PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Terlambat


__ADS_3

Suasana diruang tamu terasa mencekam saat Arjuna menghampiri kedua orang tuanya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Papa sama mama mau minum apa?" Zeela berbicara lantang mencoba untuk mencairkan suasana yang tidak mengenakan tersebut.


"Tidak usah repot-repot Zee." Arthur yang menyahut, sementara Dara hanya menunduk sembari meremas tangannya yang gemetar.


"Nggak repot kok pa, sebentar saya buatin dulu." lanjutnya dan bergegas kedapur ditemani bi Arum, dan tak lama ia kembali dengan membawa tiga cangkir teh hangat yang ia letakkan diatas meja.


"Diminum pa, ma!"


"Makasih ya Zee." lagi-lagi Arthur berbicara.


"Sama-sama pa, kalau begitu saya pamit kekamar ya, banyak tugas yang belum saya selesaikan soalnya."


Zeela yang paham suasana pun segera undur diri dan memilih masuk kamar.


Diruang tamu ketiga orang tersebut tampak saling diam dengan pikirannya masing-masing, terlebih Arjuna yang seperti biasanya ia akan terus diam jika tidak ditanya terlebih dahulu.


"Ar, bagaimana keadaan kamu?" Arthur membuka suara.


Arjuna tampak menghela, pemuda itu mengangkat bahu, "Seperti yang papa lihat, cukup baik kan?"


Mendengar jawaban itu Arthur hanya bisa men desah pelan, beginilah sikap putra keduanya benar-benar dingin seolah tak pernah tersentuh.


"Kita kesini karena mengkhawatirkan kamu dan juga Zeela."


Mendengar itu kedua mata Arjuna menyipit, "Sejak kapan? sejak kapan kalian merasa sepeduli ini, ckk.. sungguh lucu!"


"Ar, please! papa mohon, papa dan mama datang kesini dengan niat baik-baik, papa dan mama ingin agar hubungan kita seperti dulu lagi."

__ADS_1


"Memangnya hubungan kita dulu itu bagaimana?"


"Ar, papa tahu kamu kecewa kepada kami, pada papa dan juga mama, tapi kamu harus tahu satu hal bahwa sejak dulu, sekarang, dan selamanya kami akan selalu menyayangi kamu Ar."


"Oh iya?"


"Ar, papa dan mama sangat menyesalinya, seandainya waktu dapat diputar kembali, kami pasti akan melakukan apapun untuk kamu, asalkan hubungan baik dikeluarga kita selalu terjaga."


"Terlambat pa, apa papa nggak lihat kalau sekarang itu aku udah gede, aku udah punya istri udah nggak butuh apapun lagi." ucap Arjuna, seolah sedang mengeluarkan beban berat yang selama ini menghimpit dadanya.


"Ar, mama tahu mama salah! mama minta maaf.'' kali ini Dara yang berbicara terdengar sangat tulus, bahkan kedua matanya kini sudah memerah dan berkaca-kaca.


Arjuna melengos, dengan kedua tangan terkepal, mencoba untuk menahan amarah yang mungkin bisa meledak kapan saja.


"Aku nggak masalah soal itu, tapi aku minta satu hal sama kalian."


"Apa itu Ar?" tanya Arthur serius.


"Tapi Ar, bagaimana mungkin mama merawat seorang anak yang bahkan bukan cucu kandung mama, dia itu tidak jelas siapa ayahnya, dan kakak kamu hanya dijebak dia korban Ar."


Arjuna menyunggingkan senyum, "Sultan yang bilang?"


"I-iya."


"Terus mama percaya gitu aja, ckk..lupa! dia kan anak kesayangan."


"Ar_"


"Aku udah melakukan test DNA mereka ma, dan 99% hasilnya akurat, jadi menurut mama siapa yang berbohong?"

__ADS_1


"Itu tidak mungkin Ar."


"Sebentar." Arjuna beranjak dari sofa melangkah menuju kamarnya dan tak lama ia kembali membawa satu buah amplop coklat yang berisi selembar kertas putih, lalu menyerahkannya kehadapan Dara.


Dan setelah keduanya selesai melihat isi dari amplop tersebut keduanya sama-sama terdiam, dengan raut yang tampak kaget sekaligus tak percaya.


"Kenapa kamu tidak mengatakan ini sejak awal Ar." ujar Arthur lirih.


"Kenapa?" Arjuna balik bertanya dengan senyum kecut.


"Kalian lupa, kalau aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk bicara, dan lagi soal Syifa aku sudah berapa kali membawanya kesini, dan selalu kalian tolak!"


"Maaf! semua salah papa, papa terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai papa tidak sadar kalau keluarga papa sudah berantakan."


"Berikan alamatnya, besok pagi papa akan temui dia dirumahnya."


"Aku nggak tahu pa, sekarang udah terlambat atau belum, karena yang aku tahu sejak pertama kalian menolak kehadiran Syifa, kak Alya memutuskan untuk merawat Syifa seorang diri tanpa bantuan siapapun."


"Papa akan berusaha bujuk Alya dan meminta maaf atas nama Sultan."


Ditempat yang berbeda tepatnya disebuah apartemen yang cukup mewah, Sultan tampak termenung menatap jalanan malam melalui pintu kaca apartemennya.


Malam ini ia sudah menghabiskan beberapa batang rokok serta beberapa gelas alkohol berharap dapat mengurangi kegelisahan dihatinya, yang nyatanya tidak berhasil sama sekali.


Satu bulan benar-benar tidak cukup untuk melupakan sosok Zeela yang telah berhasil mengisi hatinya, justru semakin ia mengikhlaskan semakin sakit pula perasaannya.


Sultan memijat keningnya yang perlahan terasa berdenyut, akhir-akhir ini pikirannya semakin bertambah kacau saat ia dihantui mimpi buruk yang datang setiap malam dengan mimpi yang sama.


Mimpi dikejar dua orang anak kecil yang selalu mengatakan jika dirinya harus mati ditangan mereka.

__ADS_1


*


*


__ADS_2