
Setelah cukup lama mengobrol dengan Syifa, Sultan pun berpamitan untuk pulang, karena ada sesuatu yang harus ia tanyakan kepada adiknya.
Sempat mengunjungi Alya sebentar untuk memastikan keadaannya sekarang, namun tanpa sepengetahuan wanita itu tentunya.
Ia keluar dari rumah sakit dan mengendarai mobilnya menuju sebuah Cafe yang terletak tidak jauh dari rumah orang tuanya, mengeluarkan ponsel dari saku jasnya lalu mencari sebuah kontak yang entah kapan terakhir kali ia hubungi.
Jemarinya bergerak ragu menekan Kontak yang ia beri nama 'Arjuna' terasa sangat asing memang, mengingat dari kecil ia dan adiknya tak pernah seakrab seperti adik kakak pada umumnya.
Cukup lama ia berperang dengan hatinya, antara harus menghubungi Arjuna atau tidak, dan pada akhirnya jemarinya bergerak menekan Ikon hijau dilayar ponselnya dan seketika suara dingin Arjuna terdengar dari sebrang sana.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada tak enak didengar, Sultan dapat membayangkan seperti apa raut wajah sang adik saat ini.
Sultan menghela napas panjang, sembari memperbaiki letak duduknya, lalu menggaruk ujung alis bingung harus memulai dari mana.
"Gue hitung sampai tiga, kalau dalam hitungan ketiga Lo nggak ngomong, telponnya gue tutup."
"Ar, Lo sibuk nggak? bisa temuin gue di Cafe Idrus sekarang, gue tunggu."
"Ngapain, Lo nggak ada niatan buat jebak gue kan?"
"Ckk, emang gue pernah ngelakuin hal sejahat apa sih sampai Lo ngomong kaya gitu."
"Oke, tunggu sepuluh menit gue sampai sana."
Sambungan terputus, Sultan meletakkan ponselnya diatas meja dengan helaan napas lega, setidaknya Arjuna sudah bersedia untuk datang dan bisa ia tanyai mengenai beberapa hal.
Tak sampai sepuluh menit, Arjuna tiba ditempat Sultan menunggunya, pemuda itu menarik kursi kosong untuk ia duduki tak perduli dengan Sultan yang entah akan menyuruhnya untuk duduk atau tidak.
"Ada apa?" ucap Arjuna selalu to the point seperti biasa.
"Lo pesan minum dulu_"
"Nggak perlu, gue nggak lama! bini gue udah nungguin."
"CK, gimana keadaan Zee sekarang?"
"Ngapain nanya-nanya soal bini gue."
__ADS_1
Sultan terkekeh, "posesif banget sih Lo, gue nggak akan rebut dia, seperti Lo yang ngerebut dia dari gue."
"Langsung aja, sebenarnya mau Lo apa sih?" ketus Arjuna seraya mengambil ponselnya mengetikan sesuatu dipesan chat untuk ia kirimi pada istrinya.
"Syifa! dia beneran anak gue kan?"
Seketika gerakan jemari Arjuna terhenti, ia menoleh menatap pria yang berstatus kakak kandungnya itu dengan kedua alis bertaut, lalu berdecih dengan tawa mengejek.
"Abis kemasukan jin apa Lo tiba-tiba nanyain Syifa setelah bertahun-tahun Lo nggak mau ngakuin dia."
"Please Ar, gue serius! Lo tinggal jawab aja."
"Seharusnya gue nggak perlu jelasin lagi kan, kalau perlu Lo minta Dokter buat test DNA ulang secara langsung."
"Oke, thanks! cuma itu yang mau gue tanyain."
"Yaudah kalau nggak ada lagi yang mau Lo omongin gue cabut." ucapnya seraya beranjak dari duduknya.
*
"Zeela ada bi?" ujar Arjuna yang kini memasuki rumah setelah menemui Sultan beberapa menit yang lalu.
"Oh yaudah, saya temuin dia dulu."
"Zee?" panggilnya, namun tak ada sahutan, keadaan kamar sangat hening, namun tak lama ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
"CK, lagi mandi rupanya." Arjuna bergumam sendiri mengambil baju ganti dan memasuki kamar mandi yang berada dikamar sebelah.
"Hai cantik, abis mandi?" godanya setelah kembali memasuki kamarnya dan mendapati Zeela yang tengah menyisir rambut panjangnya didepan meja rias.
"Tadi katanya lagi ketemuan sama kak Sultan, kok cuma sebentar?"
"Ckk.. nggak ada kerjaan banget lama-lama ketemuan sama dia."
"Ihs, kalau ngomong selalu aja kek gitu, nyebelin!"
"Tapi ngangenin kan." balasnya seraya memeluknya dari belakang dengan dagu yang ia tumpu kan di bahu Zeela.
__ADS_1
"Nggak, siapa yang bilang begitu."
"Aku."
Zeela mencibir "Itu namanya kepedean."
"Iyasih, tapi pede sedikit nggak apa-apa kali yang."
"Arjuna."
"Nggak usah dipanggil, orangnya ada disini." sahutnya dengan kekehan kecil.
"Ckk.."
"Dingin nggak?" lanjutnya sembari mengeratkan pelukannya dibahu Zeela.
"Lumayan dingin."
"Mau nggak aku angetin." berbisik di telinga Zeela.
Plaakk..
"Kok dipukul sih yang?" protesnya seraya mengusap tangannya yang baru saja dipukul Zeela.
"Nggak usah mesuum, ini masih sore."
"Siapa yang mesuum aku kan cuma nawarin mau diangetin apa nggak."
"Tahu ah, aku mau rebahan capek." ujarnya beranjak dari kursi menaiki ranjang, sementara Arjuna mengekor dibelakang.
"Belum diapa-apain kok udah capek sih."
"Ihs Arjuna nggak usah deket-deket." desisnya mendorong tubuh Arjuna yang terus menempel ditubuhnya.
"Kalau disuruh jauh-jauh aku mana bisa."
*
__ADS_1
*