan gue nggak rela Lo nikah sama dia?"
Zeela mengangguk, "Tapi_ kenapa?"
"Gue juga brengsek Zee, gue nggak bilang gue orang yang baik, tapi setidaknya gue jauh lebih baik dari dia."
"Gue masih berharap dia bisa berubah Zee, dan mau menikahi kak Alya, demi Syifa Putri mereka."
"Ar, kenapa kak Sultan nggak mau nikahin kak Alya juga? terus gue waktu itu nggak sengaja denger pas Lo datang kerumah bawa syifa, kayaknya mama menolak kehadiran dia ya?"
"Iya, mama memang selalu menolaknya."
"Tapi, kenapa?"
"Karena_ dimasa lalu tante Rahayu salah satu mantan pacar papa."
__ADS_1
*
*