PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Emosi Zeela


__ADS_3

Hari ini Zeela pulang terlambat bahkan hingga jam sembilan malam, karena harus menyelesaikan tugas kelompok yang diadakan dirumah Risya, karena rumah Risya paling dekat dengan sekolah.


Dengan menaiki jasa ojek online Zeela sampai dirumah mertuanya tepatnya hampir jam sepuluh malam, karena jarak sekolahnya dari rumah mertuanya memang cukup jauh.


Sebelum memasuki rumah ia melihat motor milik Arjuna yang berada didepan rumah, tidak disimpan di garasi seperti biasa.


Dan hal tersebut menandakan jika pemiliknya baru saja pulang.


Dengan langkah pelan, Zeela hendak memasuki rumah mewah itu, Namun langkahnya seketika terhenti saat mendengar suara Arjuna yang tengah berbicara dengan nada tinggi.


"Oke kalau mama masih nggak mau menganggap Syifa sebagai cucu mama, aku masih sanggup membiayai dia, tapi ingat! suatu saat jangan pernah mencarinya."


"Dia bukan cucu mama, dia cuma anak haram yang membawa banyak kesialan." suara Dara menyahut penuh amarah.


Sedangkan didepan pintu sana seketika tubuh Zeela melemas, gadis itu jatuh terduduk diatas lantai.


"Jadi benar?" gumamnya, dengan kedua tangan yang berusaha menggapai pintu mencoba berdiri kembali meski kedua tangannya ikut bergetar.


Ia tidak mencintai suaminya, begitupun sebaliknya, jadi ia akan merasa jadi wanita paling bodoh jika menangisinya seperti ini.


Dengan gerakan kasar ia mengusap air matanya, merapikan rambut, lalu menghela napas beberapa kali sebelum kemudian melanjutkan langkahnya memasuki rumah.


Disaat yang sama Arjuna keluar dengan Syifa yang berada dalam gendongannya, sempat bersitatap selama beberapa detik, setelahnya Arjuna keluar tanpa mengatakan sesuatu sepatah katapun.


"Zee, baru pulang?" Dara menyapanya ramah seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Iya ma, maaf ya ada tugas tadi dikerjainnya dirumah temen karena memang tugas kelompok."


"Yasudah tidak apa-apa, istirahat gih jangan lupa makan juga ya."


"Iya ma, Zeela pamit kekamar dulu ya."


"Iya sayang."


Sesampainya dikamar, Zeela menangis sejadi-jadinya, ia sendiri bingung entah apa yang ia tangisi.


*


Satu minggu berlalu, baik Sultan maupun Arjuna sama-sama tidak pulang, keduanya bagaikan hilang ditelan bumi, tak ada kabar sama sekali.


Namun Arthur dan Dara tampak tak peduli dengan hal itu, keduanya lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka, sementara Zeela sendiri tak mau ambil pusing, ia memutuskan untuk bermain bersama Amora setiap hari, walau hatinya tak bisa berbohong dengan keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aduh Zee, jangan terlalu dipikirin ya, apalagi sampai Lo tangisin, keenakan banget dia, Lo itu berharga Zee, seperti yang gue bilang Lo itu cantik, pinter, Lo nggak akan rugi jika kehilangan si brengsek itu." ucap Amora, yang saat ini tengah menemani Zeela berada dirumah orang tuanya.


Ya, siang ini Zeela memutuskan untuk menghabiskan waktunya dirumah orang tuanya, karena selain ia merindukan sang papa, ia juga merindukan suasana rumah tersebut yang sudah dua miinggu ini ia tinggalkan.


"Bukan masalah rugi atau nggaknya Mor, tapi ini masalah tentang komitmen, terutama perasaan bokap gue, dia bisa sedih kalau tahu, dan nggak menutup kemungkinan kalau diantara om Arthur sama papa bakalan ada pertengkaran kedepannya."


"Iya juga sih Zee, tapi Lo sendiri gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana."


"Maksud gue perasaan Lo ke si Arjuna gimana?"


"Ya biasa aja."


"Yakin Lo nggak punya perasaan yang spesial gitu buat dia Zee, secara dia ganteng sih, ini jujur ya kalau ngomongin soal fisik dia emang ganteng banget."


"CK, jadi ceritanya Lo naksir sama dia."


"Cie cemburu ya?"


"Dih apaan, nggak jelas tahu nggak sih."


"Bilang aja udah mulai suka sama suami, tapi nggak masalah sih Zee, kan udah halal."


"Eh bentar-bentar, nyokap gue telpon nih." ujar Amora yang langsung menghentikan tawanya, lalu bergegas menerima panggilan dari ibunya tersebut selama beberapa menit.


"Zee duh sorry banget ya, gue harus cabut nih! nyokap nyuruh jemput adek gue dirumah temennya, sekalian suruh nganterin barang kerumah nenek gue.''


"Yaudah pergi aja, gue juga udah mau pulang kerumah mertua gue kok."


"Cie mertua."


"Ckkk.. Mor ah."


"Yaudah gue duluan ya, Lo hati-hati disini!"


"Iya, Lo juga hati-hati."


"By Zee."


"By Amora."

__ADS_1


Setelah kepergian Amora, Zeela pun bersiap-siap untuk pulang namun kali ini ia memilih membawa motor matiknya, sempat mendapat tawaran dari sopir pribadi sang papa untuk diantarkan pulang, akan tetapi Zeela menolak dan bersikukuh membawa motornya.


*


Santai, bahkan sangat santai Zeela mengendarai motornya, hingga saat setengah perjalanan motornya tiba-tiba berhenti dengan sendirinya.


"Lho..lho.. kenapa ini? bensin aman kan?" tanyanya pada diri sendiri, kemudian ia bergegas turun setelah beberapa kali mencoba menyalakan motornya yang tak kunjung menyala.


"Duh.. ini apanya yang salah sih, mana bisa gue ngurusin yang beginian." gerutunya sembari mengacak rambut dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Ckkk bisa-bisanya low batt yaampun, sial banget sih gue hari ini, motor mogok, hape juga ikut mati, elahhh." Zeela terus menggerutu dengan wajah yang ditekuk.


Disaat ia sedang kalut tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat disampingnya lalu sipemilik motor tersebut bergegas turun dan menghampirinya.


"Kenapa motornya, mogok?" tanyanya dengan wajah datar tanpa ekspresi sembari mulai mengecek keadaan motor Zeela, sementara itu Zeela sendiri mendadak bisu saat mengetahui siapa yang datang saat ini.


"Motor Lo rusak, kebetulan gue nggak lagi bawa alat yang komplit buat benerinnya, jadi gue saranin Lo bawa ke pihak ahlinya aja." ia memberi saran.


Zeela mengangguk saja, seperti tak berniat membalas apapun yang dikatakan pemuda dihadapannya dia yang tak lain adalah Arjuna suaminya sendiri.


"Lagian ngapain sih Lo gayaan bawa motor segala, naik taxi kan bisa, ngerti nggak sih kalau Lo itu cewek, dan cewek keluar sendiri itu bahaya." gerutu Arjuna, yang tiba-tiba memantik perasaan Zeela menjadi emosi, terlebih saat mengingat kepulangan Arjuna yang membawa seorang anak kecil.


"Apa pedulinya Lo sih, mau gue begini mau gue begitu Lo nggak ada hak buat ngelarang, sama seperti gue yang nggak pernah ngelarang Lo ngelakuin hal sesuka Lo." ujar Zeela dengan menggebu, bahkan napasnya terlihat naik turun menandakan betapa tingginya emosi yang ia rasakan saat ini.


"Zee, Lo harus ingat satu hal, gue masih suami Lo kalau Lo lupa, jadi bisa ngehormatin gue sedikit kan?."


Zeela mendesis, "Oh iya suami, tapi cuma status doang kan?"


"Zee_"


"Minggir Lo, jauh-jauh dari gue." mendorong dada Arjuna cukup keras, hingga membuat tubuhnya sedikit bergeser kebelakang, buru-buru ia menatap jalanan, berharap jika tiba-tiba ada taxi yang lewat dan membawanya jauh dari hadapan Arjuna.


"Apaan sih?" pekiknya, saat Arjuna mencekal lengannya dengan tiba-tiba.


"Ikut gue, gue antar pulang."


"Nggak perlu."


"Please, ini dipinggir jalan Zee, Lo nggak usah deh ngajak gue ribut terus."


*

__ADS_1


*


__ADS_2