
Senyum Sultan tak berhenti mengembang kala melihat Syifa yang tampak bahagia bermain bersama ibunya disebuah taman kota.
Ternyata bahagia itu sederhana, pikirnya.
Dengan melihat putrinya bahagia ia pun turut merasakan kebahagiaan itu, dan bodohnya dia yang baru menyadarinya sekarang.
Bagi Sultan kini cinta sudah tak lagi penting, selain Syifa dan Alya wanita yang sudah menjadi ibu dari anaknya.
Sultan sudah membulatkan tekad untuk berusaha membujuk Alya agar bersedia menikah dengannya, lalu mereka akan hidup dalam satu atap yang sama untuk mengurus putri mereka bersama-sama.
"Syifa?" panggilnya, yang membuat gadis kecil tersebut menoleh dan menghampiri dengan senyum ceria.
"Kenapa om, udah sore ya! om udah mau pulang?" tanya gadis itu membuat Sultan merasa gemas sendiri ketika melihatnya.
"Iya, kita pulang ya! kita mampir kerumah orang tua om, kenalan sama mereka, Syifa mau kan sayang?"
"Om katanya om kan kakaknya om Arjuna, berarti mama om sama mama om Arjuna itu sama, kan?"
"Iya betul sekali, kenapa memangnya?" tanya Sultan saat melihat putri kecilnya mengerucutkan bibir terlihat tak bersemangat seperti sebelumnya.
"Syifa kan udah pernah diajak kesana sama om Arjuna, terus mama om Arjuna marah-marah, ngusir syifa! katanya Syifa ini anak haram, memangnya anak haram itu apa om?" tanya Syifa dengan polosnya, membuat Sultan tertegun dengan perasaan yang mendadak sesak.
Pria itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Syifa, lalu memegangi kedua bahunya dengan lembut, "Sayang, kemarin itu Oma lagi banyak masalah, jadinya emosi nak! tapi sekarang udah nggak, malahan tadi mama om nyuruh om buat bawa Syifa kesana."
"Tapi om." ucapnya tampak ragu.
"Nggak usah takut, om janji kalau sampai mama om jahat om akan langsung melindungi Syifa, gimana?"
"Yaudah deh, tapi sama mama juga kan om?"
Sultan tersenyum melirik kearah Alya, "Iya dong, sama mama juga."
"Saya tidak perlu ikut." ucap Alya mengungkapkan ketidak setujuannya secara langsung.
"Alya please, jangan keras kepala." mohonnya sembari menghampiri wanita itu.
"Kita akan datang sama-sama."
"Tap_"
__ADS_1
"Ayolah Al, demi Syifa." pintanya dengan sedikit memaksa.
*
Angin berhembus kencang, membuat helaian demi helaian rambut Zeela kian bergoyang, gadis itu menoleh saat sepasang tangan memeluknya dari belakang.
"Ar, ihs." protesnya, saat sipemilik tangan yang tak lain adalah suaminya itu semakin mengencangkan pelukannya dan menciumi wajahnya dari samping.
"Dingin yang."
"Udah tahu dingin ngapain ikut-ikutan kesini." omelnya
"Sengaja." jawabnya santai sembari menelusupkan salah satu tangannya kedalam piyama yang dikenakan Zeela saat ini.
"Balik kekamar yuk yang."
"Ihs, kamu aja sana, aku masih mau disini."
"Ngapain dikamar sendirian."
"Ya terserah."
"Nggak ah nanti aja barengan."
"Ckk."
"Yang?"
"Hmmm."
"Pacaran yuk."
"Maksudnya?"
"Keluar jalan-jalan kencan gitu lho yang, masa nggak ngerti."
"Kemana."
"Kemanapun kamu mau."
__ADS_1
"Serius?" tanyanya antusias, dan reflek membalikkan badannya hingga hidung keduanya bersentuhan.
Cup..
Kesempatan yang tak mungkin disia-siakan oleh Arjuna, pemuda itu Melu mat lembut bibir istrinya dengan disertai gigitan kecil, lalu memagutnya lebih dalam dan lama.
"Rasanya masih sama." bisik Arjuna ketika tautan bibir mereka terlepas.
"S-sama apanya?" tanya Zeela dengan suara tergagap terlebih saat melihat tatapan mata Arjuna yang begitu dalam.
"Bibir kamu, rasanya manis."
Cup.
Ia membungkam kembali bibir Zeela sembari menggendongnya menuju tempat tidur.
"Kamu mau ngapain?" pekik Zeela saat melihat Arjuna menanggalkan pakaiannya dengan terburu-buru.
Pemuda itu mengulas senyum, menjatuhkan tubuhnya disamping Zeela.
"Lakuin sesuatu yang bikin gerah." bisiknya dengan nada sensual yang seketika membuat tubuh Zeela merinding.
"Tapi, hmmmp_"
Tak sempat protes, karena bibirnya kembali dibungkam oleh bibir Arjuna, dan akhirnya hanya bisa pasrah mendapatkan serangan demi serangan dari suaminya.
Terlebih saat Arjuna membenamkan miliknya dibawah sana.
"Arhhh_"
"Kamu milikku." ucapnya mulai meracau sembari bergerak penuh semangat.
"Ar, agh.."
"Sebentar lagi sayang." bisiknya saat Zeela mendorong dadanya agar menjauh ketika sudah mulai kelelahan karena Arjuna melakukannya berkali-kali.
"Ahhh!" Arjuna menjatuhkan tubuhnya sembari mendekap tubuh Zeela, lalu menciumi keningnya beberapa kali.
"I love you." bisiknya, lalu keduanya sama-sama tertidur dengan posisi saling berpelukan.
__ADS_1
*
*