PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Ngambek


__ADS_3

"Ini dia beneran ngambek?" ucap Zeela pada dirinya sendiri saat melihat Arjuna yang sudah menghilang dari garasi bersama motor gede kesayangannya.


"Dasar cowok aneh, nyebelin, mesuum, ngeselin ihhh." gerutu Zeela sembari menghentak-hentakan kakinya, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas ranselnya, untuk memesan ojek online yang akan mengantarkan nya kesekolah pagi ini.


"Awas aja nanti kalau pulang nggak bakalan gue tanya, ihs."


''Dengan nama Zeela?" ucap seseorang dari luar gerbang dengan nada sedikit berteriak.


"Eh iya pak saya." sahut Zeela, seraya bergegas menghampiri ojek online yang baru saja dipesannya.


"SMA Bimantara ya pak."


"Siap neng!"


*


"Muka Lo kenapa Zee, berantem lagi sama si Arjuna?" tanya Amora yang kini melihat sahabatnya duduk termenung seorang diri didalam kelas yang masih sepi dengan raut wajah masam.


"Dia ngeselin banget tahu nggak sih Mor."


"Kenapa lagi sih, perasaan Lo kesel mulu sama dia, kapan sayangnya coba? atau sebenarnya Lo udah sayang, tapi nggak menyadari."


"CK, gue udah dibohongin habis-habisan sama dia."


"Dibohongin gimana, cerita deh biar Lo plong, gue janji nggak bakalan ceritain kesiapapun." ujar Amora lalu memilih duduk disamping Zeela.


"Janji tapi ya."


"Kapan sih gue pernah ingkar janji."


"Iya gue percaya."


"So?"


"Dulu gue pernah cerita kan kalau gue sama Arjuna married karena dia udah nidurin gue,!"


"Iya."


"Dan ternyata dia nggak benar-benar nidurin gue."


"Lho, bagus dong berarti Lo masih virgin kan sampe sekarang."


"Itu dia masalahnya.''


"Maksudnya gimana sih, Lo kecewa gitu karena ternyata si Arjuna itu belum ngapa-ngapain elo."


"Amora ihs."


"Lah."


"Sekarang gue benar-benar udah nggak virgin, dia udah ngambil sesuatu berharga milik gue Mor."

__ADS_1


"Tapi kali ini Lo tahu kan_maksud gue kalian melakukannya dalam keadaan sadar kan?"


Zeela mengangguk.


"Lo nggak berontak saat itu?"


Zeela menggeleng.


"Terus apa yang Lo takutin sekarang sih Zee?"


"Gue_"


"Lo takut kehilangan dia kan?"


"Ngg_"


"Udah deh Zee, nggak usah nyangkal terus kali, gue tahu elo paling nggak bisa bohongin gue, iya kan?"


"Nggak, siapa bilang gue takut kehilangan dia, gue cuma ngerasa rugi aja kalau sampai gue sama dia pisah, gitu maksudnya."


Amora mencibir, "CK, tapi yang gue lihat nggak gitu lho Zee."


"Apaan sih Mor?"


Amora men desah pelan, "Serah deh."


*


"Akhirnya dia datang juga, lama banget Anjir!" keluh Sean yang sudah menunggunya dari beberapa menit yang lalu.


"Sorry, ban motor gue bocor tadi."


"Elah, alesan."


"Serius bego, elah!"


"Yaudah iya gue percaya, buru duduk Lo, laper gue! gila ya, nungguin Lo buat sarapan bareng bisa-bisa gue keburu mati duluan entar."


"CK lebay Lo! kagak makan sehari doang kagak bakalan bikin Lo mati kali."


"Berisik banget bocah berdua udah kek kucing sama anjing aja." celetuk Paris gemas.


"Bukan gue duluan yang mulai." protes Arjuna yang tak terima dikatai.


"Udah-udah, kita berempat disini mau sarapan kan." sela Ardan yang mulai memesan makanan lebih dulu. "Oh iya Ar, gue punya sesuatu nih dari si Lisa." menyodorkan sebuah amplop putih yang ia keluarkan dari saku bajunya."


yang langsung mendapatkan cibiran dari Sean.


"Dih, masih jaman gitu pake surat-suratan segala, geli gue!"


"Bisa diem nggak sih Lo Se, nyambar aja kek induk ayam."

__ADS_1


sergah Paris.


"Ajig dikatain induk ayam, asal Lo tahu gue induk ini induk gorila."


Paris terkekeh, "Sepertinya emang lebih cocok sih!"


"Setann Lo."


"Kenapa Lo terima?" ujar Arjuna yang tampak kesal menatap Ardan.


"Ya kali gue tolak! gimana caranya?"


"Ya Lo nggak usah ambil aja, gampang kan?"


"Nggak semudah itu perguso! kek Lo kagak tahu aja kalau mantan pacar Lo itu suka maksa."


"Tapi dipaksa itu lebih enak kan, Ar?" Sean mengedipkan mata genit.


"Geli anjir!"


"Eh ngomong-ngomong entar nongkrong yok nongkrong, dan gue nggak mau terima penolakan! jadi Lo bertiga harus setuju, nongkrong sampe pagi, tanggal merah kan besok?"


"Gimana oke nggak?" lanjut Sean gemas, sementara Arjuna tampak berpikir, hubungannya sama Zeela lagi nggak sehat, dari pada dia terus emosi lebih baik untuk sementara ia harusnya tak menemui gadisnya dulu.


''Oke, gue ikut!" ucap Arjuna pada akhirnya, membuat Sean tersenyum antusias.


''Nah kek gini baru bener, asyeekk! terus Lo berdua gimana Dan, Paris?"


"Oke gue ikut juga deh!" sahut Paris.


"Lo gimana Dan?"


"Gue ikut!"


*


Sore berganti malam, Zeela bolak-balik menuju teras menanti suaminya pulang, padahal ia bisa saja menghubungi suaminya itu untuk mengurangi perasaan cemas, namun nyatanya ia terlalu gengsi untuk melakukan hal tersebut.


"Bi, Arjuna Belum pulang?" tanya Zeela, saat melihat bi Arum hendak memberikan segelas kopi hitam untuk satpam depan yang baru bekerja tadi pagi.


"Lho, memangnya den Arjuna nggak bilang, kalau malam ini dia nggak pulang.?"


"Nggak bi, emang kenapa dia nggak pulang?"


"Bibi kurang tahu sih non, tapi katanya ada acara sama teman-temannya."


"Oh yaudah bi, makasih ya!"


Bi Arum hanya mengangguk kecil, menatap punggung Zeela yang perlahan menjauh dari pandangannya.


"Masa den Ar lupa ngasih tahu non Zeela ya." gumamnya yang hanya mampu ia dengar seorang diri.

__ADS_1


*


__ADS_2