PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Wanita dari masa lalu


__ADS_3

Pagi menjelang, Sultan sudah bersiap untuk pergi kekantor milik sang papa yang sudah ia kelola beberapa tahun terakhir ini, seperti biasa ia berangkat kekantor mengendarai mobilnya sendiri tanpa seorang sopir.


Sultan menggelengkan kepala, dan beberapa kali memijat tengkuknya sendiri yang terasa ngilu, rupanya efek dari minuman keras yang ia konsumsi semalam masih menyisakan pening dikepalanya.


Dirasa menepikan mobilnya sejenak adalah jalan terbaik, Sultan pun memutuskan untuk menepikannya sebentar, namun ketidak fokusan nya dalam mengemudi membuat mobilnya menabrak seorang pengendara motor wanita yang tengah membawa seorang anak kecil hingga terguling.


Brakkk..


Sepeda motor yang dikendarai wanita tersebut menghantam keras tembok pembatas yang ada disekitar jalan, beberapa pengendara tampak memberhentikan laju kendaraannya sementara beberapa dari pedagang kaki lima berhamburan menghampiri.


Sultan mengerjap pelan, lalu bergegas keluar dari mobil menyeruak diantara kerumunan orang-orang yang tengah melihat keadaan korban, kedua matanya terbelalak lebar saat melihat seorang anak kecil yang memakai seragam sekolah TK tergeletak bersimbah darah, sementara wanita yang ia yakini adalah ibu dari anak tersebut tengah menangis panik, sembari memegang kakinya yang juga terluka cukup parah.


"Pak, tolong bantu saya mengangkat mereka berdua kedalam mobil." ujar Sultan sembari mengusap kasar wajahnya.


"Anda kan yang sudah menabrak mereka, lain kali hati-hati dong mas!" ucap ketus seorang bapak-bapak berperawakan tinggi yang sering nongkrong disalah satu warung kaki lima tersebut.


"Maaf, saya mengaku salah!"


"Sudah, sudah! lebih baik sekarang kita bantu mbak dan anaknya sepertinya lukanya cukup parah, akan sangat fatal kalau dibiarkan terlalu lama." timpal seorang pria dewasa yang berdiri disampingnya.


Membuat beberapa dari mereka bergegas menggotong kedua korban tersebut.


*


Setelah satu jam menunggu Dokter melakukan pemeriksaan dan pengobatan untuk keduanya, kini Sultan diperbolehkan untuk masuk menemui wanita itu.


Namun langkah Sultan terhenti dengan tubuh membeku diambang pintu saat kini ia dapat melihat dengan jelas wanita yang sudah ia tabrak satu jam yang lalu itu ternyata orang yang ia kenal.


"Alya?" ucapnya setelah berhasil menguasai diri dengan baik.


Wanita yang dipanggil Alya itu tak menjawab, dan memilih mengalihkan pandangannya kearah lain, ia sendiri tidak menyangka jika akan bertemu lagi dengan Sultan dalam keadaan seperti sekarang.


Saat berada dimobil tadi ia tidak sempat memperhatikan Sultan karena terlalu panik dengan keadaan putrinya yang tak sadarkan diri sementara Sultan sendiri merasa ketakutan dan tidak memperhatikan siapa wanita yang telah ia tabrak.


"Maaf, aku sudah membuat kamu jadi seperti ini."


"Terimakasih sudah mengantar kami kesini, sekarang anda boleh pergi."

__ADS_1


"Alya_"


"Ini tidak sepenuhnya salah anda, pagi ini saya memang sedikit terburu-buru dan kurang berhati-hati." sela Alya tanpa berniat menatapnya.


"Alya_"


"Saya ingin sendiri, jadi saya mohon agar anda keluar secepatnya dari sini."


Sultan menunduk dengan helaan napas kasar, "Baik aku akan pergi sekarang."


*


Seharian ini mood Sultan cukup buruk, ia tak berkonsentrasi sama sekali, bahkan tak ada satupun dari pekerjaannya yang mampu ia selesaikan, pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang wajah penuh benci Alya terhadap dirinya.


Ia berdesis melirik jam dinding yang terasa lambat bergerak, sepertinya ia tidak akan tenang jika terus berada disana sementara pikirannya terus tertuju pada seorang wanita yang pernah ia tiduri beberapa tahun yang lalu.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu dari arah luar membuatnya langsung mendongak, dan menyuruhnya segera masuk, dilihatnya asistennya yang biasa disapa Mike, menunduk hormat seraya menghampiri dirinya.


"Mik, tolong handle pekerjaan saya hari ini, saya masih ada urusan penting diluar." sela Sultan seraya beranjak mengambil jasnya yang ia sampirkan dikursi.


"Tapi tuan_" Mike tak sempat meneruskan kata-katanya karena Sultan sudah lebih dulu menghilang dibalik pintu, dan pria itu hanya bisa berdecak dengan helaan napas berat.


Sementara Sultan bergegas mengendarai mobilnya dengan secepat kilat menuju rumah sakit yang ia datangi beberapa jam yang lalu.


"Bagaimana keadaan anak kecil yang didalam Sus?" tutur Sultan ketika melihat seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan gadis kecil tersebut.


"Baru saja selesai minum obat ditemani ibunya."


"Ibunya, apakah dia masih didalam Sus?"


"Tidak, dia sudah kembali keruangannya untuk diganti perban, karena tadi beliau sempat jatuh membuat kakinya kembali berdarah."


"Terus sekarang bagaimana keadaannya Sus."


"Tidak apa-apa, mas tidak usah khawatir, Dokter sedang menanganinya."

__ADS_1


"Baiklah sus terimakasih, oh iya saya boleh menjenguk anak itu?"


"Boleh, tentu saja."


"Terimakasih."


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi."


Sultan mengangguk, lalu melangkah memasuki ruangan yang ia maksud, disana gadis kecil berwajah pucat dengan kepala yang ditutupi perban itu tengah duduk bersandar menatap kedatangannya.


"Hallo?" sapanya ramah, berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


"Om siapa, kok mirip om Arjuna tapi bukan?" ujar gadis tersebut dengan polosnya.


Sultan kembali tersenyum, tidak aneh jika gadis itu membahas tentang sang adik dihadapannya, karena ia sendiri tahu betul jika selama ini Arjuna sering mengunjungi Alya dan juga Syifa dirumahnya.


"Kenalan dulu boleh?" ucapnya dengan tangan terulur, "Nama om, Sultan! nama kamu siapa?"


"Syifa om."


"Namanya cantik, kayak orangnya." pujinya membuat Syifa tersenyum malu.


"Syifa lagi makan apa?" menunjuk piring yang ia pegang.


"Buah, kata ibu Syifa harus banyak makan buah supaya cepet sembuh."


"Iya betul, anak pinter." Sultan menyentuh lembut sisi kepalanya, kemudian ia tertegun dengan kedua mata memanas saat merasakan hatinya yang tiba-tiba bergetar saat menyentuh kepala Syifa.


Terlebih saat ia menatap lekat wajah Syifa yang sangat mirip dengan dirinya, mungkinkah Syifa benar-benar putrinya? batin Sultan.


Selama ini ia memang tak pernah peduli dengan kehadiran Syifa, bahkan tak sekalipun ia melihatnya, dan hari ini merupakan pertama kalinya ia melihat anak tersebut secara langsung.


Dulu, Sultan pikir memiliki anak adalah sesuatu yang merepotkan dan membuatnya kesal, namun saat melihat keceriaan dan binar mata bulat Syifa perlahan keegoisan itu mulai meredup berganti dengan keinginan lain.


*


*

__ADS_1


__ADS_2